Para Ekonom Proyeksikan BI Rate Bakal Naik Imbas Rupiah Melemah
()
18:24
15 Mei 2026

Para Ekonom Proyeksikan BI Rate Bakal Naik Imbas Rupiah Melemah

Sejumlah ekonom mulai melihat peluang kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI rate) semakin terbuka.

Peluang itu muncul saat nilai tukar rupiah terus melemah dan mencetak level terendah baru dalam beberapa pekan terakhir.

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai ruang pemangkasan BI rate saat ini semakin terbatas. Bank Indonesia (BI) kini lebih fokus menjaga stabilitas rupiah.

BI juga dinilai tidak ragu memakai kebijakan selain suku bunga acuan untuk menjaga nilai tukar. Instrumen tersebut mencakup intervensi pasar keuangan, Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), Non Deliverable Forward (NDF), serta operasi moneter.

"Ruang pemangkasan suku bunga semakin terbatas. Karena fokus utama kebijakan moneter saat ini adalah menjaga stabilitas nilai tukar," ujar Josua saat media briefing PIER Economic Review, Selasa (12/5/2026).

Baca juga: Data Inflasi AS Jadi Penentu Suku Bunga The Fed, Rupiah Terdesak

Head of Macroeconomics and Market Research Bank Permata, Faisal Rachman, menilai peluang kenaikan BI rate sebesar 25 basis poin menjadi 5 persen pada semester I 2026 semakin besar.

Bank Permata merevisi proyeksi tersebut karena risiko eksternal meningkat. Pelemahan rupiah yang kini sudah melampaui 4 persen juga menjadi faktor utama.

"Karena biasanya kalau kita lihat secara historikal, biasanya BI itu kalau sudah rupiah melemah 3 persen ke atas, itu sudah ada potensi bisa kenaikan," ungkapnya.

Faisal memperkirakan kenaikan BI rate terjadi pada Mei atau Juni 2026.

Artinya, BI berpotensi menaikkan suku bunga acuan dalam waktu dekat. BI rate terus dipertahankan di level 4,75 persen sejak September 2025.

Pelemahan rupiah bukan satu-satunya sinyal. Kenaikan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) juga dinilai menunjukkan bank sentral mulai memperketat kebijakan secara bertahap.

"Jadi ini kita memang perlu antisipasi. Tetapi memang risiko tadi itu ada dan kami melihat memang peluang BI untuk menaikkan suku bunga acuan ke 5 persen itu terbuka ya saat ini," ucap Faisal.

Baca juga: Bank Mandiri Perkirakan The Fed Tahan Suku Bunga hingga 2027, Bagaimana Dengan BI Rate?

Ekonom Senior DBS untuk kawasan Uni Eropa, India, dan Indonesia, Radhika Rao, juga melihat BI mulai menunjukkan sikap lebih hawkish, meski masih mempertahankan suku bunga pada April 2026.

Radhika menyebut dua prasyarat yang akan mendorong BI beralih ke pengetatan moneter.

Pertama, tekanan depresiasi rupiah yang semakin tajam.

Kedua, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi di dalam negeri. Kenaikan harga BBM bersubsidi berisiko memicu tekanan inflasi secara langsung maupun tidak langsung hingga melampaui target BI.

DBS masih melihat peluang kenaikan harga BBM relatif kecil tahun ini. Akan tetapi, penutupan Selat Hormuz dinilai bisa meningkatkan tekanan harga energi global dan berdampak pada inflasi domestik.

"Skenario dasar kami adalah BI akan tetap stabil pada kuartal ini tetapi melihat kemungkinan yang meningkat untuk kenaikan bertahap guna mempertahankan mata uang pada kuartal kedua," ucap Radhika dalam laporan berjudul Indonesia Growth: Firm Start, Speed Bump Ahead, dikutip Jumat (15/5/2026).

Radhika juga menyoroti depresiasi rupiah yang semakin menjadi perhatian BI. Tekanan itu muncul saat cadangan devisa mulai menunjukkan tren moderasi dalam beberapa bulan terakhir.

Rupiah yang menembus level Rp 17.400 per dolar Amerika Serikat (AS) pada awal Mei 2026 terjadi karena kombinasi sejumlah faktor.

Faktor tersebut mencakup penguatan dolar AS, kenaikan harga minyak dunia, serta faktor musiman seperti repatriasi dana.

Imbal hasil instrumen SRBI juga terus meningkat untuk menarik lebih banyak aliran dana asing ke pasar domestik.

Kenaikan return SRBI membuat selisihnya dengan BI rate dan imbal hasil obligasi jangka pendek semakin lebar.

Kondisi tersebut menunjukkan BI mulai memperketat kebijakan moneter secara tidak langsung, meski belum menaikkan BI rate secara resmi.

"Kami melihat peningkatan ini sebagai langkah terselubung untuk menaikkan suku bunga guna menarik arus yang sensitif terhadap suku bunga," tuturnya.

Tag:  #para #ekonom #proyeksikan #rate #bakal #naik #imbas #rupiah #melemah

KOMENTAR