Pertumbuhan Ekonomi Jepang Melemah di Akhir 2025, Konsumsi Masih Tertekan
Ekonomi Jepang kembali tumbuh pada kuartal IV 2025 setelah mengalami kontraksi pada kuartal sebelumnya.
Namun, laju pertumbuhan ekonomi Jepang tersebut masih jauh di bawah ekspektasi pasar, mencerminkan pemulihan yang rapuh di tengah lemahnya konsumsi rumah tangga, investasi yang belum optimal, serta tekanan eksternal dari perdagangan global.
Data awal pemerintah Jepang menunjukkan produk domestik bruto (PDB) riil negara itu meningkat tipis sebesar 0,1 persen secara kuartalan pada periode Oktober hingga Desember 2025, berbalik dari kontraksi 0,7 persen pada kuartal sebelumnya.
Baca juga: Yen Menguat Usai Kemenangan Takaichi, Pasar Cermati Arah Fiskal Jepang
Ilustrasi Jepang. Jepang Setujui Paket Stimulus Rp 2.267 Triliun, Warga Bisa Terima Subsidi Listrik, Beras, dan Uang Rp 2,1 Juta
Namun, angka ini masih jauh di bawah perkiraan pasar yang memperkirakan pertumbuhan sekitar 0,4 persen.
Dikutip dari Reuters, Senin (16/2/2026), dalam basis tahunan yang disesuaikan, pertumbuhan ekonomi Jepang hanya mencapai 0,2 persen, jauh di bawah perkiraan ekonom sebesar 1,6 persen.
Kinerja ini menegaskan bahwa momentum pemulihan ekonomi Jepang masih lemah meskipun secara teknis telah keluar dari kontraksi.
Konsumsi rumah tangga tetap menjadi titik lemah
Konsumsi rumah tangga, yang merupakan komponen terbesar dalam struktur ekonomi Jepang, menunjukkan pertumbuhan yang sangat terbatas.
Baca juga: Investor Jepang Masih Nilai Indonesia Tujuan Strategis, Meski Investasi Turun
Pada kuartal IV 2025, konsumsi swasta hanya meningkat 0,1 persen, menjadi salah satu laju pertumbuhan terendah dalam setahun terakhir.
Lemahnya konsumsi tersebut terutama dipengaruhi oleh inflasi yang masih membebani daya beli masyarakat, terutama kenaikan harga pangan dan biaya hidup lainnya.
Reuters mencatat konsumsi swasta naik hanya 0,1 persen, tertahan inflasi pangan yang persisten.
Ilustrasi Jepang, Jepang Catat Rekor Hampir 100.000 Orang Berusia Lebih dari 100 Tahun
Kondisi ini memperlihatkan tantangan utama ekonomi Jepang, yakni memastikan pemulihan konsumsi domestik yang berkelanjutan.
Baca juga: Rekor Baru, Jumlah Pekerja Asing di Jepang 2,57 Juta Orang pada 2025
Sebagai negara dengan populasi yang menua dan pertumbuhan upah yang terbatas, permintaan domestik sering kali menjadi faktor penentu stabilitas pertumbuhan jangka panjang.
Dalam beberapa tahun terakhir, inflasi Jepang yang sebelumnya rendah mulai meningkat, sebagian dipicu oleh kenaikan harga energi dan pangan global, serta pelemahan yen yang meningkatkan biaya impor.
Investasi bisnis pulih, tetapi masih di bawah ekspektasi
Di sisi lain, investasi bisnis menunjukkan pemulihan moderat setelah mengalami penurunan pada kuartal sebelumnya.
Belanja modal perusahaan meningkat sekitar 0,2 persen pada kuartal IV 2025, berbalik dari kontraksi sebelumnya.
Baca juga: Ekspor Pertanian Jepang 2025 Rp 176,8 Triliun, Rekor 13 Tahun Beruntun
Namun, angka ini masih lebih rendah dari ekspektasi pasar dan belum cukup kuat untuk menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi.
Reuters mencatat, investasi korporasi hanya sedikit pulih setelah sebelumnya melemah, mencerminkan sikap hati-hati perusahaan dalam melakukan ekspansi di tengah ketidakpastian global dan domestik.
