Kejar Tenggat MSCI, Bos BEI Optimistis Isu Free Float Beres Sebelum Mei
Ilustrasi Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia(ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin)
07:08
29 Januari 2026

Kejar Tenggat MSCI, Bos BEI Optimistis Isu Free Float Beres Sebelum Mei

- PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menargetkan pembahasan dengan Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait metodologi perhitungan free float untuk saham-saham di Tanah Air tuntas sebelum Mei 2026.

Target itu menjadi krusial karena hasil diskusi kedua pihak berpotensi memengaruhi persepsi investor global terhadap pasar saham Indonesia.

Direktur Utama BEI, Iman Rachman, mengatakan proses dialog dengan MSCI saat ini masih berjalan intens dan bersifat dinamis.

Baca juga: MSCI Bikin IHSG Anjlok, Rosan: Harus Segera Ditindaklanjuti, Ini Masalah Transparansi dan Akuntabilitas

Menurutnya, sejak awal BEI tidak sepenuhnya mengetahui detail ekspektasi MSCI, sehingga diskusi berkembang seiring upaya kedua pihak mencari titik temu yang paling realistis.

“Kan saya bilang di awal, kita sebenarnya di awal tidak tahu apa yang real yang dia (MSCI) inginkan, itu mungkin diskusinya,” ujar Iman saat ditemui di gedung BEI, Jakarta, Rabu (28/1/2026).

BEI saat ini tidak berada pada posisi menciptakan atau memodifikasi data kepemilikan saham secara sepihak.

Yang dilakukan otoritas pasar modal adalah membandingkan praktik transparansi data di berbagai bursa global, lalu menilai pendekatan mana yang paling relevan diterapkan di Indonesia.

“Jadi seperti yang dibilang tadi, kita coba lihat di bursa lain mana yang paling pas transparansinya. Kan kita nggak bikin data sendiri. Nah itulah berkembang diskusi yang kita lakukan dengan MSCI,” paparnya.

Diskusi dengan MSCI bukan soal sekadar memenuhi permintaan teknis.

Iman mencatat BEI, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) memiliki batasan kewenangan dan kerangka regulasi yang tidak bisa dilompati.

Karena itu, fokus diskusi adalah memastikan apakah mekanisme yang tersedia dapat memenuhi ekspektasi MSCI, tanpa mengorbankan prinsip tata kelola pasar domestik.

“Saya bilang ini enggak a,b,c,d kita mesti kasih bisa apa enggak, enggak. Kita juga punya keterbatasan, gitu kan. Yang kita bisa itu, kita coba sampaikan apakah memenuhi daripada ekspektasi mereka. Jadi ini yang jadi diskusi terus,” beber Iman.

Meski tidak menetapkan tenggat waktu yang kaku, Iman berharap agar seluruh pembahasan bisa diselesaikan sebelum Mei 2026, sesuai dengan persyaratan MSCI.

BEI pun telah meminta ruang diskusi tambahan, dan MSCI cukup terbuka untuk mendengarkan penjelasan dari otoritas bursa, termasuk soal standar minimal yang dianggap memadai.

Menariknya, di tengah proses itu, banyak inisiatif komunikasi datang dari investor asing.

Sejumlah investor, melalui broker atau perusahaan sekuritas, meminta penjelasan langsung kepada BEI mengenai perkembangan isu free float dan implikasinya terhadap pasar modal saat ini.

“Jadi mereka (investor) yang minta waktu ke kita untuk kita jelaskan apa yang terjadi hari ini. Jadi dengan beberapa investor langsung, yang foreign, terutama melakukan diskusi-diskusi, tentu saja kami terus educate juga,” ucapnya.

Edukasi pasar dilakukan melalui berbagai jalur, mulai dari pertemuan langsung dengan investor dalam kegiatan tertentu, hingga penyampaian informasi lewat media.

Pendekatan ini dipilih karena dampak perubahan metodologi MSCI dinilai luas dan sebagian berada di luar kendali otoritas pasar modal Indonesia.

“Karena ini kan sebenarnya impact-nya adalah apa yang dilakukan oleh Indonesia yang kita tidak bisa kontrol. Ini kan beyond our control (di luar kendali). Nah ini yang kita lakukan dengan berbagai, termasuk bagaimana channel distribusi lewat media, ini kita sampaikan,” kata Iman.

Direksi BEI saat ditemui wartawan di gedung BEI, Jakarta, Rabu (28/1/2026)KOMPAS.com/SUPARJO RAMALAN Direksi BEI saat ditemui wartawan di gedung BEI, Jakarta, Rabu (28/1/2026)

Perbaikan Free Float Tak Memuaskan MSCI

Upaya perbaikan data free float saham emiten Tanah Air oleh BEI dinilai belum sepenuhnya memenuhi ekspektasi MSCI.

Meski demikian, BEI memastikan perbaikan telah dan terus dilakukan bersama regulator terkait, meskipun hasilnya belum sejalan dengan metodologi yang digunakan penyedia indeks global tersebut.

Iman menyampaikan sejumlah perbaikan telah dilakukan secara bertahap terhadap data yang selama ini digunakan, termasuk menindaklanjuti masukan yang disampaikan MSCI. “Kita melakukan sesuatu terkait perubahan free float. Jadi sudah kita lakukan perbaikan yang terkait dengan free float yang sudah ada,” tegasnya.

Lebih jauh, salah satu tantangan utama adalah MSCI tidak spesifik menyebutkan format atau kriteria data yang diminta secara perinci.

Di sisi lain, praktik penyampaian data kepemilikan saham di masing-masing bursa global juga berbeda-beda.

Karena itu, BEI berupaya menyesuaikan sejauh yang dimungkinkan oleh kerangka hukum dan regulasi domestik.

“Jadi data seperti apa yang disampaikan di bursa mana pun berbeda-beda. Nah ini yang kita coba lakukan, yang bisa kita lakukan sesuai dengan aturan yang dimungkinkan di Indonesia. Misalnya kita nggak bisa ngasih sesuatu yang di luar ketentuan daripada hukum dan aturan di Indonesia,” ungkap Iman.

Baca juga: Mengapa Pengumuman MSCI Bikin IHSG Anjlok Sampai Trading Halt?

Tag:  #kejar #tenggat #msci #optimistis #free #float #beres #sebelum

KOMENTAR