AI Picu Gelombang Kecemasan Baru di Dunia Kerja
Ilustrasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). (shutterstock)
15:28
10 Februari 2026

AI Picu Gelombang Kecemasan Baru di Dunia Kerja

Pada awal 2026, fenomena baru mulai muncul di ruang konseling dan terapi di Amerika Serikat (AS).

Di tengah percepatan adopsi teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dalam berbagai sektor industri, sejumlah terapis melaporkan bahwa kekhawatiran akan AI bukan sekadar isu pekerjaan, melainkan telah menjadi topik utama dalam sesi terapi.

Kekhawatiran tersebut bukan hanya tentang risiko kehilangan pekerjaan, tetapi juga menyentuh identitas dan nilai pribadi pekerja.

Baca juga: Adopsi AI di Industri Kesehatan Perlu Perhatikan Kedaulatan Data

Ilustrasi kecerdasan buatan (AI).SHUTTERSTOCK Ilustrasi kecerdasan buatan (AI).

Ketakutan menjadi “usang”: dari kehilangan pekerjaan ke krisis identitas

Terapis dan psikolog di berbagai kota besar di AS melaporkan bahwa rasa cemas klien terhadap AI telah melampaui kekhawatiran klasik tentang efisiensi kerja atau ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK).

Sebagai contoh, Emma Kobil, konselor trauma yang praktik di Denver, mengatakan kepada CNBC bahwa ia melihat klien mengalami syok, ketidakpercayaan, dan ketakutan saat membicarakan bagaimana AI mengubah lanskap karier mereka.

Klien-kliennya, beberapa di antaranya telah kehilangan pekerjaan akibat AI, merasa tugas dan keterampilan yang selama ini mereka bangun telah menjadi tidak lagi relevan.

“Saya pernah memiliki klien yang kehilangan pekerjaan karena AI, dan itu adalah sesuatu yang telah kami bahas dalam sesi konseling kami,” terang Kobil.

Baca juga: Visa Catat Lonjakan Penggunaan AI dalam Penipuan Digital

"Seringkali, mereka mengungkapkan keterkejutan, ketidakpercayaan, dan ketakutan tentang bagaimana menghadapi perubahan lanskap karier di mana keterampilan mereka tidak lagi dibutuhkan,” katanya.

Ilustrasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). WIKIMEDIA COMMONS/JERNEJ FURMAN Ilustrasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Di New York, Harvey Lieberman, psikolog klinis, menemukan pola emosional yang konsisten. Banyak pekerja yang datang dengan perasaan ketakutan menjadi usang (fear of becoming obsolete).

“Yang paling sering saya dengar adalah ketakutan menjadi usang,” kata Lieberman.

“Orang-orang mulai mempertanyakan penilaian mereka, pilihan mereka, atau masa depan mereka," imbuh dia.

Baca juga: Mengapa AI Bikin Perusahaan Teknologi Global Ramai-ramai PHK?

Fenomena ini turut diperkuat oleh hasil survei dari Asosiasi Psikologi Amerika (APA). Sebanyak 38 persen pekerja khawatir AI dapat membuat sebagian atau seluruh fungsi pekerjaan mereka menjadi usang.

Ini menunjukkan kecemasan yang tidak hanya bersifat anekdot, tetapi terdapat dasar statistik yang signifikan.

Apa yang membuat ketakutan ini begitu dalam?

Dalam kerangka tradisional, ancaman terhadap pekerjaan biasanya berakar pada kekhawatiran ekonomi, yakni turunnya pendapatan, meningkatnya persaingan, atau risiko pengangguran.

Namun, menurut para terapis yang diwawancarai, pengaruh AI menyentuh jauh lebih dalam.

Baca juga: Disrupsi AI Bikin Arah Bisnis 2026 Bukan Lagi soal Cepat, tapi Relevan

Ben Yalom, psikoterapis di San Diego, menggambarkan ketika seseorang kehilangan pekerjaan karena teknologi, merasa seperti “alam semesta mengatakan bahwa kamu tidak lagi diperlukan.”

Pengalaman seperti ini, menurutnya, menembus wilayah psikologis yang jauh lebih dalam ketimbang sekadar dampak ekonomi semata.

Perbedaan mendasar antara PHK tradisional dan tekanan akibat AI, menurut para terapis, adalah ketidaktahuan pekerja terhadap bagaimana dan sampai sejauh mana AI akan mengubah struktur kerja mereka.

Banyak perusahaan tidak terbuka sepenuhnya tentang penggunaan teknologi tersebut, sehingga pekerja sering kali hanya melihat headline berita tanpa gambaran jelas tentang peran AI di pekerjaan mereka.

Baca juga: Tekanan Persaingan AI, Amazon PHK 16.000 Karyawan

Ilustrasi kecerdasan buatan di era digital.Shutterstock Ilustrasi kecerdasan buatan di era digital.

Ini menimbulkan zona abu-abu, yang memperkuat kecemasan dan keraguan akan masa depan karier jangka panjang.

Dampak pada psikologi dan kesejahteraan pekerja

Ketika pembicaraan tentang AI masuk ke ruang terapi, dampaknya bukan sekadar perubahan struktur kerja. Para terapis melihat pekerja yang mengalami gejolak emosional luas:

  • Rasa kehilangan identitas profesional.
  • Ketidakpercayaan terhadap kemampuan diri sendiri.
  • Ketakutan terhadap masa depan yang tidak jelas.
  • Kecemasan berulang atas relevansi keterampilan personal.

