Swasembada Beras, Pedagang Pasar Pusing Hadapi HET dan Harga Distributor
- Presiden Prabowo Subianto telah mengumumkan bahwa Indonesia mencapai swasembada beras pada 2025.
Sepanjang tahun tersebut, pemerintah sama sekali tidak mengimpor beras dari luar negeri karena produksi beras yang mencapai 34,7 juta ton memenuhi kebutuhan domestik.
Namun, di balik kegembiraan itu pedagang beras di pasar masih pusing karena dihadapkan pada harga yang tinggi dari distributor dan aturan harga eceran tertinggi (HET) saat menjual ke konsumen dari pemerintah.
Adapun HET menjadi salah satu instrumen kebijakan pemerintah dalam pengendalian harga bahan pangan.
Pedagang beras Pasar Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Timan (45) saat ditemui di kiosnya, Jumat (9/1/2026).Pedagang beras Pasar Lenteng Agung, Timan (45) mengungkapkan, pedagang beras diminta pemerintah menjual beras medium dengan HET Rp 13.500 per kilogram.
“Cuma kalau kita kan belanjanya kan dari ke swasta ke penggilingan jadi nggak bisa ngikutin harga HET pemerintah. Cuman kita bisa jualnya ngimbangin harga pemerintah doang,” kata Timan saat ditemui di kiosnya, Pasar Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Jumat (9/1/2026).
Oleh karena itu, sebisa mungkin Timan harus membeli beras dari distributor dengan harga di bawah HET agar tetap bisa mendapatkan untung ketika menjual beras dengan harga yang ditetapkan pemerintah di zona satu.
Persoalannya, kata Timan, harga beli beras di tingkat distributor naik turun.
Dalam satu bulan terakhir, kata dia, harga beras mengalami kenaikan. Kondisi ini membuat keuntungan pedagang beras seperti dirinya semakin tipis.
“Ya makin tipis, kita harus benar-benar ngikutin aturan pemerintah sih,” ujar Timan.
Sementara, ketika menjual harga di atas HET pedagang bisa terkena sidak petugas.
Di luar itu, sebagai pedagang pasar Timan juga harus melaporkan harga jual ke konsumen kepada Badan Pangan Nasional (Bapanas).
“Jadi perkembangan harga-harga kita harus laporan terus setiap hari,” tutur Timan.
Pedagang beras lainnya, Nano (30) juga mengalami persoalan serupa. Ia harus tetap mengikuti HET yang ditetapkan pemerintah sembari menghadapi naik turunnya harga beras dari distributor.
Nano menjual harga beras medium dengan harga Rp 13.500 per kilogram sebagaimana ketentuan HET pemerintah.
Ketika menghadapi harga beras yang fluktuatif, ia hanya bisa mengambil sedikit keuntungan.
“Ngepres. Kalau kita jual karungan, paling karung itu kita ngambil untung Rp 10.000,” ujar Nano.
Pedagang beras di Pasar Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Nano (30) saat ditemui di kiosnya, Jumat (9/1/2025).Menurut Nano, terkadang pedagang juga dihadapkan pada perbedaan penilaian klasifikasi beras.
Saat membeli ke penggilingan padi misalnya, pedagang beras membayar dengan harga beras premium.
Namun, saat hendak menjual beras itu dengan harga premium dilarang oleh Satgas Pangan.
Mereka menilai beras itu masuk kategori medium sehingga harus menjual dengan harga medium.
“Kalau dari gilingan beras kayak gini kan kadang ada apa gilingan katanya sudah premium, pas sidak katanya belum, gitu,” kata Nano.
Sementara itu, warga Lenteng Agung, Rendy Muhammad (30) mengaku mengetahui pemerintah telah mengumumkan swasembada beras.
Namun, sebagai konsumen Rendy mengaku belum merasakan perbedaan beras saat pemerintah masih mengimpor maupun sudah swasembada.
Rendy mengaku biasanya membeli beras medium dengan aharga Rp 13 ribu hingga Rp 14 ribu per kilogram.
“Untuk saat ini sih belom ngerasain bedanya impor atau ga impor ya. Karena harga beras juga masih naik turun sih,” ujar Rendy.
Baginya yang terpenting adalah beras mudah didapat dan harganya terjangkau bagi masyarakat biasa seperti dirinya.
Menurutnya, beras menjadi salah satu komponen kebutuhan hidup yang memakan anggaran bulanan cukup besar.
Terlebih, ia biasa membawa bekal ke kantor setiap hari. Ketika harga beras maupun bahan pangan lain seperti telur naik sangat merasakan dampaknya.
“Yang paling penting harganya terjangkau untuk masyarakat menengah ke bawah,” kata Rendy.
Prabowo umumkan Indonesia Swasembada Pangan
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto mengumumkan Indonesia resmi telah mencapai swasembada beras pada 2025.
Pengumuman itu disampaikan dengan memukul lesung sebagai simbol capaian swasembada beras.
Prabowo menyampaikan terimakasih atas keras jajarannya dan para petani di Indonesia.
“Saya Prabowo Subianto presiden Republik Indonesia dengan ini mengumumkan telah tercapainya swasembada pangan tahun 2025 bagi seluruh bangsa Indonesia,” kata Prabowo di Cilebar, Karawang Timur, Jawa Barat, Rabu (7/1/2026).
Tag: #swasembada #beras #pedagang #pasar #pusing #hadapi #harga #distributor