Fenomena Antre Barang Viral, INDEF: Dipicu FOMO dan Status Sosial
Ilustrasi belanja, promo belanja. (FREPIK/RAWPIXEL.COM)
18:52
17 Mei 2026

Fenomena Antre Barang Viral, INDEF: Dipicu FOMO dan Status Sosial

- Fenomena antrean panjang demi membeli jam tangan hingga parfum viral di pusat perbelanjaan dinilai tidak lepas dari dorongan status sosial dan pengaruh media sosial di kalangan masyarakat perkotaan.

Di tengah tekanan ekonomi yang masih dirasakan sebagian masyarakat, perilaku konsumtif tersebut justru disebut lebih banyak terjadi pada kelompok menengah atas di kota besar.

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Tauhid Ahmad mengatakan, fenomena tersebut erat kaitannya dengan simbol status sosial yang terbentuk melalui tren di media sosial.

Baca juga: Warga Antre Beli Parfum dan Jam Tangan, Bukan Tanda Ekonomi Baik?

Ilustrasi parfum, parfum viral. PEXELS/ADORE R Ilustrasi parfum, parfum viral.

“Ini fenomena kelas menengah ke atas. Karena media sosial, akhirnya muncul simbol status sosial. Ada beberapa kalangan yang merasa memakai jam tangan mahal atau barang terbaru menunjukkan status sosialnya lebih tinggi dibandingkan yang lain,” ujar Tauhid kepada Kompas.com, Minggu (17/5/2026).

Kepemilikan barang tak cuma soal fungsi, tapi identitas sosial

Menurut dia, kepemilikan barang-barang tertentu kini bukan hanya soal fungsi, tetapi juga menjadi bagian dari identitas sosial dan simbol keberhasilan hidup seseorang.

“Kalau sudah punya barang sosial seperti itu, berarti menggambarkan dia sudah masuk pada level kesuksesan atau keberhasilan dalam hidupnya,” katanya.

Selain faktor status sosial, Tauhid menilai fenomena fear of missing out (FOMO) juga berperan besar dalam mendorong masyarakat rela mengantre demi mendapatkan produk yang sedang viral.

Baca juga: Dampak Nyata Fluktuasi Dolar terhadap Ekonomi Pedesaan

“Ada fenomena kalau ada barang baru itu ya fenomena FOMO. Apalagi kalau barang itu lagi viral dan susah didapat, akhirnya sering dibicarakan,” ujarnya.

Ilustrasi belanja.PIXABAY/PREIS_KING Ilustrasi belanja.

Ia menjelaskan, kelangkaan produk justru menciptakan efek psikologis tersendiri bagi konsumen.

Antrean panjang hingga kesulitan memperoleh barang membuat produk tersebut dianggap memiliki nilai lebih tinggi dibandingkan barang yang mudah ditemukan di pasaran.

“Kalau ikut antrean dan sebagainya, merasa barang itu lebih berharga dibandingkan yang lain. Ada efek psikologis dan emosional dalam konsumsi barang-barang tersebut,” kata Tauhid.

Baca juga: Rupiah Tembus Rp 17.500 Per Dollar AS, Purbaya: Jangan Panik, Ekonomi RI Tak Akan Seburuk Krisis 1998

Tak bisa jadi gambaran umum kondisi kelas menengah Indonesia

Meski demikian, Tauhid menilai fenomena tersebut tidak bisa dijadikan gambaran umum kondisi kelas menengah Indonesia secara keseluruhan.

Menurutnya, perilaku konsumtif seperti ini lebih banyak terjadi di kota besar dan pada kelompok masyarakat yang masih memiliki simpanan atau daya beli relatif kuat.

“Menurut saya ini tidak menggambarkan fenomena kelas menengah secara umum. Hanya terjadi di kota-kota besar dan tempat-tempat tertentu saja,” ucapnya.

Mengutip Instagram @localpridegarage, fenomena antrean panjang ramai menjadi sorotan publik setelah sejumlah video viral memperlihatkan anak-anak hingga remaja rela berdesakan demi membeli parfum lokal merek Mykonos di kawasan Pondok Indah Mall, Jakarta.

Baca juga: Ekonom Sebut Investor Nilai Ketahanan Ekonomi Indonesia Rentan, Defisit APBN Jadi Sorotan

Dalam sejumlah unggahan media sosial, antrean panjang terlihat mengular di gerai parfum di dalam pusat perbelanjaan.

Banyak pengunjung mengaku datang sejak pagi demi mendapatkan produk yang tengah viral tersebut setelah ramai diulas oleh streamer dan konten kreator di media sosial.

Sementara itu, peluncuran koleksi jam tangan saku terbaru hasil kolaborasi Audemars Piguet dan Swatch memicu kehebohan di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia pada Sabtu (16/5/2026).

AP x Swatch Royal Pop Collection varian OTG Roz (kiri), Blaue Acht (tengah), dan Lan Ba (kanan).dok. Swatch AP x Swatch Royal Pop Collection varian OTG Roz (kiri), Blaue Acht (tengah), dan Lan Ba (kanan).

Banyak penggemar horologi rela mengantre sejak pagi buta di depan gerai Swatch yang berlokasi di mal Grand Indonesia, Jakarta Pusat, dan Pacific Place, Jakarta Selatan, demi mendapatkan seri bertajuk Royal Pop Collection.

Baca juga: Konsumsi Rumah Tangga Kontributor Pertumbuhan Ekonomi Saat Rupiah Melemah

Dalam berbagai video di media sosial, terekam jelas tingginya antusiasme para pembeli. Antrean pengunjung mengular, bahkan sejak sebelum mal dibuka.

Saking ramainya, petugas keamanan setempat pun dilaporkan sempat harus turun tangan menertibkan barisan massa yang terus bertambah.

Pihak Swatch pun mengeluarkan pernyataan tertulis perihal situasi tersebut.

"Untuk memastikan keselamatan pelanggan dan staf kami di toko Swatch, kami mohon Anda tidak terburu-buru datang ke toko kami dalam jumlah besar untuk mendapatkan produk ini," tulis mereka dalam unggahan akun Instagramnya, Minggu dini hari.

Baca juga: Orkestra Ekonomi 8 Persen, Siapa Memainkan Nadanya?

"The Royal Pop Collection akan tetap tersedia selama beberapa bulan. Di beberapa negara, antrean lebih dari 50 orang tidak dapat diterima, dan penjualan mungkin perlu dihentikan," lanjut mereka.

Tag:  #fenomena #antre #barang #viral #indef #dipicu #fomo #status #sosial

KOMENTAR