Investasi perusahaan di Jepang sangat dipengaruhi oleh prospek permintaan global, khususnya dari Amerika Serikat (AS) dan China, yang merupakan mitra dagang utama negara tersebut.
Ketidakpastian terkait tarif perdagangan dan perlambatan ekonomi global membuat perusahaan cenderung menunda ekspansi besar.
Baca juga: China Batalkan Seluruh Penerbangan ke Jepang Jelang Imlek
Perdagangan luar negeri tidak memberikan kontribusi
Kontribusi sektor eksternal terhadap pertumbuhan ekonomi Jepang pada kuartal IV 2025 juga sangat terbatas.
Ilustrasi ekspor.
Ekspor dan impor sama-sama mengalami penurunan, sehingga perdagangan luar negeri tidak memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.
Hal ini menunjukkan, sektor ekspor, yang selama ini menjadi salah satu pilar utama ekonomi Jepang, masih menghadapi tantangan dari perlambatan permintaan global serta ketegangan perdagangan.
Menurut Reuters, dampak tarif impor AS terhadap barang Jepang masih terasa, meskipun tekanan tersebut mulai mereda dibandingkan periode sebelumnya.
Baca juga: Jepang Jajaki Peluang Investasi di Indonesia, Nilai Iklim Usaha 2026 Lebih Kondusif
Pada kuartal sebelumnya, tarif tersebut telah memberikan tekanan signifikan terhadap ekspor Jepang, yang turut berkontribusi pada kontraksi ekonomi.
Pemulihan setelah kontraksi pada kuartal sebelumnya
Pertumbuhan tipis pada kuartal IV 2025 terjadi setelah ekonomi Jepang mengalami kontraksi signifikan pada kuartal III 2025.
Pada periode tersebut, PDB riil Jepang turun sekitar 0,6 persen secara kuartalan, mencerminkan melemahnya konsumsi, investasi, dan ekspor.
Penurunan tersebut menandai salah satu kontraksi terbesar dalam dua tahun terakhir, dan memperlihatkan kerentanan ekonomi Jepang terhadap tekanan eksternal dan domestik.
Namun, pertumbuhan tipis pada kuartal IV 2025 menunjukkan ekonomi Jepang telah berhasil keluar dari fase kontraksi, meskipun pemulihannya masih sangat terbatas.
Baca juga: Ekspor Tuna Indonesia ke Jepang Bebas Tarif, Ini Syaratnya
Tantangan inflasi dan daya beli
Inflasi menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi dinamika ekonomi Jepang dalam beberapa tahun terakhir.
Kenaikan harga pangan, energi, dan barang impor telah mengurangi daya beli konsumen, yang pada gilirannya menekan konsumsi rumah tangga.
Ilustrasi Himeji Castle atau Kastel Himeji di Hyogo, Jepang.
Inflasi yang tinggi juga memengaruhi kebijakan moneter Bank of Japan (BOJ), yang selama bertahun-tahun mempertahankan kebijakan suku bunga ultra-rendah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
Namun, dengan meningkatnya inflasi, bank sentral Jepang mulai melakukan normalisasi kebijakan secara bertahap.
Baca juga: China Perketat Ekspor Barang ke Jepang untuk Kepentingan Militer
Reuters mencatat, BOJ tetap optimistis terhadap prospek ekonomi, meskipun pertumbuhan masih lemah, dan terus melanjutkan proses normalisasi kebijakan moneternya.
Kebijakan fiskal menjadi kunci pemulihan
Selain kebijakan moneter, pemerintah Jepang juga berupaya mendorong pertumbuhan ekonomi melalui kebijakan fiskal.
Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi berencana meningkatkan belanja pemerintah secara terarah untuk memperkuat ketahanan ekonomi dan keamanan ekonomi nasional.
Langkah ini mencerminkan peran penting stimulus fiskal dalam mendukung pertumbuhan ekonomi Jepang, terutama di tengah lemahnya konsumsi domestik dan ketidakpastian global.
Baca juga: India Geser Jepang, Kini Jadi Ekonomi Terbesar Keempat di Dunia
Pemerintah Jepang juga berupaya meningkatkan investasi publik, termasuk di sektor infrastruktur dan teknologi, untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing ekonomi.
