Melihat Dampak Ketegangan Geopolitik ke Iklim Investasi di Indonesia
Ilustrasi peta dunia.(iStockPhoto/loops7)
23:08
15 Januari 2026

Melihat Dampak Ketegangan Geopolitik ke Iklim Investasi di Indonesia

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Roeslani mengakui bahwa dinamika geopolitik global turut memberikan dampak terhadap arus investasi, termasuk ke Indonesia.

Namun, ia menegaskan bahwa pemerintah tetap optimistis investasi nasional akan terus tumbuh dengan menjaga faktor-faktor yang berada dalam kendali domestik.

“Yang di dalam kontrol kita itu yang coba kita selalu perbaiki, kita selalu tingkatkan. Terutama dari apa? Dari segi regulasi dan juga kebijakan supaya menjadi environment friendly untuk investasi. Itu yang kita lakukan,” kata Rosan di Jakarta, Kamis (15/1/2026).

Menurut Rosan, konflik dan ketegangan geopolitik internasional merupakan faktor eksternal yang berada di luar kendali Indonesia. Ia mencontohkan berbagai konflik global yang dapat memengaruhi stabilitas ekonomi negara-negara lain.

“Masalah geopolitik itu kan di luar kontrol kita. Itu bukan hanya Indonesia, tapi berdampak ke banyak negara,” ujar Rosan.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani saat memberikan pidato penghubung di acara Kompas100 CEO Forum di ICE BSD, Rabu (26/11/2025).KOMPAS.com/ISNA RIFKA SRI RAHAYU Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani saat memberikan pidato penghubung di acara Kompas100 CEO Forum di ICE BSD, Rabu (26/11/2025).Meski demikian, Rosan menegaskan pemerintah fokus memperbaiki aspek-aspek yang bisa dikendalikan di dalam negeri, terutama dari sisi regulasi dan kebijakan agar semakin ramah terhadap investasi.

“Yang bisa kita kontrol adalah bagaimana regulasi dan kebijakan kita dibuat semakin environment friendly untuk investasi. Itu yang terus kita perbaiki,” katanya.

Rosan mengakui bahwa ketegangan geopolitik dapat berdampak pada investasi global, terutama ketika negara-negara lain lebih disibukkan dengan persoalan internal masing-masing. Kondisi tersebut berpotensi menekan minat investasi keluar negeri.

“Kalau ditanya apakah ada dampaknya, ya pastinya adalah investasi ya. Dampaknya ke negara-negara lain mungkin. Karena contohnya kan negara-negara itu kalau disibukkan dengan masalah internalnya ya mungkin masalah investasinya akan berkurang,” kata dia.

Namun, ia menilai Indonesia memiliki posisi yang relatif kuat karena diversifikasi sumber investasi yang selama ini sudah berjalan dengan baik. Selain itu, komitmen investor asing terhadap Indonesia disebut masih tetap tinggi.

“Tapi kita sudah melihat alternatif-alternatif itu kan penyebaran investasinya kita selama ini sudah sangat baik dan negara-negara yang masuk ke kita komitmennya juga masih terus tinggi,” ungkap dia.

Untuk menjaga kepercayaan investor, BKPM terus aktif melakukan komunikasi langsung dengan para investor dan mitra internasional, baik melalui pertemuan tatap muka maupun secara daring. Pemerintah juga secara proaktif mendengarkan kebutuhan investor guna menekan tingkat ketidakpastian.

“Investor sebenarnya tahu risiko-risiko apa saja. Yang mereka tidak suka itu ketidakpastian yang tinggi karena sulit dimitigasi,” jelas Rosan.

Ia menegaskan bahwa pemerintah berupaya menurunkan tingkat ketidakpastian tersebut agar risiko investasi dapat diukur dengan lebih jelas oleh investor.

Di tengah meningkatnya ketegangan politik global, Rosan menilai persaingan antarnegara dalam menarik investasi juga semakin ketat.

Menurut dia, Indonesia harus bersaing dengan negara-negara kawasan seperti Malaysia dan Thailand, termasuk dalam sektor strategis seperti pusat data (data center).

Meski demikian, Rosan menilai Indonesia masih memiliki sejumlah keunggulan kompetitif, antara lain harga listrik yang relatif lebih kompetitif, bonus demografi, serta stabilitas nasional yang terjaga dengan baik.

“Kita punya advantage, tapi tidak boleh terlena. Kita harus kerja lebih keras lagi karena kompetisinya makin ketat,” tegasnya.

Sebagai informasi, target realisasi investasi tahun 2025, mencapai Rp 1.931,2 triliun atau 101,3 persen dari target pemerintah dan tumbuh 12,7 persen Yoy. Nilai ini, naik dibandingkan target awal tahun 2025 sebesar Rp 1.905 triliun.

Tag:  #melihat #dampak #ketegangan #geopolitik #iklim #investasi #indonesia

KOMENTAR