“Ketakutan merasa usang bukan hanya tentang mata pencaharian,” kata seorang psikolog.

Baca juga: Era Kecerdasan Buatan Bergeser ke Agentic AI, Eksekusi Strategi Bisnis Bisa Dilakukan Tanpa Instruksi Manusia

“Ini adalah krisis tentang ‘siapa saya jika semua yang saya kuasai bisa digantikan oleh mesin?’” imbuhnya.

Penekanan seperti ini menjulang jauh di atas kekhawatiran konvensional soal pendapatan atau gaji yang hilang.

Perubahan ini juga mencerminkan lanskap pekerja yang semakin rumit. Ketakutan ini tidak hanya muncul pada pekerja yang usia kariernya matang, tetapi juga generasi muda yang baru memasuki dunia kerja dan bertanya apakah mungkin mereka akan menemukan peran relevan di masa depan.

Intervensi dan pendekatan yang disarankan terapis

Menanggapi kegelisahan ini, para terapis dan psikolog menawarkan beberapa pendekatan yang bukan semata berbasis teknik atau penyesuaian kerja, tetapi juga mencakup aspek psikologis:

Baca juga: AI Bisa Tingkatkan Kompetensi Pekerja Profesional, Identifikasi Potensi SDM lewat Data

1. Mengizinkan proses berduka

Ada anjuran bagi pekerja untuk memberi ruang bagi emosi mereka, yakni kekecewaan, frustrasi, dan rasa tidak aman, alih-alih menekan atau mengabaikannya.

2. Refleksi atas nilai diri

Ilustrasi AI Generatif (GenAI). Meski AI mengendalikan pengambilan keputusan investasi, CEO SmartWealth Miro Mitev menegaskan peran manusia tetap vital sebagai otak di balik teknologi.Akamai Ilustrasi AI Generatif (GenAI). Meski AI mengendalikan pengambilan keputusan investasi, CEO SmartWealth Miro Mitev menegaskan peran manusia tetap vital sebagai otak di balik teknologi.

Sejumlah psikolog mendorong klien untuk mengambil waktu bagi refleksi diri, mengevaluasi keterampilan personal, dan menempatkan identitas di luar sekadar job title.

Ini adalah internal audit emosional yang membantu memperluas definisi nilai diri mereka.

3. Literasi AI sebagai alat pemberdayaan

Rhiannon Batchelder, seorang pelatih karier, mengingatkan bahwa memahami AI secara dasar dapat membantu pekerja merasa lebih berdaya dalam menghadapi perubahan pekerjaan.

Baca juga: Singapura Kucurkan Lebih dari Rp 13 Triliun untuk Riset AI hingga 2030

Alih-alih menghindarinya, pengetahuan atas teknologi itu sendiri bisa menjadi aset.

Pendekatan semacam ini menggambarkan bahwa kecemasan AI bukan sekadar isu teknis atau ekonomi, tetapi menyentuh tatanan psikologis yang kompleks.

Integrasi AI ke dalam dunia kerja menuntut lebih dari sekadar penyesuaian keterampilan, namun memerlukan strategi emosional dan sosial yang matang.

Dimensi ekonomi di balik kekhawatiran psikologis

Menilik laporan tenaga kerja dan data terkait AI, kekhawatiran ini tidak muncul tanpa dasar. Pada 2025, teknologi AI menjadi faktor dalam sekitar 55.000 PHK di AS, menurut data dari Challenger, Gray & Christmas.

Baca juga: AI Bisa Tiru Suara CS Resmi, Ini Cara Verifikasinya agar Tak Jadi Korban

Selain itu, sebuah studi dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) menunjukkan bahwa AI dapat menggantikan sekitar 11 persen pasar tenaga kerja AS.

Angka-angka ini memperlihatkan dinamika ekonomi yang mendukung ketidakpastian pekerja: bukan hanya pekerjaan yang berubah, tetapi pergeseran struktur tenaga kerja secara substansial sedang berlangsung.

Ketika AI mengefisienkan tugas operasional di banyak sektor, pekerja menghadapi realitas ekonomi di mana beberapa fungsi yang dulunya eksklusif menjadi redundant atau dipersempit.

Dalam konteks pasar tenaga kerja yang sering kali diisi oleh pekerja yang menilai keterampilan mereka sebagai pusat nilai diri, perubahan semacam ini menyulut kecemasan yang melekat jauh di bawah permukaan ekonomi saham, gaji, atau produktivitas.

Baca juga: Talenta RI di Google Bicara Arah AI dan Dampaknya ke Ekonomi Global

Sejumlah ekonom mengamati bahwa transformasi ini mencerminkan fase transisi yang lebih luas di mana AI menggeser struktur kerja secara fundamental.

Namun, berfokus hanya pada pertumbuhan ekonomi atau produktivitas akan mengabaikan dimensi emosional dan sosial yang muncul dalam laporan para terapis ini.

Tag:  #picu #gelombang #kecemasan #baru #dunia #kerja

KOMENTAR