Ancaman Baru Virus Nipah: Tingkat Kematian 75%, Thailand Waspada, Apa Gejalanya?
Ilustrasi pasien terkena virus. (Pixabay/Engin_Akyurt)
10:04
28 Januari 2026

Ancaman Baru Virus Nipah: Tingkat Kematian 75%, Thailand Waspada, Apa Gejalanya?

Baca 10 detik
  • Thailand waspada risiko virus Nipah, sementara India mengkarantina ratusan orang pasca lima kasus positif terkonfirmasi.
  • Virus Nipah pertama terdeteksi 1998 di Malaysia dengan tingkat kematian tinggi dan inang alaminya adalah kelelawar buah.
  • Penularan terjadi melalui kontak cairan tubuh, konsumsi buah terkontaminasi, dan tingkat fatalitas virus ini mencapai 75 persen.

Kewaspadaan tingkat tinggi kini menyelimuti Thailand menyusul risiko wabah virus Nipah, sebuah penyakit zoonosis mematikan yang ditularkan oleh kelelawar buah. Ancaman ini bukan isapan jempol, mengingat virus ini telah menyebar di sejumlah negara dan memiliki tingkat kematian yang tinggi.

Di India, situasi lebih genting. Otoritas kesehatan di Benggala Barat dilaporkan telah mengkarantina ratusan orang setelah konfirmasi lima kasus positif infeksi virus Nipah.

Yang mengkhawatirkan, dua perawat dan satu dokter termasuk di antara mereka yang terinfeksi, memicu kekhawatiran penularan di fasilitas kesehatan.

“Beberapa pasien berada dalam kondisi kritis, dan pasien lainnya menerima perawatan di bawah pengawasan ketat,” ungkap seorang pejabat senior Kementerian Kesehatan India sebagaimana dilansir dari India Express, Senin (26/1/2026).

Lantas, apa sebenarnya virus Nipah dan seberapa besar ancamannya?

Mengenal Virus Nipah, Wabah Mematikan Sejak 1998

Menurut ahli virologi terkemuka, Prof Dr Yong Poovorawan dari Universitas Chulalongkorn, virus Nipah pertama kali terdeteksi pada wabah besar di Malaysia antara tahun 1998 dan 1999, yang kemudian menyebar hingga ke Singapura. Saat itu, tercatat ada 265 kasus dengan 108 di antaranya berakhir dengan kematian.

Awalnya, gejala utama yang diidentifikasi adalah demam tinggi dan ensefalitis atau radang otak. Kelelawar buah dipastikan menjadi inang alami atau pembawa virus mematikan ini.

Dari Kelelawar ke Manusia, Begini Cara Penularannya

Penyebaran virus Nipah memiliki beberapa jalur yang wajib diwaspadai. Berdasarkan temuan awal, virus ini berpindah dari kelelawar ke babi, sebelum akhirnya menginfeksi manusia yang melakukan kontak dengan babi tersebut.

"Buah yang terkontaminasi air liur kelelawar jatuh ke kandang babi. Penyakit itu kemudian menular di antara babi dan kemudian dari babi ke manusia," jelas Prof Dr Yong.

Namun, penularan juga bisa terjadi secara langsung dari kelelawar ke manusia. Konsumsi buah atau jus segar, terutama jus kurma segar yang telah terkontaminasi air liur kelelawar yang terinfeksi, menjadi salah satu rute penularan utama.

Setelah menginfeksi manusia, virus ini dapat menular dari satu orang ke orang lain melalui kontak langsung dengan cairan tubuh seperti darah, urine, atau air liur. Meski demikian, penularannya tidak semudah virus pernapasan.

"Tetapi kemungkinannya tidak besar, tidak seperti penyakit pernapasan seperti influenza dan Covid-19, yang menyebar luas," tulis Prof Dr Yong.

Gejala yang Harus Diwaspadai

Masa inkubasi virus Nipah berkisar antara 5 hingga 14 hari. Gejala awal yang muncul seringkali mirip dengan flu biasa, yang meliputi:

  • Demam tinggi dan sakit kepala selama 3 hingga 14 hari.
  • Rasa lemas, pusing, dan nyeri otot.
  • Mual dan muntah.

Seiring berjalannya waktu, gejala bisa berkembang menjadi sangat parah. Para ahli menemukan bahwa gejala virus Nipah kini telah berubah, tidak hanya radang otak tetapi juga pneumonia berat.

Pada kasus yang parah, pasien dapat mengalami ensefalitis (radang otak) akut, kejang-kejang, dan disorientasi, yang berpotensi menyebabkan koma hanya dalam waktu 24 hingga 48 jam.

Tingkat Kematian 75% dan Belum Ada Obat

Fakta paling mengerikan dari virus Nipah adalah tingkat kematiannya yang sangat tinggi, mencapai 75%. Hingga saat ini, belum ada vaksin yang tersedia untuk mencegah infeksi virus Nipah, baik untuk manusia maupun hewan.

Penanganan medis pun masih bersifat suportif, yaitu dengan memberikan pengobatan simtomatik untuk meredakan gejala dan obat antivirus untuk mencoba mengurangi tingkat keparahan penyakit.

Karena tingkat fatalitas dan potensi penyebarannya yang cepat, beberapa negara telah mengambil langkah tegas. Pemerintah Korea Selatan, misalnya, telah menetapkan virus Nipah sebagai penyakit menular Kelas 1 yang wajib dilaporkan dan memerlukan tindakan karantina, setara dengan Covid-19.

"Meskipun risiko wabah saat ini rendah, wabah yang sebenarnya dapat berdampak serius pada kesehatan masyarakat dan ekonomi," kata Prof Dr Yong.

Editor: Bangun Santoso

Tag:  #ancaman #baru #virus #nipah #tingkat #kematian #thailand #waspada #gejalanya

KOMENTAR