Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Diadang Jebakan, Dunia Usaha Masih Hati-hati
– Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 mencapai 6 persen.
Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi nasional tahun depan berada di level 5,33 persen.
Target tersebut dinilai tidak mudah dicapai.
Ekonom Senior Universitas Paramadina Wijayanto Samirin memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 2026 berada pada kisaran 4,9–5,1 persen, dengan titik tengah 5 persen.
"Ekonomi berpotensi tumbuh di bawah nilai tengah apabila pemerintah tidak berhasil mengantisipasi lima jebakan ekonomi 2025 yang muncul akibat situasi atau konsekuensi dari kebijakan pemerintah," kata dia.
Wijayanto, yang akrab disapa Wija, menyebut lima jebakan ekonomi 2026 berasal dari program Koperasi Desa Merah Putih, pemotongan Transfer ke Daerah, risiko bencana alam, dramatisasi pemberantasan korupsi, serta kondisi BUMN yang tidak sehat.
Lima Jebakan Ekonomi 2026
Koperasi Desa Merah Putih dinilai memiliki sejumlah masalah mendasar. Proses pembentukan berjalan secara top down. Konsep sering berubah. Keterlibatan masyarakat dinilai minim. Program ini juga berpotensi berkompetisi langsung dengan usaha milik warga.
"Bersifat zero sum, dampak ekonomi relatif rendah," ujar dia.
Risiko kegagalan dinilai tinggi karena minimnya jiwa kewirausahaan pengelola. Wija juga menilai potensi korupsi terbuka lebar.
"Pengalaman Bumdes, hanya sekitar 5 persen yang berhasil. Padahal melibatkan masyarakat dan dibangun dengan persiapan yang lebih matang. Success rate KDMP berpotensi lebih rendah," ungkap dia.
Pemotongan Transfer ke Daerah juga menjadi jebakan berikutnya. Proporsi TKD terus menurun dan memberi sinyal resentralisasi fiskal.
Sekitar dua pertiga provinsi sangat bergantung pada TKD untuk menopang APBD. Ketergantungan kabupaten dan kota bahkan lebih tinggi. Banyak daerah mengalokasikan 80–85 persen APBD untuk belanja rutin.
Pemotongan TKD hingga 17,7 persen pada APBN 2026 dinilai berisiko menekan fiskal daerah.
Proyek daerah terancam dihentikan. Tenaga honorer berpotensi dirumahkan.
"Peran daerah sebagai motor pertumbuhan ekonomi akan berkurang," ungkap dia.
Risiko bencana alam juga dinilai meningkat. Faktor global seperti perubahan cuaca dan faktor domestik berupa kerusakan lingkungan memperbesar ancaman.
BMKG memprediksi berbagai bencana, termasuk siklon pada awal tahun.
Anggaran BNPB terus menurun. Pemangkasan TKD membuat daerah semakin terbatas dalam upaya mitigasi dan penanganan bencana.
"Selain membutuhkan anggaran rehabilitas, bencana juga menghambat aktivitas ekonomi, tekanan bagi perutmbuhan PDB," ungkap dia.
Jebakan berikutnya muncul dari dramatisasi pemberantasan korupsi. Wija menilai nilai korupsi melonjak dalam 10 tahun terakhir.
Kondisi ini berisiko merusak reputasi nasional, menekan indeks persepsi korupsi, serta membuat pelaku usaha menahan ekspansi.
BUMN Sakit Perlu Ditangani
Penanganan BUMN bermasalah menjadi jebakan terakhir.
Danantara dinilai menghadapi tantangan besar untuk berperan sebagai motor ekonomi dan sovereign wealth fund kelas dunia.
Kondisi BUMN yang diwarisi dinilai tidak sehat dan membutuhkan restrukturisasi mahal serta kompleks.
Sebanyak 95 persen dividen berasal dari delapan BUMN, terutama empat bank Himbara. Gambaran ini menunjukkan sebagian besar dari sekitar 1.000 BUMN berada dalam tekanan.
Danantara dinilai perlu ruang inovasi agar mampu berkembang menjadi Temasek atau Khazanah versi Indonesia dalam satu dekade.
Dunia Usaha Masih Hati-hati
Analis Kebijakan Ekonomi Apindo Ajib Hamdani menyebut dunia usaha memproyeksikan pertumbuhan ekonomi pada kisaran 5,0–5,4 persen.
"Pertumbuhan tetap positif, namun penuh kehati-hatian," ungkap dia.
Target pertumbuhan 6 persen dinilai memungkinkan. Menteri Keuangan menyampaikan optimisme tersebut pada akhir Desember 2025.
