Harga Bitcoin Turun ke Level Terendah 2026, Pasar Kripto Memerah
Ilustrasi bitcoin. Harga bitcoin (BTC) kembali menguat ke level 70.000 dollar AS pada Jumat (6/2/2026), setelah sebelumnya sempat jatuh tajam ke 61.000 dollar AS(WIKIMEDIA COMMONS/JORGE FRANGANILLO)
10:24
16 Februari 2026

Harga Bitcoin Turun ke Level Terendah 2026, Pasar Kripto Memerah

- Harga Bitcoin turun ke level terendah sepanjang 2026, setelah sempat menyentuh 68.802 dollar AS per kepingnya. Pelemahan harga Bitcoin ini terjadi di tengah tekanan yang melanda pasar kripto global.

Penurunan tersebut membuat Bitcoin kembali berada di bawah level psikologis 70.000 dollar AS. Sepanjang perdagangan terakhir, mayoritas aset kripto lain juga ikut bergerak di zona merah.

Koreksi harga ini memperpanjang tren pelemahan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir. Tekanan jual disebut meningkat seiring sentimen pasar yang cenderung berhati-hati terhadap aset berisiko.

Baca juga: Bitcoin Rontok, Harga Menguap Rp 1 Miliar dalam Empat Bulan

Selain Bitcoin, sejumlah altcoin turut mengalami penurunan harga. Kondisi ini membuat kapitalisasi pasar kripto secara keseluruhan ikut menyusut.

Grafik pergerakan harga BTC dalam 24 jam terakhir KOMPAS.com/SUPARJO RAMALAN/DOKUMENTASI COINMARKETCAP Grafik pergerakan harga BTC dalam 24 jam terakhir

Berdasarkan CoinMarketCap pada Senin (16/2/2026) pagi WIB, tekanan harga tidak hanya terjadi pada Bitcoin. Sejumlah aset kripto utama lainnya juga mencatatkan pelemahan.

Ethereum diperdagangkan di level 1.966,42 dollar AS atau turun 5,26 persen. XRP terkoreksi 3,20 persen ke posisi 1,477 dollar AS, BNB melemah 2,52 persen menjadi 614,38 dollar AS, sementara Solana turun 2,24 persen ke posisi 85,97 dollar AS.

TRX juga turun tipis 0,62 persen ke 0,2805 dollar AS. Di sisi lain, stablecoin seperti USDT dan USDC relatif stabil di kisaran 0,999 dollar AS.

Meski demikian, analis menilai pergerakan harga dalam waktu dekat masih akan dipengaruhi sentimen global serta dinamika permintaan dan penawaran di pasar.

Dengan posisi saat ini, pelaku pasar mencermati apakah level 68.000 dollar AS akan menjadi titik penopang (support) baru, atau justru membuka peluang koreksi yang lebih dalam.

Kekhawatiran Crypto Winter

Penurunan harga Bitcoin kali ini memunculkan kembali kekhawatiran akan datangnya “crypto winter”, istilah yang merujuk pada fase penurunan panjang di pasar kripto.

Baca juga: Prediksi Suram Harga Bitcoin, Fase Terburuk Belum Lewat

Sejak mencetak rekor di atas 126.000 dollar AS pada Oktober lalu, Bitcoin telah terkoreksi hampir 50 persen. Dalam sebulan terakhir saja, nilainya merosot lebih dari 25 persen.

Situasi ini mengingatkan pelaku pasar pada 2022, ketika krisis FTX menyeret harga Bitcoin dari kisaran 50.000 dollar AS hingga sempat menyentuh 15.000 dollar AS. Lemahnya pantulan harga saat ini memicu pertanyaan apakah siklus pelemahan berkepanjangan kembali terulang.

Namun, dikutip KompasTekno dari CNBC News, data arus dana exchange-traded fund (ETF) menunjukkan gambaran yang lebih berimbang.

ETF spot Bitcoin seperti iShares Bitcoin Trust (IBIT) milik BlackRock memang mencatat arus keluar sekitar 2,8 miliar dollar AS dalam tiga bulan terakhir. Meski begitu, secara tahunan produk tersebut masih membukukan arus masuk bersih sekitar 21 miliar dollar AS.

Secara keseluruhan, kategori ETF spot Bitcoin mencatat outflow sekitar 5,8 miliar dollar AS dalam tiga bulan terakhir, tetapi tetap mempertahankan inflow bersih 14,2 miliar dollar AS dalam setahun terakhir.

Chief Investment Officer Bitwise, Matt Hougan kepada CNBC News mengatakan bahwa tekanan jual lebih banyak berasal dari trader jangka pendek dan hedge fund, bukan investor ETF jangka panjang.

Di sisi lain, CEO Galaxy Digital Mike Novogratz menyebut era spekulasi besar-besaran di kripto mungkin mulai mereda. Menurutnya, aset digital ke depan bisa bergerak lebih stabil sebagai instrumen jangka panjang dengan potensi imbal hasil yang lebih moderat.

Tag:  #harga #bitcoin #turun #level #terendah #2026 #pasar #kripto #memerah

KOMENTAR