Bank Indonesia Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Tembus 5,5 Persen pada 2027
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo saat memberikan sambutan di Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) 2025 Jumat (28/11/2025). (Dok. Screenshoot Youtube BI)
14:56
28 Januari 2026

Bank Indonesia Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Tembus 5,5 Persen pada 2027

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan proyeksi optimistis terhadap kinerja ekonomi nasional dua tahun ke depan.

Bank sentral menilai ekonomi Indonesia pada 2026 dan 2027 akan tumbuh lebih kuat dibandingkan 2025.

“Setelah melewati 2025 dengan kinerja yang baik, yakinlah Insya-Allah tahun 2026 dan 2027 Indonesia, ekonomi Indonesia akan lebih baik lagi. Pertumbuhan kami perkirakan akan meningkat setelah tahun 2025 sekitar 4,7 sampai 5,5 persen,” ujar Perry dalam peluncuran Laporan Perekonomian Indonesia Tahun 2025 di Jakarta, Rabu (28/1/2026).

Baca juga: Independensi Bank Indonesia dan Ujian Kenegarawanan Prabowo

Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 2026 berada di kisaran 4,9 hingga 5,7 persen dengan titik tengah 5,3 persen.

Pada 2027, laju pertumbuhan diperkirakan meningkat menjadi 5,1 hingga 5,9 persen dengan titik tengah 5,5 persen.

Inflasi diperkirakan tetap terjaga pada level 2,5 persen plus minus 1 persen untuk periode 2026 hingga 2027.

Dari sisi pembiayaan, BI memperkirakan pertumbuhan kredit mencapai 8 hingga 12 persen pada 2026. Angka tersebut diproyeksikan meningkat menjadi 9 hingga 13 persen pada 2027.

Perry juga menyoroti agenda penguatan sistem pembayaran. Pada 2026, BI bersama Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia menargetkan volume transaksi digital mencapai 17 miliar.

Jumlah pengguna Quick Response Code Indonesian Standard atau QRIS diproyeksikan menembus 60 juta orang, dengan 45 juta pengguna berasal dari pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah.

Baca juga: Pesan Gubernur BI ke Pasar dan Pelaku Usaha: Berhentilah Wait and See!

Cakupan QRIS lintas negara juga akan diperluas. Delapan negara yang menjadi sasaran mencakup Malaysia, Thailand, Singapura, Jepang, China, Korea, India, dan Arab Saudi.

“Mari kita bangun optimisme, yakin bahwa 2026-2027 akan lebih baik. Optimisme itulah yang akan membawa ekonomi kita lebih baik,” kata Perry.

Untuk menjaga arah pertumbuhan tersebut, BI menegaskan komitmen menjalankan bauran kebijakan secara konsisten.

Pada sisi moneter, fokus diarahkan pada stabilitas nilai tukar rupiah, pembukaan ruang penurunan suku bunga untuk mendorong pertumbuhan di tengah inflasi rendah, serta ekspansi likuiditas agar perbankan memiliki ruang menyalurkan kredit ke sektor riil. Ketahanan eksternal juga dijaga melalui kecukupan cadangan devisa.

Kebijakan makroprudensial direncanakan tetap longgar pada 2026 dan 2027. Langkah ini ditujukan untuk mendorong pertumbuhan kredit dan pembiayaan sektor riil.

BI juga menyiapkan insentif likuiditas makroprudensial bagi bank yang aktif menyalurkan kredit ke sektor prioritas dan menurunkan suku bunga kredit secara proaktif.

Peran bank sentral, menurut Perry, juga diarahkan untuk memperkuat UMKM dan ekonomi kreatif. Dukungan diberikan selaras dengan program Asta Cita pemerintah untuk memperkuat ekonomi kerakyatan.

Pada bidang sistem pembayaran dan pembiayaan, BI akan mengembangkan infrastruktur seperti BI-FAST untuk transaksi domestik dan lintas negara.

Bank sentral juga menyiapkan program pengembangan talenta digital. Sebanyak 800 anak muda akan diseleksi dan dibina selama enam bulan, dengan kurikulum kewirausahaan, sandboxing, serta temu investor.

“Do our best for the country, for the people. Bank Indonesia akan mengarahkan bauran kebijakan kami, moneter, makroprudensial, sistem pembayaran, dan lain-lain, untuk menjaga stabilitas, mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” ujar Perry.

Ia juga menekankan pentingnya sinergi lintas pemangku kepentingan. Lima pilar utama yang ditekankan meliputi kerja sama pemerintah, Komite Stabilitas Sistem Keuangan, perbankan, pelaku industri sistem pembayaran dan pasar keuangan, dunia akademis, serta masyarakat.

Sinergi tersebut mencakup penguatan hubungan kebijakan fiskal dan moneter, dukungan terhadap hilirisasi sumber daya alam dan industrialisasi, serta dukungan terhadap program prioritas pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis, Koperasi Desa Merah Putih, Sekolah Rakyat, dan Perumahan Rakyat.

Pendalaman pasar keuangan juga menjadi perhatian. Perry mencatat rata-rata transaksi harian pasar uang telah melampaui Rp 55 triliun, sementara transaksi pasar valuta asing mencapai sekitar 10 miliar dollar AS per hari. Pembiayaan proyek strategis didorong melalui kredit perbankan dan penerbitan sekuritas.

Di sisi lain, BI menyiapkan penguatan ekosistem digital. Sekitar 60 hingga 79 persen penduduk Indonesia saat ini berasal dari generasi milenial.

“Mereka adalah pemimpin masa depan, masa depan ekonomi kita,” kata Perry.

Tag:  #bank #indonesia #prediksi #pertumbuhan #ekonomi #tembus #persen #pada #2027

KOMENTAR