4 Kata Sederhana Membentuk Rasa Tanggung Jawab Remaja
- Mengajarkan tanggung jawab pada anak, terutama yang mulai beranjak remaja, sering kali menjadi tantangan tersendiri bagi orangtua. Di usia ini, anak sedang mencari jati diri, menguji batasan, sekaligus belajar mandiri.
Membangun rasa tanggung jawab tidak selalu harus dimulai dari aturan yang rumit atau hukuman yang keras.
Justru, pilihan kata yang digunakan orangtua dalam keseharian memiliki peran besar dalam membentuk cara berpikir remaja tentang tugas, kewajiban, dan konsekuensi.
Pendidik dan penulis buku parenting, Julie Lythcott-Haims menyebut bahwa ada empat kata kunci yang dapat membantu orangtua menanamkan rasa tanggung jawab secara sehat dan berkelanjutan.
Baca juga: Remaja Mudah Stres karena Media Sosial? Psikolog Ungkap Pemicunya
4 kata sederhana yang bisa membentuk rasa tanggung jawab remaja
1. Tugas (Assignment)
Kata pertama yang penting adalah tugas. Menurut Lythcott-Haims, tanggung jawab selalu dimulai dari adanya penugasan yang jelas.
Anak yang mulai besar perlu memahami bahwa ada hal-hal tertentu yang memang menjadi bagiannya untuk dikerjakan, bukan sekadar bantuan sukarela.
“Bagi saya, tanggung jawab terdiri dari empat bagian, dan yang pertama adalah penugasan. Artinya, kita mengharapkan anak melakukan sesuatu, atau sudah ada kesepakatan bersama bahwa itu adalah tugasnya,” ujar Lythcott-Haims, seperti dilansir PureWow, Selasa (24/2/2026).
Dalam praktik sehari-hari, orangtua dapat menggunakan kata ‘tugas’ untuk menegaskan peran anak di rumah, seperti merapikan kamar, mencuci piring, atau mengurus perlengkapan sekolahnya sendiri.
Dengan penugasan yang konsisten, anak belajar bahwa kontribusinya dibutuhkan dalam keluarga.
Baca juga: Belajar dari Kasus Bullying Timothy, Psikolog: Empati itu Bentuk Tanggung Jawab Moral
Ilustrasi menasihati remaja laki-laki.
2. Mampu (Ability)
Kata kedua adalah mampu. Tanggung jawab tidak akan tumbuh jika anak merasa tidak dibekali kemampuan untuk melakukannya. Di tahap ini, peran orangtua adalah mengajarkan cara, bukan mengambil alih.
Lythcott-Haims menjelaskan, kemampuan bisa dibangun dengan dua cara, yaitu mengajarkan langkah-langkahnya atau memberi kepercayaan bahwa anak bisa belajar sendiri.
“Kita selalu ada jika mereka membutuhkan bantuan, tetapi kita juga menunjukkan bahwa kita percaya mereka bisa melakukannya,” katanya.
Dengan menekankan kata ‘mampu;, orangtua membantu anak membangun rasa percaya diri. Anak pun belajar bahwa tanggung jawab bukan beban, melainkan keterampilan yang bisa dilatih.
Baca juga: Berani Curhat Saat Stres Tanda Kamu Punya Mental Sehat Menurut Psikolog
3. Mandiri (Autonomy)
Setelah diberi tugas dan dibekali kemampuan, anak perlu ruang untuk melakukannya dengan caranya sendiri.
“Kami selalu di sini jika ada keadaan darurat, tetapi kami percaya kamu bisa mengerjakannya,” tutur Lythcott-Haims.
Ia menekankan, sikap ini adalah kebalikan dari pola asuh yang terlalu mengontrol. Ketika orangtua memberi kepercayaan, anak belajar mengambil keputusan dan menghadapi konsekuensinya.
Inilah proses penting dalam membentuk rasa tanggung jawab yang matang dan tidak bergantung pada pengawasan terus-menerus.
Baca juga: Konten Instagram yang Bisa Bikin Remaja Tidak Puas dengan Tubuhnya
4. Akuntabilitas (Accountability)
Kata terakhir adalah akuntabilitas, yaitu kesediaan anak untuk menyelesaikan tugas dan menerima umpan balik. Tanggung jawab tidak berhenti pada proses, tetapi juga pada hasil.
Menurut Lythcott-Haims, akuntabilitas berarti orangtua tetap memantau dan memberikan evaluasi, bukan untuk menghakimi, melainkan untuk membantu si remaja belajar.
“Anak perlu melihat sebuah tugas sampai selesai, dan orangtua berperan memberi masukan tentang bagaimana prosesnya berjalan,” ungkap dia.
Dengan konsep ini, anak belajar bahwa setiap tanggung jawab memiliki konsekuensi, baik positif maupun negatif, yang harus dihadapi dengan sikap dewasa.
Baca juga: Kenapa Anak Remaja Sering Ngegas Saat Ditegur Orangtua? Ini Penjelasan Psikolog
Mengajarkan tanggung jawab dimulai dari orangtua
Lebih jauh, Lythcott-Haims menegaskan bahwa orangtua perlu menjadi contoh.
“Jika ingin mengajarkan tanggung jawab, kamu sendiri harus menjadi pribadi yang bertanggung jawab,” ujarnya.
Ia menyarankan kebiasaan sederhana seperti makan bersama keluarga, membahas jadwal dan tugas rumah, serta melibatkan anak dalam pembagian peran.
Dengan begitu, anak melihat bahwa menjalankan rumah tangga adalah usaha bersama, bukan kewajiban sepihak.
Baca juga: Studi: Kontrol Orangtua Terlalu Ketat Picu Kecemasan Sosial Pada Remaja
Tag: #kata #sederhana #membentuk #rasa #tanggung #jawab #remaja