Prospek pertumbuhan ekonomi Jepang
Meskipun pertumbuhan ekonomi Jepang pada kuartal IV 2025 lebih rendah dari ekspektasi, sejumlah indikator menunjukkan ekonomi negara tersebut masih berada dalam jalur pemulihan bertahap.
Survei Japan Center for Economic Research memperkirakan ekonomi Jepang akan terus tumbuh secara bertahap pada 2026, dengan proyeksi pertumbuhan tahunan sebesar 1,04 persen pada kuartal I dan 1,12 persen pada kuartal II.
Namun, prospek ini tetap bergantung pada sejumlah faktor, termasuk:
- Pemulihan konsumsi domestik
- Stabilitas inflasi dan daya beli masyarakat
- Perkembangan perdagangan global
- Kebijakan fiskal dan moneter pemerintah
Baca juga: Bank Sentral Jepang Siap Naikkan Suku Bunga ke Level Tertinggi dalam 30 Tahun
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi.
Selain itu, ketegangan perdagangan global dan perlambatan ekonomi mitra dagang utama seperti China dan AS juga dapat memengaruhi prospek pertumbuhan ekonomi Jepang.
Struktur ekonomi Jepang dan tantangan jangka panjang
Sebagai salah satu ekonomi terbesar di dunia, Jepang memiliki struktur ekonomi yang sangat maju dan kompleks.
Menurut Trading Economics, Jepang merupakan ekonomi industri dengan sektor manufaktur dan ekspor yang sangat kuat, khususnya di bidang otomotif, elektronik, dan mesin industri.
Namun, negara ini juga menghadapi tantangan struktural, termasuk populasi yang menua dan pertumbuhan produktivitas yang relatif rendah di beberapa sektor.
Baca juga: MUFG dan Danantara Dorong Kolaborasi Investasi Jepang–Indonesia
Populasi yang menua mengurangi jumlah tenaga kerja dan meningkatkan tekanan terhadap sistem sosial dan ekonomi.
Hal ini juga memengaruhi pola konsumsi dan investasi, yang pada akhirnya berdampak pada pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
Selain itu, pertumbuhan upah yang lambat juga menjadi tantangan dalam meningkatkan konsumsi domestik, yang merupakan komponen utama ekonomi Jepang.
Dampak terhadap pasar keuangan dan kebijakan ekonomi
Data pertumbuhan ekonomi Jepang yang lemah pada kuartal IV 2025 juga memengaruhi sentimen pasar keuangan.
Baca juga: Potensi Dampak Lesunya Ekonomi Jepang bagi Indonesia
Reuters melaporkan, data ekonomi yang mengecewakan tersebut menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor mengenai kekuatan pemulihan ekonomi Jepang dan memperkuat ekspektasi bahwa pemerintah akan meningkatkan stimulus fiskal.
Pada saat yang sama, Bank of Japan menghadapi tantangan dalam menyeimbangkan antara pengendalian inflasi dan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi.
Jika inflasi tetap tinggi sementara pertumbuhan ekonomi lemah, bank sentral harus berhati-hati dalam menyesuaikan kebijakan moneternya agar tidak memperlambat pemulihan ekonomi.
Peran investasi dan konsumsi dalam pemulihan ekonomi
Ke depan, pertumbuhan ekonomi Jepang akan sangat bergantung pada dua faktor utama: investasi bisnis dan konsumsi rumah tangga.
Baca juga: Wafer dan Biskuit Indonesia Tembus Pasar Jepang
Investasi bisnis penting untuk meningkatkan kapasitas produksi dan produktivitas, sementara konsumsi rumah tangga merupakan komponen terbesar dalam struktur PDB Jepang.
Namun, dengan konsumsi yang masih lemah dan investasi yang belum sepenuhnya pulih, pemulihan ekonomi Jepang diperkirakan akan berlangsung secara bertahap.
Hal ini mencerminkan tantangan struktural yang dihadapi ekonomi Jepang, serta pentingnya kebijakan fiskal dan moneter yang tepat untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang.
Tag: #pertumbuhan #ekonomi #jepang #melemah #akhir #2025 #konsumsi #masih #tertekan