Emiten Minta Free Float 15 Persen Diterapkan Bertahap
Armand Hartono, putera mahkota Grup Djarum yang juga menduduki posisi penting di BCA. (dok BCA)
19:16
4 Februari 2026

Emiten Minta Free Float 15 Persen Diterapkan Bertahap

Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) menyarankan kepada otoritas pasar modal agar penyesuaian porsi kepemilikan saham publik (free float) 15 persen diterapkan secara bertahap atau step by step. 

Permintaan itu menyusul ada 284 perusahaan tercatat yang free folatnya masih di bawah 15 persen.

Ketua Umum AEI, Armand Wahyudi Hartono, mengatakan peningkatan free float idealnya tidak dilakukan secara sekaligus, melainkan bertahap. Pendekatan step by step dipandang lebih realistis karena memberi ruang bagi emiten dan pasar untuk saling menyesuaikan.

Baca juga: Free Float Naik Jadi 15 Persen, OJK Harap Dana Jumbo Asabri-Taspen Masuk Bursa

Ilustrasi pasar saham.PIXABAY/PETE LINFORTH Ilustrasi pasar saham.

Jika pada tahap awal saham yang dilepas dapat terserap dengan baik, barulah emiten dapat melanjutkan ke tahap berikutnya. Sebaliknya, apabila respons pasar kurang optimal, strategi dapat dievaluasi dan disesuaikan.

“Secara kesiapan biasanya kalau ketika meningkatkan free float ini, masukan kami sebaiknya dilakukan step by step. Itu lebih umum lah dipasarkan, coba jualan, coba dulu segini, nanti lihat laku atau enggak. Kalau ternyata ada strategi khusus itu memang harus dilakukan sesuai dengan permintaan pasar,” ujar Armand saat ditemui di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (4/2/2026).

Kendati begitu, AEI memandang peningkatan free float 15 persen merupakan upaya regulator pasar modal memperbaiki kualitas emiten. 

Untuk jangka panjang, jika pasar modal ingin naik kelas dan sejajar dengan pasar global, maka emiten yang tercatat di dalamnya juga harus memiliki standar kelas dunia, baik dari sisi fundamental, tata kelola, transparansi, maupun kinerja bisnis.

Baca juga: BEI Suspensi 38 Emiten yang Tak Penuhi Ketentuan Free Float, Simak Rinciannya

Ilustrasi saham.SHUTTERSTOCK/FEYLITE Ilustrasi saham.

"Pertama-tama meningkatkan kualitas emitennya sendiri. Karena untuk jangka panjang, sebuah pasar modal Indonesia kalau mau menjadi kelas dunia, ya emiten-nya juga harus menjadi kelas dunia,” bebernya.

Dengan kualitas emiten yang lebih baik, basis investor pun diharapkan semakin luas, tidak hanya dari dalam negeri tetapi juga dari investor global. 

Menurutnya, peningkatan porsi saham publik penting untuk memperdalam likuiditas, namun keberhasilannya tetap bergantung pada kemampuan pasar menyerap saham.

“Tentu harus cukup banyak investornya yang lebih banyak lah dari Indonesia maupun di global itu sih yang utama sih. Jadi ketika ini fokus pembicaraan, tentu fokus dalam memastikan free float-nya ini bisa lebih banyak, tapi itu tergantung kemampuan pasar menyerap juga, itu sih fokus utama,” kata Armand.

Baca juga: Free Float Naik Jadi 15 Persen, Pasar Mampu Serap? OJK: Itu Jadi PR Kita

Lebih jauh, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi menjelaskan aturan kenaikan free float menjadi 15 persen bagi perusahaan tercatat masih dalam draf. 

Namun, implementasinya akan dilakukan secara bertahap selama tiga tahun, dihitung sejak 2026.

Pada tahun pertama implementasi, regulator lebih dulu melakukan pemetaan emiten berdasarkan tingkat free float masing-masing.

“Jadi nanti dilihat di draft yang akan disampaikan. Tapi secara umum target pertama kita akan dorong untuk dilakukan di satu tahun pertama. Kemudian akan ada milestone berikutnya di tahun ke-2 dan terakhir di tahun ke-3, menuju ke keseluruhan pemenuhan angka free float di minimum 15 persen,” ungkap Hasan.

Tag:  #emiten #minta #free #float #persen #diterapkan #bertahap

KOMENTAR