Rupiah Anjlok, Ini Strategi Aman Kelola Tabungan
Ilustrasi dampak pelemahan rupiah terhadap dollar AS.(SHUTTERSTOCK/MELIMEY)
19:12
17 Mei 2026

Rupiah Anjlok, Ini Strategi Aman Kelola Tabungan

Pelemahan rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) menimbulkan kekhawatiran terkait keamanan nilai tabungan dan penempatan investasi pada instrumen yang tepat.

Rupiah terpantau terus melemah hingga sempat menyentuh level Rp 17.600 per dollar AS.

Kondisi ini membuat harga-harga barang menjadi lebih mahal, terutama yang berasal dari impor.

Baca juga: WGC: Saat Rupiah Bergejolak, Emas Jadi Andalan Investor Indonesia

Dana darurat adalah dana yang disisihkan atau dialokasikan untuk situasi darurat atau genting seperti kehilangan pekerjaan, masalah kesehatan, kecelakaan, atau kerusakan rumah SHUTTERSTOCK/PRAPAN MANUCHON Dana darurat adalah dana yang disisihkan atau dialokasikan untuk situasi darurat atau genting seperti kehilangan pekerjaan, masalah kesehatan, kecelakaan, atau kerusakan rumah

Perencana keuangan Andi Nugroho mengatakan, di tengah kondisi tersebut, yang perlu dilakukan masyarakat adalah memastikan dana darurat dan kebutuhan pokok tetap aman, serta berinvestasi pada instrumen yang likuid dan rendah risiko.

"Kalau memang penghasilan kita terbatas, kita mesti memanajemen pengeluaran yang benar-benar penting dan bersifat wajib dulu, prioritaskan di situ," ujarnya kepada Kompas.com, dikutip Minggu (17/5/2026).

"Kalau belum ada kepentingan ataupun keterdesakan, sebaiknya ditunda dulu. Jadi lebih banyak memang kita saving money (tabung) lah," imbuh Andi.

Ia menuturkan, bagi masyarakat yang memiliki dana lebih untuk berinvestasi, bisa memilih instrumen seperti Surat Berharga Negara ritel (SBN), termasuk ORI dan Sukuk Ritel, yang dinilai lebih stabil dibandingkan instrumen lainnya.

Baca juga: Nilai Tukar Rupiah Melemah, Haruskah Kita Khawatir?

"Dalam kondisi sekarang sih, kalau saya melihat surat utang negara kayak ORI maupun Sukuk Ritel itu justru yang paling aman, karena dia volatilitasnya enggak seekstrem kayak di pasar saham," ucap dia.

Selain itu, reksa dana pasar uang juga disebut sebagai pilihan yang cukup aman untuk investor pemula atau masyarakat yang menginginkan likuiditas tinggi.

Ilustrasi investasi PIXABAY/NATTANAN KANCHANAPRAT Ilustrasi investasi

Instrumen ini menempatkan dana pada deposito dan surat utang jangka pendek, sehingga risikonya relatif rendah dibanding saham.

"Alternatif lain misalnya yang enggak sabaran dengan pergerakan di obligasi kayak ORI, bisa pilih di reksadana yang berbasis pendapatan tetap ataupun di pasar uang. Yang cuan kan sekarang dua itu, terutama yang pasar uang," jelas dia.

Baca juga: Soal Rupiah Melemah, Presiden Prabowo: Orang Desa Tidak Pakai Dollar Kok...

Di sisi lain, Andi menilai emas masih menjadi aset lindung nilai (safe haven) yang bisa dipertimbangkan untuk jangka menengah hingga panjang, meski harganya saat ini sudah berada di level tinggi.

Ia bilang, dalam investasi emas setidaknya diperlukan jangka waktu 3 tahun.

Selain emas, sebagian masyarakat juga bisa melirik tabungan atau investasi dalam dollar AS sebagai bentuk diversifikasi aset.

Namun, Andi mengingatkan bahwa investasi valas sebaiknya tidak dilakukan karena dorongan tren atau FOMO, melainkan untuk tujuan yang jelas seperti kebutuhan pendidikan luar negeri atau perlindungan nilai aset.

Baca juga: Rupiah Melemah, Perlukah Punya Tabungan Dollar AS?

"Jangan karena dollar AS lagi naik terus kemudian FOMO ikut-ikutan beli dollar. Kalau tidak sesuai profil risiko dan tujuan investasi, yang ada nanti justru bisa rugi," ucap dia.

Jika memang ingin mulai membeli dollar AS, Andi juga menyarankan, untuk melakukannya secara bertahap guna mengurangi risiko fluktuasi nilai tukar.

Strategi tersebut dikenal dengan istilah dollar cost averaging, yakni membeli sedikit demi sedikit secara berkala.

"Kalau punya uang dingin dan mau beli dollar AS, jangan langsung semua dibelikan sekaligus. Bisa dicicil, misalnya minggu ini 30 persen dulu, minggu depan beli lagi. Jadi belinya sedikit demi sedikit, untuk memecah risiko juga," kata dia.

Baca juga: Rupiah Anjlok, Haruskah Tabungan Dipindah ke Dollar AS atau Emas?

Andi menegaskan, pada dasarnya tidak ada satu instrumen yang cocok untuk semua orang saat rupiah melemah.

Kunci utama adalah memahami profil risiko dan tujuan keuangan masing-masing.

"Jangan FOMO dulu, kita harus memahami diri kita sendiri, sebenarnya posisinya di mana sih, kita harus tetap belajar dan memahami juga (jenis investasi yang diinginkan), risikonya apa, kapan bisa masuk, kapan harus keluar, itu mesti paham," pungkasnya.

Tag:  #rupiah #anjlok #strategi #aman #kelola #tabungan

KOMENTAR