Mengenal Istilah Pick Me, Sering Dipakai di Media Sosial
Istilah pick me belakangan kerap berseliweran di media sosial seperti TikTok dan X (Twitter).
Biasanya, sebutan ini disematkan pada seseorang yang dianggap terlalu berusaha menarik perhatian atau ingin terlihat “berbeda” demi mendapat pengakuan dari orang lain.
Fenomena ini bukan sekadar tren bahasa gaul, tetapi juga bisa dibahas dari sudut pandang psikologi.
Psikolog Universitas Airlangga (UNAIR) Dr. Ike Herdiana, M.Psi., Psikolog menyebut, perilaku pick me dapat berkaitan dengan kebutuhan validasi sosial dan rasa tidak aman (insecurity) yang dimiliki seseorang.
"Mereka umumnya menginginkan kehidupan sosial, namun lewat cara yang tidak sehat, yakni dengan sengaja merendahkan orang lain. Termasuk pula keinginan berkompetisi untuk mendapatkan kebutuhan-kebutuhan itu,” jelasnya dikutip dari laman UNAIR, Jumat (20/2/2026).
Lalu, apa sebenarnya arti pick me dan bagaimana mengenalinya?
Baca juga: Ramai Disebut “Pick Me”, Apa Arti Istilah yang Dikaitkan ke Prilly Latuconsina?
Apa Itu Pick Me?
Secara umum, pick me adalah istilah untuk menggambarkan seseorang yang berusaha keras agar dipilih, disukai, atau diterima oleh kelompok tertentu.
Dalam praktiknya, sikap ini sering terlihat sebagai upaya mencari perhatian dengan cara merendahkan orang lain atau menonjolkan diri secara berlebihan.
Di media sosial, istilah ini kerap digunakan secara satir atau sindiran.
Pick Me Artinya Apa?
Pengertian Pick Me dalam Bahasa Gaul
Dalam bahasa gaul, pick me berarti “pilih aku.” Istilah ini merujuk pada perilaku seseorang yang ingin dianggap paling berbeda, paling tidak merepotkan, atau paling unggul dibandingkan orang lain agar mendapatkan perhatian.
Contohnya, seseorang yang mengatakan, “Aku beda sama yang lain, aku nggak suka drama,” sambil menyindir kelompok tertentu agar terlihat lebih menonjol.
Asal Istilah Pick Me
Istilah pick me awalnya populer dari budaya internet Barat, terutama dalam diskusi tentang pick me girl. Sebutan ini merujuk pada perempuan yang berusaha mendapatkan validasi dari laki-laki dengan cara merendahkan perempuan lain atau menampilkan diri sebagai “tidak seperti kebanyakan perempuan.”
Namun, seiring waktu, istilah ini berkembang dan digunakan lebih luas, tidak terbatas pada gender tertentu.
Baca juga: Apa Itu SEAblings? Ini Asal-usul Istilah yang Ramai di Media Sosial
Apa itu pick me yang sering viral di media sosial? Simak arti, ciri-ciri, dan penjelasannya dari sudut pandang psikologi.
Ciri-Ciri Seseorang yang Pick Me
Berikut beberapa ciri yang sering dikaitkan dengan perilaku pick me:
Berusaha Terlihat Berbeda dari Orang Lain
Seseorang yang pick me kerap menekankan bahwa dirinya berbeda dari kelompoknya. Misalnya, dengan mengatakan bahwa ia “tidak seperti perempuan lain” atau “tidak seperti kebanyakan orang.”
Perbedaan ini sering kali dibangun dengan membandingkan diri secara negatif terhadap kelompok tertentu.
Mencari Validasi atau Pengakuan
Salah satu ciri utama adalah kebutuhan kuat akan pengakuan. Individu dengan perilaku ini cenderung merasa puas ketika mendapat respons seperti pujian, perhatian, atau persetujuan.
Dalam konteks psikologi, kebutuhan validasi sosial merupakan hal yang wajar. Namun, jika dilakukan secara berlebihan dan merugikan orang lain, hal itu bisa menjadi masalah.
Baca juga: Istilah Gen Alpha yang Menang Oxford Word of the Year, Terbaru ‘Rage Bait’
Merendahkan Kelompok Tertentu
Tidak jarang, sikap pick me muncul dengan cara meremehkan kelompok tertentu agar dirinya tampak lebih unggul.
Misalnya, menyebut kelompok lain “terlalu drama” atau “terlalu ribet” demi membangun citra diri yang lebih baik.
Perilaku ini dapat menciptakan stereotip dan memperkuat stigma.
Ingin Selalu Menjadi Pusat Perhatian
Orang dengan kecenderungan pick me biasanya merasa tidak nyaman jika tidak menjadi sorotan. Ia mungkin akan membuat pernyataan kontroversial atau berbeda agar tetap diperhatikan.