Belanja pemerintah sejak awal tahun serta sinkronisasi kebijakan fiskal dan moneter menjadi penopang utama.
"Optimisme Menkeu dalam mendongkrak pertumbuhan ekonomi mencapai 6 persen perlu kita apresiasi dan kita dukung upaya-upaya kemudahan regulasi yang akan didorong," ungkap dia.
RAPBN 2026 menyepakati asumsi pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 persen.
Ajib menyebut sejumlah prasyarat perlu segera dipenuhi agar pertumbuhan bergerak inklusif dan berdaya saing.
Penciptaan lapangan kerja berkualitas menjadi prioritas utama. Investasi dinilai perlu diarahkan ke sektor padat karya formal.
Pola investasi turnkey juga perlu dibatasi melalui rasio tenaga kerja lokal yang jelas.
Pertumbuhan Ekonomi Butuh Bauran Kebijakan
Bauran kebijakan fiskal dan moneter dinilai krusial. Tahun 2025 menjadi masa transisi dari pendekatan stabilitas menuju pertumbuhan.
Ruang fiskal yang sempit, shortfall pajak, serta inefisiensi BUMN menjadi tantangan utama.
"Pemerintah harus mengedepankan prinsip collect more, spending better. Kebijakan moneter juga harus berhati-hati menjaga inflasi tetap di kisaran 2,5 persen plus minus 1 persen," ungkap dia.
Efisiensi biaya usaha juga dinilai mendesak. Fokus diarahkan pada pemangkasan biaya kepatuhan, pembiayaan kompetitif, serta pengendalian biaya energi, logistik, dan tenaga kerja.
Peningkatan produktivitas SDM menjadi syarat berikutnya. Penguatan vokasi, reskilling, dan literasi digital dinilai penting.
Isu upah perlu diimbangi dengan produktivitas. Persaingan ekonomi dinilai berskala regional dan global.
UMKM juga perlu diperkuat melalui kemitraan rantai pasok, insentif fiskal, serta akses pembiayaan.
Keterlibatan dunia usaha secara berkelanjutan dinilai penting melalui dialog kebijakan yang responsif.
"Dengan beberapa catatan yang ada, pertumbuhan ekonomi 6 persen adalah possible, tapi pertumbuhan ekonomi 5,0-5,4 persen lebih achievable," tutup dia.
Ekonomi Indonesia Masih Bertahan di 5 Persen
Chief Economist Group Bank Mandiri Andry Asmoro memproyeksikan ekonomi Indonesia tetap tumbuh rata-rata 5 persen.
"Setelah melalui fase awal tahun yang lambat, akselerasi belanja pemerintah di kuartal akhir, yang melengkapi pelonggaran kebijakan moneter sejak awal tahun, mulai mendorong konsumsi akhir tahun," ungkap dia.
Ketidakpastian global masih tinggi. Dinamika geopolitik terus berlangsung. Arah kebijakan global dinilai sulit ditebak.
Ekonomi Indonesia hingga triwulan III-2025 tumbuh 5,01 persen secara tahunan.
Penempatan dana SAL dan penurunan BI Rate sebesar 125 basis poin turut menopang pertumbuhan.
"Kami memperkirakan Indonesia akan mempertahankan pertumbuhan ekonomi hingga akhir 2025 sebesar 5,03 persen secara tahunan (yoy), ditopang oleh konsumsi domestik, inflasi yang terjaga serta dukungan kebijakan yang akomodatif," ungkap dia.
Belanja ritel tumbuh 3 persen hingga November 2025. Mandiri Spending Index melonjak 40,6 persen.
Inflasi tercatat 2,7 persen secara tahunan.
Kinerja perbankan membaik pada paruh kedua tahun. Kredit tumbuh 7,7 persen. DPK naik 12 persen.
"Kami perkirakan kredit akan tumbuh di kisaran 7-8 persen sementara DPK antara 11-12 persen selama 2025," ungkap dia.
Tiga Pendorong Ekonomi 2026
Akselerasi belanja pemerintah diperkirakan lebih cepat pada 2026.
"Kita kehilangan momentum satu semester di 2025 karena lambannya belanja," ucap dia.
Arah suku bunga yang lebih rendah menjadi pendorong kedua. BI diperkirakan memangkas suku bunga hingga 50 basis poin.
Investasi domestik dengan dukungan Danantara menjadi faktor ketiga.
"Tantangan memang selalu akan datang. Kami melihat tingkat volatilitas 2026 masih akan sama dengan 2025. Namun dibalik tantangan, peluang besar juga menunggu untuk kita raih di 2026," tutup dia.
Tag: #pertumbuhan #ekonomi #indonesia #diadang #jebakan #dunia #usaha #masih #hati #hati