Mengenal Backfilling Mining, Metode Tambang Bawah Tanah yang Diklaim Lebih Ramah Lingkungan
- Metode backfilling mining merupakan metode penambangan bawah tanah yang mengutamakan keselamatan kerja dan perlindungan lingkungan. Keunggulan utama cut and fill mining adalah minimnya pembukaan lahan di permukaan sehingga hutan dan ekosistem tetap terjaga.
Ketua Bidang Hilirisasi Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Muhammad Toha menjelaskan, metode ini dilakukan dengan menambang bijih mineral secara bertahap. Kemudian, mengisi kembali rongga bekas tambang (backfilling) menggunakan tailing atau material sisa hasil pengolahan yang telah di-treatment sehingga sesuai dengan standar baku mutu.
Metode ini didukung teknologi pengolahan modern, termasuk fasilitas pengolahan sulfur guna memastikan tailing aman bagi lingkungan dan masyarakat. Sebelum dipergunakan, material backfill dicampur dengan semen untuk meningkatkan kekuatan, kestabilan, serta mencegah rembesan ke tanah dan air tanah.
Bukan sekadar mengisi lubang, teknik ini telah berevolusi menjadi strategi teknis untuk mendukung keselamatan operasional sekaligus meminimalkan jejak ekologis. "Metode backfill ini diadopsi di dalam negeri sejak 2015 dan memang terbukti ramah lingkungan," jelasnya, Selasa (24/2).
Dulu, lanjut dia, tidak terpikir untuk mengolah limbah di dalam negeri. Sejak ada kebijakan hilirisasi. Kemudian terpikirkan bagaimana mengelola sisa hasil pengolahan diantaranya, tailing, slag, dan waste atau limbah. Sehingga, industri pertambangan nasional mengadopsi metode backfill.
Konsep dari metode backfill yakni kegiatan penambangan mengambil material ekonomis, yang tidak ekonomis kemudian dijadikan material penutup. Area yang sudah selesai ditambang ditutup, kemudian direklamasi dan regevetasi.
Tujuannya adalah mengembalikan lagi material tambang dengan beberapa skema teknis untuk memastikan bahwa material tailing dikembalikan ke area tambang. Ini memungkinkan untuk di reklamasi dan tanaman tumbuh dengan normal.
"Di China hasilnya positif dan bagus, tanaman tumbuh baik dan tak ada isu mengenai lingkungan," paparnya.
Menurut Toha, tidak semua limbah tambang dapat digunakan sebagai material pengisi. Waste yang digunakan harus memenuhi standar baku mutu, antara lain pH netral (7–9), lulus uji TCLP, serta uji tingkat radioaktivitas.
Kegiatan reklamasi pascatambang membutuhkan material yang banyak untuk menutup bekas lubang tambang. "Ada material tailing yang bisa digunakan. Dari sisi pertambangan ada solusi positif, tidak ada kesulitan mencari bahan penutup," ungkapnya.
Dari pengolahan, ada kepastian untuk penempatan tailing yakni di-backfilling. Dari sisi lingkungan, hal itu itu menjadi positif, karena tailing, slag, maupun waste kalau tidak dikelola dengan baik akan menjadi beban lingkungan.
"Dengan adanya backfilling, beban lingkungan bisa teratasi. Konsep itu sudah proven di China," tegasnya.
Beberapa perusahaan tambang dunia menggunakan teknik backfilling untuk mengurangi tailing, antara lain Linglong Gold Mine (LLGM), Tiongkok yang menggunakan cemented tailings backfill (CTB) untuk mengisi lubang bekas bukaan tambang bawah tanah (voids of mine stope), memungkinkan 15,8 tahun tanpa pelepasan tailing baru.
Kemudian Bluestone Mines Tasmania yang memanfaatkan cemented paste backfill untuk dukungan tanah, mengalihkan 88.500 ton tailing/tahun dari fasilitas penyimpanan tailing permukaan.
Salah satu tambang di Indonesia yang berencana akan menerapkan metode backfill adalah tambang bawah tanah seng dan timah hitam di Dairi, Sumatera Utara milik PT Dairi Prima Mineral. Penerapan metode ini di Indonesia dapat dilakukan setelah memenuhi persyaratan teknis, lingkungan, serta memperoleh izin teknis resmi dari pemerintah.
Sedangkan Direktur Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan (Pushep) Bismar Bakhtiar menilai, perusahaan tambang yang beroperasi di Indonesia melakukan pencegahan dan mitigasi dengan melakukan reklamasi pascatambang. "Pertambangan sepanjang dilakukan dengan good mining practice maka aman," tegasnya.
Tag: #mengenal #backfilling #mining #metode #tambang #bawah #tanah #yang #diklaim #lebih #ramah #lingkungan