Kekayaan Prajogo Pangestu Menyusut Rp 60,34 Triliun saat IHSG Anjlok
– Kekayaan Prajogo Pangestu menyusut tajam di tengah gejolak pasar saham. Meski demikian, orang terkaya Indonesia itu tetap aktif melakukan manuver di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Berdasarkan data Forbes Real-Time Billionaires per Kamis (29/1/2026), kekayaan Prajogo Pangestu tercatat sebesar 30,2 miliar dollar AS, atau setara Rp 506,15 triliun (asumsi kurs Rp 16.760 per dollar AS). Nilai tersebut turun 3,6 miliar dollar AS, atau sekitar Rp 60,34 triliun, setara penurunan 10,68 persen.
Dengan capaian tersebut, Prajogo masih menempati posisi teratas sebagai orang terkaya Indonesia dan berada di peringkat ke-73 orang terkaya dunia.
Baca juga: Prajogo Pangestu Borong 3 Saham Afiliasi di Tengah Tekanan Harga
Taipan berusia 81 tahun ini menjalankan bisnis di sektor petrokimia dan energi, serta mengendalikan sejumlah emiten yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Selain Prajogo Pangestu, penurunan nilai kekayaan juga dialami para konglomerat lain di Tanah Air. Low Tuck Kwong mencatatkan kekayaan 22,4 miliar dollar AS atau sekitar Rp 375,42 triliun.
Sementara itu, R. Budi Hartono memiliki kekayaan 19,5 miliar dollar AS atau setara Rp 326,82 triliun, disusul Michael Hartono dengan kekayaan 18,8 miliar dollar AS atau sekitar Rp 315,09 triliun. Seluruhnya tercatat mengalami penurunan nilai kekayaan.
Manuver Saham di Tengah Trading Halt BEI
Di tengah gejolak pasar, Prajogo Pangestu tercatat melakukan aksi akumulasi saham di PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN).
Langkah ini dilakukan saat BEI memberlakukan penghentian sementara perdagangan saham (trading halt) selama dua hari berturut-turut, yakni pada 28–29 Januari 2026, setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok hingga 8 persen.
Baca juga: Saham Prajogo Pangestu (PTRO) Rontok Parah, Tersungkur hingga ARB
Dikutip dari keterbukaan informasi BEI yang dipublikasikan Kamis (29/1/2026), Prajogo Pangestu menggelontorkan dana Rp 10,86 miliar untuk membeli 90 miliar saham CUAN.
Transaksi tersebut dilakukan pada 28 Januari 2026 dalam 12 kali pembelian, dengan harga di kisaran Rp 1.525 hingga Rp 1.580 per saham.
“Transaksi pembelian ini untuk tujuan investasi pribadi,” tulis Prajogo Pangestu dalam keterbukaan informasi.
Setelah transaksi, kepemilikan saham Prajogo di CUAN meningkat menjadi 94,53 miliar saham, setara 84,08 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh.
Pada hari yang sama, saham CUAN bergerak di zona merah dan ditutup di level Rp 1.560 per saham, dengan pergerakan intraday di kisaran Rp 1.560 hingga Rp 1.660 per saham.
Baca juga: Emiten Prajogo Pangestu CUAN Bakal Caplok Singaraja Putra (SINI)
IHSG Anjlok, Tekanan Jual Masif
Tekanan pasar saham kian dalam pada Kamis pagi (29/1/2026). Setelah BEI kembali memberlakukan trading halt, pada pukul 09.59 WIB, IHSG tercatat ambles 835,20 poin atau setara 10,04 persen ke level 7.485,35.
IHSG dibuka di posisi 8.027,83, namun langsung bergerak turun tajam dan tidak mampu keluar dari tekanan jual hingga menyentuh level terendah harian di 7.481,99.
Dari total saham yang diperdagangkan, 726 saham melemah, hanya 21 saham menguat, dan 25 saham stagnan.
Volume perdagangan mencapai 17,04 miliar saham, dengan nilai transaksi sebesar Rp 13,22 triliun, serta frekuensi perdagangan menembus 1.006.013 kali.
Derasnya tekanan jual turut membuat kapitalisasi pasar menyusut tajam dari posisi sebelumnya yang berada di kisaran lebih dari Rp 16.000 triliun.
Dampak Kebijakan MSCI
Pelemahan tajam IHSG terjadi setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) memutuskan menghentikan sementara sejumlah perubahan indeks yang melibatkan emiten Indonesia.
Kebijakan tersebut diambil menyusul kekhawatiran terhadap tingginya konsentrasi kepemilikan saham di perusahaan-perusahaan tercatat.
Baca juga: Pemicu IHSG Turun Hari Ini: Goldman Sachs-UBS Downgrade Saham RI
Penangguhan ini akan berlaku hingga otoritas pasar, termasuk BEI, dinilai mampu mengatasi kekhawatiran terkait struktur kepemilikan saham yang dianggap terlalu terkonsentrasi.
Dalam pengumumannya, MSCI menyatakan akan menghentikan penambahan saham Indonesia ke dalam indeks-indeksnya, serta membekukan kenaikan jumlah saham yang dinilai tersedia bagi investor.
Keputusan ini diambil karena masih adanya persoalan mendasar terkait kelayakan investasi, termasuk kekhawatiran terhadap potensi praktik perdagangan terkoordinasi yang dapat mendistorsi pembentukan harga saham.
MSCI juga mengingatkan bahwa apabila hingga Mei 2026 belum terdapat kemajuan memadai dalam peningkatan transparansi, lembaga tersebut akan meninjau ulang status aksesibilitas pasar Indonesia.
Peninjauan ini berpotensi berdampak signifikan, mulai dari penurunan bobot saham Indonesia dalam MSCI Emerging Markets Index hingga kemungkinan perubahan status Indonesia dari pasar berkembang menjadi pasar frontier.
Tag: #kekayaan #prajogo #pangestu #menyusut #6034 #triliun #saat #ihsg #anjlok