Melihat Sisi Gelap Kapal Tanker Minyak yang Ditinggalkan
- Angin laut berembus pelan di geladak kapal tanker yang terombang-ambing di perairan internasional, jauh dari pelabuhan mana pun. Di atas kapal itu, waktu terasa berjalan lebih lambat.
Persediaan makanan menipis, gaji tak kunjung dibayar, dan ketidakpastian menjadi teman sehari-hari para awak. Bagi mereka, lautan bukan lagi ruang petualangan, melainkan ruang tunggu tanpa kepastian.
Ivan (nama samaran) menceritakan, dalam bayang-bayang perdagangan minyak global dan sanksi internasional, ratusan kapal tanker terjebak dalam situasi sulit.
Ia bersama beberapa rekannya, ditinggalkan oleh pemberi kerjanya, berlayar di bawah bendera negara yang nyaris tak mengawasi, dan membawa awak yang harus bertahan hidup dari hari ke hari.
Ivan mengatakan bahwa dalam setahun terakhir, terjadi lonjakan besar jumlah kapal tanker minyak dan kapal komersial lain yang ditinggalkan pemiliknya di berbagai belahan dunia.
Baca juga: Jepang Bebaskan Kapten Kapal China Usai Dapat Jaminan Beijing
Apa yang memicu peningkatan ini? Dan bagaimana dampaknya terhadap para pelaut niaga yang terdampak?
Mengutip BBC, Ivan yang merupakan perwira dek senior mengatakan bahwa kapal - kapal tanker minyak itu terlantar di luar perairan teritorial China.
“Kami kekurangan daging, biji-bijian, ikan, hal-hal sederhana untuk bertahan hidup,” ujar perwira asal Rusia itu.
“Ini memengaruhi kesehatan kami dan suasana kerja di kapal. Awaknya kelaparan, awaknya marah, dan kami hanya bisa bertahan dari hari ke hari,” tambah dia.
Ivan mengatakan, kapal yang tempat ia bekerja memuat hampir 750.000 barrel minyak mentah Rusia dengan nilai nominal sekitar 50 juta dollar AS (37 juta pound sterling) yang setara dengan Rp 841,8 miliar (kurs Rp 16.836 per dollar AS). Kapal itu berlayar dari Timur Jauh Rusia menuju China pada awal November 2025.
Menurut organisasi serikat buruh global International Transport Workers’ Federation (ITF), pada Desember 2025 lalu, kapal tersebut dilaporkan terlantar setelah awak kapal mengaku tidak menerima gaji selama berbulan-bulan.
Kapal itu hingga kini masih berada di perairan internasional. Tingkat pengawasan yang tinggi membuat China dikabarkan enggan mengizinkannya bersandar di pelabuhan.
Namun, ITF turun tangan untuk memastikan Ivan dan rekan-rekannya menerima gaji hingga Desember, serta mengatur pengiriman makanan, air minum, dan kebutuhan pokok lainnya ke kapal. Sebagian awak telah dipulangkan, tetapi sebagian besar, termasuk Ivan, masih berada di atas kapal.
Menurut ITF, pada 2016, hanya 20 kapal yang tercatat ditinggalkan di seluruh dunia. Namun pada 2025, jumlah itu melonjak menjadi 410 kapal, dengan 6.223 pelaut menjadi korban. Kedua angka tersebut meningkat hampir sepertiga dibandingkan 2024.
Baca juga: Kronologi 2 Kapal AS Tabrakan di Laut Karibia, Insiden Saat Isi Bahan Bakar
Ketidakstabilan geopolitik disebut sebagai salah satu faktor pendorong lonjakan dalam beberapa tahun terakhir. Konflik di berbagai wilayah dunia serta pandemi Covid-19 memicu gangguan rantai pasok dan fluktuasi tajam biaya angkut, sehingga sebagian operator kesulitan bertahan.
Namun ITF menilai maraknya “armada bayangan” (shadow fleets) juga berkontribusi terhadap lonjakan tajam tahun lalu. Kapal-kapal ini, biasanya tanker minyak seperti yang ditumpangi Ivan, umumnya merupakan kapal tua dengan kepemilikan tidak jelas, kondisi tidak layak laut, kemungkinan tidak diasuransikan, serta berisiko tinggi secara operasional.
Mereka kerap berlayar di bawah apa yang dikenal sebagai flag of convenience (FOC), terdaftar di negara dengan pengawasan regulasi yang sangat terbatas. Armada bayangan ini berupaya menghindari sorotan untuk membantu negara-negara seperti Rusia, Iran, dan Venezuela mengekspor minyak mentah mereka, meski melanggar sanksi Barat.
Dalam kasus Rusia, setelah invasinya ke Ukraina pada Februari 2022, negara itu dikenai sanksi yang membatasi harga jual minyak mentahnya. Namun Rusia masih menemukan pembeli yang bersedia membayar lebih tinggi, seperti China dan India, meski India kini berjanji menghentikan pembelian berdasarkan kesepakatan dagang terbaru dengan Amerika Serikat.
