Guncang Pasar Keuangan Global, Bitcoin Ambles Terjun Bebas, Setengah Nilainya Hilang dalam 3 Bulan di Tengah Krisis Kripto
Ilustrasi Bitcoin sebagai aset digital yang menghadapi tekanan jual massal dan volatilitas ekstrem di awal 2026 (The Guardian)
22:00
6 Februari 2026

Guncang Pasar Keuangan Global, Bitcoin Ambles Terjun Bebas, Setengah Nilainya Hilang dalam 3 Bulan di Tengah Krisis Kripto

Bitcoin, mata uang kripto paling berpengaruh di dunia, mengalami penurunan tajam sejak akhir 2025, memicu keresahan di pasar keuangan global dan menguji kembali kepercayaan investor terhadap aset digital. Pergerakan harga ini menjadi sorotan utama dalam gejolak pasar modal dan kripto yang lebih luas.

Menurut data pasar terbaru, harga Bitcoin merosot tajam hingga sekitar USD 63.000 pada Kamis (5/2), level terendahnya dalam lebih dari setahun dan turun hampir 50 persen dari puncaknya di USD 126.210,50 pada 6 Oktober 2025. Penurunan tersebut terjadi dalam periode kurang dari tiga bulan, menggambarkan salah satu koreksi terbesar dalam sejarah aset kripto modern. 

Dilansir dari The Guardian, Jumat (6/2/2026), penurunan tajam ini tidak hanya menekan harga Bitcoin, tetapi juga mengguncang perusahaan serta investor yang memiliki ketergantungan besar pada aset digital. Laporan tersebut menegaskan, "Penurunan berbulan-bulan di pasar kripto telah menghantam nilai saham perusahaan-perusahaan yang semakin banyak berinvestasi di Bitcoin, sekaligus memperparah kegelisahan di pasar saham secara lebih luas."

Penurunan ini terjadi setelah periode pertumbuhan signifikan yang dipicu oleh optimisme investor di tengah kebijakan pro-kripto di Amerika Serikat. Bitcoin mencapai rekor tertinggi di atas USD 126.000 pada Oktober 2025, namun sejak awal 2026, tekanan jual yang meningkat, terutama di Januari dan awal Februari, menyebabkan nilai aset digital ini jatuh drastis. 

Para analis pasar menilai bahwa penurunan ini dipicu oleh sejumlah faktor, antara lain arus keluar modal dari instrumen investasi kripto seperti ETF Bitcoin serta menguatnya sentimen risk-off atau menghindari risiko di kalangan investor global.

Dalam kajian terbarunya, sejumlah pengamat menyatakan bahwa Bitcoin telah memasuki fase yang disebut sebagai "full capitulation mode", yakni kondisi penyerahan total pasar ketika gelombang jual massal dari investor institusional maupun spekulan justru memperdalam koreksi harga.

Selain itu, tekanan terhadap Bitcoin juga mencerminkan kekhawatiran investor terhadap arah kebijakan moneter global. Ketidakpastian tentang suku bunga dan kebijakan regulator, termasuk potensi penguatan pengawasan terhadap kripto di berbagai yurisdiksi, mendorong sebagian investor mencari aset yang lebih tradisional atau aman, seperti emas dan obligasi pemerintah. 

Di sisi regulasi dan politik, sorotan semakin tajam. Anggota DPR Amerika Serikat, Ro Khanna, pada Rabu (4/2), menyatakan bahwa dia akan menyelidiki World Liberty Financial setelah The Wall Street Journal melaporkan bahwa seorang anggota keluarga kerajaan Uni Emirat Arab (UEA) mendukung investasi senilai USD 500 juta (sekitar Rp 8,42 triliun dengan kurs Rp 16.840 per dolar AS) ke perusahaan kripto milik keluarga Trump. Dalam pernyataan resminya, Khanna menegaskan, "Kesepakatan yang dilaporkan ini mungkin telah berkontribusi pada perubahan kebijakan Amerika Serikat."

Dampak dari penurunan ini terasa luas. Saham perusahaan yang memiliki eksposur besar terhadap Bitcoin, seperti platform perdagangan dan perusahaan teknologi yang diversifikasi asetnya mencakup kripto, mencatat kerugian signifikan. Selain itu, volume likuidasi besar dan tekanan margin di pasar derivatif kripto memperparah penurunan harga.

Dalam konteks yang lebih luas, penurunan nilai Bitcoin berdampak pada pasar kripto secara keseluruhan. Ether, kripto terbesar kedua, juga mengalami koreksi harga lebih dari 30 persen dalam periode yang sama, menunjukkan bahwa tekanan jual tidak terbatas pada Bitcoin saja tetapi melebar ke keseluruhan ekosistem aset digital. 

Pengamat pasar menyatakan bahwa volatilitas ekstrem ini menimbulkan tantangan besar bagi Bitcoin sebagai aset penyimpan nilai atau “emas digital,” sebuah narasi yang selama ini dipromosikan oleh pendukung kripto. Menurut Deutsche Bank, tekanan penjualan yang berkelanjutan dan mengaburnya minat investor institusional menunjukkan bahwa pasar kripto mungkin masih jauh dari menjadi komponen stabil dalam portofolio global. 

Dengan tekanan pasar yang terus berlanjut, fokus kini beralih pada bagaimana institusi besar dan regulator keuangan global akan merespons dalam beberapa bulan mendatang, serta apakah Bitcoin akan mampu memulihkan sebagian nilainya seiring perubahan sentimen investor. 

Editor: Candra Mega Sari

Tag:  #guncang #pasar #keuangan #global #bitcoin #ambles #terjun #bebas #setengah #nilainya #hilang #dalam #bulan #tengah #krisis #kripto

KOMENTAR