Contoh Pick Me dalam Kehidupan Sehari-hari
Contoh Pick Me di Media Sosial
Di media sosial, contoh pick me bisa berupa unggahan seperti:
- “Aku sih nggak pernah minta dibelikan apa-apa, beda sama yang lain.”
- “Aku lebih nyaman temenan sama cowok, cewek kebanyakan drama.”
- Ungkapan tersebut sering dianggap sebagai upaya mencari validasi dengan membandingkan diri secara tidak sehat.
Contoh Pick Me dalam Percakapan
Dalam percakapan sehari-hari, perilaku ini bisa muncul saat seseorang terus-menerus menonjolkan dirinya:
- “Kalau aku sih nggak kayak gitu.”
- “Aku mah paling santai dibanding kalian.”
- Kalimat tersebut mungkin terdengar biasa, tetapi jika diucapkan berulang dengan nada meremehkan, bisa mengarah pada sikap pick me.
Contoh Pick Me di Lingkungan Pertemanan
Di lingkungan pertemanan, seseorang mungkin berusaha menjadi “yang paling berbeda” agar lebih disukai kelompok tertentu, misalnya dengan selalu mengikuti opini mayoritas meski bertentangan dengan pendapat pribadi.
Baca juga: Istilah Aura Farming Masuk Nominasi Oxford Word of the Year, Rage Bait Pemenangnya
Apakah Pick Me Selalu Bersifat Negatif?
Istilah pick me sering digunakan sebagai label negatif. Namun, penting untuk memahami bahwa di balik perilaku tersebut, bisa saja ada faktor psikologis yang lebih dalam.
Hubungannya dengan Rasa Insecure
Dr. Ike menjelaskan, perilaku seperti ini dapat berkaitan dengan rasa tidak aman (insecurity). Seseorang mungkin merasa kurang percaya diri sehingga berusaha keras mencari penerimaan.
Dalam kondisi tertentu, kebutuhan ini muncul karena pengalaman masa lalu, tekanan sosial, atau standar sosial yang tinggi.
Kebutuhan Akan Validasi Sosial
Sebagai makhluk sosial, manusia memang memiliki kebutuhan untuk diterima dan dihargai.
Validasi sosial membantu membangun rasa percaya diri dan identitas diri.
Masalah muncul ketika kebutuhan tersebut dipenuhi dengan cara merugikan orang lain, seperti menjatuhkan kelompok tertentu atau memaksakan diri agar selalu disukai.
Perbedaan Pick Me dan Percaya Diri
Sekilas, perilaku pick me mungkin terlihat seperti percaya diri. Namun, keduanya berbeda.
Orang yang percaya diri tidak perlu merendahkan orang lain untuk merasa unggul. Ia mampu menerima kelebihan dan kekurangan dirinya tanpa harus membandingkan diri secara berlebihan.
Sebaliknya, sikap pick me sering kali dibangun di atas perbandingan dan kebutuhan akan pengakuan eksternal. Kepercayaan diri yang sehat bersumber dari penerimaan diri, bukan dari validasi orang lain semata.
FAQ Seputar Istilah Pick Me
Apakah pick me hanya untuk perempuan?
Tidak. Meski istilah pick me girl lebih dulu populer, perilaku pick me bisa dilakukan oleh siapa saja, tanpa memandang gender.
Apakah sikap pick me bisa berubah?
Bisa. Dengan meningkatkan kesadaran diri dan membangun rasa percaya diri yang sehat, seseorang dapat mengurangi kebutuhan validasi berlebihan. Dukungan lingkungan yang positif juga berperan penting.
Apakah pick me termasuk sifat toxic?
Tidak selalu. Perilaku ini bisa menjadi tidak sehat jika dilakukan secara ekstrem dan merugikan orang lain.
Namun, jika dipahami sebagai sinyal adanya rasa tidak aman, pendekatan yang lebih empatik justru dibutuhkan. Jika sudah menggaggu sebaiknya segera cari bantuan psikolog.
“Mereka akan semakin tidak realistis dengan tindakan-tindakannya. Hal itu akan membuat individu tidak mampu mengontrol emosi hingga timbul ketidaknyamanan secara psikologis,” jelas Dr. Ike.
Istilah pick me mencerminkan dinamika sosial yang berkembang di era digital.
Alih-alih sekadar memberi label, penting untuk memahami konteks dan latar belakang psikologis di balik perilaku tersebut. Dengan begitu, kita bisa membangun ruang sosial yang lebih sehat dan saling menghargai.
Tag: #mengenal #istilah #pick #sering #dipakai #media #sosial