Kapan Anak Boleh Mulai Berlatih Puasa? Ini Kata Dokter Anak
- Bulan Ramadhan, banyak orangtua bertanya-tanya kapan waktu yang tepat mengenalkan puasa pada anak.
Tak sedikit pula yang langsung mengajak anak ikut sahur dan berpuasa penuh, meski usianya masih balita dan hanya berpuasa setengah hari.
Padahal, menurut CEO & Founder Tentang Anak, dr. Mesty Ariotedjo, Sp.A, MPH, kesiapan anak untuk berpuasa tidak semata soal usia, melainkan juga kondisi pertumbuhan dan kesehatannya secara keseluruhan.
Baca juga: Ramadhan Tanpa Drama, Ini Cara Mengenalkan Puasa pada Anak Menurut Psikolog
“Yang paling penting kapan anak mulai puasa, harus pastiin pertumbuhan anaknya sesuai dalam tahap ideal dan sehat,” kata dr. Mesty saat dihubungi pada Selasa (24/2/2026).
Kapan anak boleh mulai puasa?
Perhatikan tumbuh kembangnya
Hal pertama yang perlu diperhatikan sebelum ayah dan ibu mengajak anak berpuasa adalah memerhatikan tumbuh kembangnya, dan pastikan berada dalam kategori baik.
Hal ini mencakup status gizi hingga kesesuaian berat dan tinggi badan dengan usianya, yang bisa diketahui melalui konsultasi dengan dokter atau dari buku pink alias buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA).
“Indikator pertumbuhan ideal adalah status gizi baik, berat dan tinggi yang sesuai usianya, serta kenaikan berat sesuai kurva,” ujar dr. Mesty.
Pemantauan kurva pertumbuhan menjadi penting, terutama ketika anak mulai berlatih puasa. Sebab, puasa tidak boleh sampai mengganggu kenaikan berat badan atau perkembangan fisik anak.
Usia dan jam tidur anak
Selanjutnya adalah usia dan jam tidur anak. Untuk dr. Mesty sendiri, ia tidak menyarankan anak berusia tiga sampai tujuh tahun untuk mulai sahur pukul 03.00-04.00 seperti anak-anak yang sudah lebih besar dan orang dewasa.
Sebab, anak dalam rentang usia tersebut masih memerlukan tidur malam selama 10 jam tanpa terputus.
Ia menjelaskan, tidur malam tanpa terputus selama 10 jam memiliki dampak signifikan terhadap perkembangan anak usia tersebut.
“Studi menunjukkan, anak usia tiga sampai tujuh tahun yang tidur tanpa terputus selama 10 jam, memiliki kemampuan pemecahan masalah, serta kognitif dan emosi yang lebih baik,” ujar dr. Mesty.
Lebih lanjut, anak dalam rentang usia tersebut masih memerlukan hormon pertumbuhan, yang diproduksi oleh tubuh saat anak memasuki tidur lelap pukul 22.00-02.00.
“Yang mana, hormon pertumbuhan yang optimal tidak hanya penting untuk tinggi badan, tapi juga perkembangan otak dan imunitas,” terang dr. Mesty.
Baca juga: 40 Kata-kata Semangat Puasa untuk Anak, Cocok untuk yang Baru Belajar Puasa
Lantaran hormon pertumbuhan sangat penting untuk tumbuh kembang anak, mengorbankan jam tidur demi sahur pada anak dalam rentang usia tersebut, terlalu dini dan dinilai perlu dipertimbangkan kembali.
Jika jam tidur terganggu sepanjang Ramadhan, potensi dampaknya berkaitan dengan aspek perkembangan tersebut.
Waktu sahur
Pada keluarga yang ingin mengajak anak berusia tiga sampai tujuh tahun berpuasa, dr. Mesty menyarankan agar anak diajak sahur pada waktu sarapan, mengingat mereka perlu tidur selama 10 jam tanpa terputus dan mendapatkan hormon pertumbuhan.
“Tapi kembali lagi ke nilai keluarga masing-masing. Di usia ini, aku terapkannya sahurnya pas sarapan. Dan puasa semampunya saja sampai lapar banget misalnya,” ucap dia.
Durasi puasa ditambah secara bertahap
Setelah usia tujuh tahun, anak bisa mulai diajak sahur dan berlatih puasa secara bertahap dengan batas waktu tertentu.
“Setelah usia tujuh tahun, mulai diajak sahur dan latihan konsisten ada batas waktu tertentu, seperti sampai waktu shalat dzuhur, ashar, atau kalau bisa lanjut juga lebih baik. Yang penting, dipantau juga kurva pertumbuhan dan berat badannya,” kata dr. Mesty.
Ketika memasuki usia remaja, puasa dapat dijalankan seperti orang dewasa pada umumnya. Namun, ia mengingatkan bahwa aspek tidur juga tetap perlu diperhatikan.
“Setelah usia itu masuk remaja, dijalankan puasa seperti seharusnya. Kadang yang juga terganggu adalah tidurnya,” ucap dr. Mesty.
Jadikan puasa sebagai latihan disiplin
Perihal bulan puasa, dr. Mesty mengatakan bahwa ini bukan hanya momen orangtua mempersiapkan fisik anak agar lancar berpuasa kelak.
Menurut dia, Ramadhan juga bisa dimanfaatkan sebagai momen melatih kedisiplinan anak. Salah satunya melalui pengaturan waktu tidur yang konsisten.
“Mulai jalankan rutinitas tidur, mulai dari baca buku bersama hingga pijat untuk membantu tidur yang nyenyak,” kata dr. Mesty.
Rutinitas sebelum tidur membantu anak mendapatkan kualitas istirahat yang baik. Dengan tidur yang cukup, anak dapat bangun sahur dalam kondisi segar dan tetap fokus saat beraktivitas di sekolah.
Baca juga: Cara Nikita Willy Ajarkan Anak Puasa, Kenalkan Suasana Ramadan
Kenalkan puasa tanpa membebani
Terkait pengenalan konsep puasa, dr. Mesty menyarankan agar orangtua memberi contoh terlebih dahulu. Anak cenderung belajar melalui observasi dan rasa ingin tahu.
“Caranya dengan kita puasa terlebih dahulu, beribadah. Anak pasti akan bertanya. Di situlah komunikasi dan pemahaman bisa masuk secara halus,” ucap dia.
Dengan pendekatan ini, anak tidak merasa diperintah atau dipaksa. Sebaliknya, rasa penasaran justru mendorong mereka ingin mencoba.
“Anak jadi penasaran juga ingin berpuasa. Karena dari pengalaman, anak saya yang minta,” ungkap dr. Mesty.
Menurutnya, pengenalan yang natural dan tidak membebani, membantu anak memahami makna puasa secara bertahap. Namun, fokus utamanya tetap pada kesehatan, pertumbuhan optimal, dan kesiapan masing-masing anak.
Dengan memastikan status gizi baik, kurva pertumbuhan terpantau, serta kebutuhan tidur terpenuhi, orangtua dapat mengenalkan puasa secara lebih bijak dan sesuai tahap perkembangan anak.
Baca juga: Bahaya Anak Puasa Tanpa Sahur, Dokter Ungkap Risikonya
Tag: #kapan #anak #boleh #mulai #berlatih #puasa #kata #dokter #anak