FOC sendiri telah digunakan kapal niaga selama lebih dari satu abad sebagai cara pemilik kapal menghindari hukum dan regulasi di negara asal. Pada 1920-an, misalnya, kapal penumpang milik AS sering mendaftar di Panama untuk menghindari larangan penjualan alkohol di Amerika.
Panama, Liberia, dan Kepulauan Marshall menjadi negara FOC paling umum, mewakili 46,5 persen dari seluruh kapal niaga berdasarkan bobot. Namun dalam beberapa tahun terakhir, Gambia juga muncul sebagai pemain baru.
Pada 2023, tidak ada tanker minyak yang terdaftar di Gambia (Afrika Barat). Namun pada Maret tahun lalu, negara itu secara administratif menjadi “tuan rumah” bagi 35 tanker minyak. Negara pendaftar ini memperoleh biaya yang signifikan dari praktik tersebut.
Kapal FOC mendominasi kasus penelantaran. Pada 2025, sebanyak 337 kapal atau 82 persen dari total kapal yang ditinggalkan berlayar di bawah FOC. Jumlah pasti kapal armada bayangan di dalamnya tidak jelas, tetapi kondisi kapal yang buruk dan struktur kepemilikan yang samar meningkatkan risiko bagi kapal dan awaknya.
Menurut pedoman International Maritime Organization (IMO), seorang pelaut dianggap ditelantarkan jika pemilik kapal gagal menanggung biaya pemulangannya, meninggalkan tanpa perawatan dan dukungan yang memadai, atau secara sepihak memutus hubungan kerja, termasuk tidak membayar gaji kontraktual selama minimal dua bulan.
Sekretaris Jenderal ITF, Stephen Cotton, mengatakan kepada BBC bahwa penelantaran bukanlah kecelakaan.
“Pelaut sering kali tidak benar-benar tahu ke mana mereka akan pergi. Mereka menandatangani kontrak, pergi ke belahan dunia lain, lalu menghadapi berbagai tantangan,” ujar Cotton.
Tahun lalu, awak kapal niaga yang ditelantarkan di seluruh dunia tercatat memiliki tunggakan gaji sebesar 25,8 juta dollar AS, menurut data dari IMO dan Organisasi Perburuhan Internasional (ILO).
ITF mengklaim telah berhasil memulihkan dan mengembalikan hampir dua pertiganya, yakni 16,5 juta dollar AS. Tunggakan gaji di kapal Ivan saat ITF pertama kali terlibat mencapai sekitar 175.000 dollar AS.
Pada 2025, pelaut asal India menjadi kelompok yang paling terdampak, sebanyak 1.125 orang atau 18 persen dari total korban. Disusul pelaut Filipina (539) dan Suriah (309).
Pada September tahun lalu, pemerintah India memasukkan 86 kapal asing ke daftar hitam terkait kasus penelantaran dan pelanggaran hak pelaut. Investigasi menemukan banyak kapal tersebut memiliki pemilik yang tidak dapat dilacak atau tidak mendapat respons dari negara benderanya.
Sekretaris Jenderal Nautilus International Mark Dickinson, menilai negara-negara FOC karena mengabaikan tanggung jawab sepenuhnya terhadap armada niaga dan awaknya.
“Harus ada hubungan yang nyata antara pemilik kapal dan negara bendera tempat kapal berlayar,” ujar Dickinson.
Hubungan ini sebenarnya diwajibkan dalam hukum maritim internasional, tetapi belum ada definisi yang disepakati secara universal.
Kapal yang ditumpangi Ivan sebelumnya berlayar dengan bendera Gambia palsu, tidak terdaftar dan tidak dikenal oleh pemerintah Gambia. Kini kapal itu untuk sementara diterima di bawah bendera negara Afrika lain yang disebut telah membuka penyelidikan resmi.
Inspektur ITF Nathan Smith memperkirakan nasib tanker tersebut baru akan jelas setelah muatannya dipindahkan melalui transfer antar kapal di laut lepas.
Ivan sendiri mengatakan ke depan ia akan lebih berhati-hati sebelum bergabung dengan kapal mana pun.
“Pasti saya akan berdiskusi secara serius tentang kondisi kapal, soal pembayaran dan logistik. Dan saya akan mencari informasi di internet, melihat kapal mana yang dilarang atau terkena sanksi,” tega dia.
Namun para pelaut seperti Ivan kerap berada dalam posisi sulit, bergantung pada kontrak kerja yang tersedia. Dengan pelayaran armada bayangan menjadi bagian penting rantai pasok minyak Rusia, kerja sama internasional yang lebih kuat diperlukan untuk melindungi pelaut dari risiko besar dalam dunia pelayaran global.
Tag: #melihat #sisi #gelap #kapal #tanker #minyak #yang #ditinggalkan