HIMKI: Indonesia Merdeka Lebih Dulu, Tapi China Lebih Cepat Bangun Industri Modern
Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), Abdul Sobur(KOMPAS.COM /KIKI SAFITRI)
16:16
16 Mei 2026

HIMKI: Indonesia Merdeka Lebih Dulu, Tapi China Lebih Cepat Bangun Industri Modern

- Indonesia merdeka lebih dulu dibandingkan China, tetapi Negeri Tirai Bambu itu mampu bergerak lebih cepat dalam membangun kekuatan industri modern berbasis teknologi dan disiplin produksi.

Hal itu disampaikan Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Abdul Sobur yang menyoroti pesatnya perkembangan industri manufaktur China, setelah mengunjungi kawasan industri furnitur dan woodworking machinery di Qingdao, Provinsi Shandong.

Dalam kunjungannya, Sobur mengikuti pameran furnitur dan woodworking machinery sekaligus mengunjungi langsung pabrik manufaktur mesin woodworking kelas premium.

Di lokasi tersebut, ia menyaksikan bagaimana mesin-mesin sanding dan finishing berteknologi tinggi diproduksi dengan presisi tinggi.

Baca juga: Pengusaha China Protes ke Prabowo, Apindo: Dunia Usaha Lokal Rasakan Hal Serupa

Salah satu yang menarik perhatian adalah lini mesin finishing high gloss dan piano finis yang biasa digunakan pada produk-produk premium dunia.

“Di lokasi pabrik, saya menyaksikan bagaimana mesin-mesin sanding dan finishing berteknologi tinggi diproduksi dengan presisi yang luar biasa. Salah satu yang menarik perhatian adalah lini mesin untuk finishing high gloss dan piano finis, kualitas permukaan yang biasa digunakan pada produk premium dunia,” ujar Sobur lewat keterangan pers, Jumat (15/5/2026).

Menurut dia, Indonesia merdeka pada 1945, sedangkan China baru benar-benar berdiri sebagai Republik Rakyat Tiongkok pada 1949.

Namun setelah melihat langsung perkembangan industri di Qingdao, ia menilai kemerdekaan politik ternyata tidak otomatis melahirkan kemerdekaan industri.

“Namun hari ini, setelah melihat langsung kawasan industri di Qingdao, saya memahami bahwa kemerdekaan politik ternyata tidak otomatis melahirkan kemerdekaan industri,” tukasnya.

China sejak lama memahami bahwa kekuatan bangsa modern dibangun melalui penguasaan industri, teknologi, dan disiplin produksi.

Hal tersebut terlihat dari ekosistem industri yang berkembang di Qingdao.

Sobur mencatat ekosistem tersebut terlihat dari kawasan manufaktur yang hidup, supply chain yang terintegrasi, pendidikan teknik yang mendukung kebutuhan industri, keberanian investasi teknologi, hingga budaya kerja yang fokus terhadap efisiensi dan kualitas.

Mesin-mesin woodworking yang diproduksi di Qingdao bukan hanya alat produksi, tetapi simbol keseriusan sebuah bangsa membangun nilai tambah industri.

Di sisi lain, Sobur menilai Indonesia memiliki kekuatan berbeda yang tidak kalah besar, yakni kreativitas, seni, desain, dan inovasi.

Ia mencontohkan Bandung sebagai salah satu kota dengan banyak talenta kreatif, perajin, dan desainer berbakat serta kekayaan budaya yang besar.

“Di Indonesia, khususnya di Bandung, saya melihat sesuatu yang berbeda namun sama berharganya: kreativitas, seni, desain, dan jiwa inovasi. Kita memiliki banyak talenta kreatif, perajin hebat, desainer berbakat, dan kekayaan budaya yang luar biasa,” kata dia.

Meski demikian, Sobur mengingatkan kreativitas tanpa industrialisasi akan sulit berkembang menjadi kekuatan ekonomi dunia.

Sebaliknya, industrialisasi tanpa kreativitas hanya akan menghasilkan produk massal tanpa karakter.

Karena itu masa depan Indonesia seharusnya tidak memilih salah satu di antara kreativitas atau industrialisasi, melainkan mempertemukan keduanya dalam satu kekuatan baru.

Ia membayangkan Bandung dan berbagai kota kreatif di Indonesia ke depan tidak hanya dikenal sebagai tempat lahirnya ide-ide kreatif, tetapi juga menjadi pusat produksi kreatif modern berbasis teknologi, desain, dan manufaktur kelas dunia.

“Bila kreativitas Indonesia dipertemukan dengan keberanian industrialisasi dan konsistensi kebijakan, maka Indonesia tidak hanya bisa menjadi pasar dunia, tetapi juga menjadi salah satu pusat produksi kreatif dunia di masa depan,” lanjutnya.

Baca juga: Purbaya soal Keluhan Pengusaha China ke Prabowo: Kalau Legal, Enggak Perlu Takut

Tag:  #himki #indonesia #merdeka #lebih #dulu #tapi #china #lebih #cepat #bangun #industri #modern

KOMENTAR