Bappenas Sebut Danantara dan MBG Jadi Belanja Fiskal yang Berdampak ke Ekonomi
Ilustrasi APBN.(KOMPAS/HERU SRI KUMORO)
16:00
8 Januari 2026

Bappenas Sebut Danantara dan MBG Jadi Belanja Fiskal yang Berdampak ke Ekonomi

– Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menilai transformasi belanja negara perlu diarahkan ke program dengan dampak luas dan tinggi.

Contohnya Badan Pengelola Investasi Danantara dan program Makan Bergizi Gratis atau MBG.

Deputi Perencanaan Makro Pembangunan Bappenas Eka Chandra Buana menyebut Danantara dan MBG menjadi program unggulan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Kedua program tersebut mencerminkan upaya menjalankan Rencana Pembangunan Jangka Panjang 2025–2029. Dokumen itu menempatkan pembangunan sebagai fondasi transformasi.

Rencana tersebut mengarahkan pembangunan berjalan berkelanjutan, merata, serta memperkuat kualitas sumber daya manusia.

“Transformasi belanja negara perlu diarahkan kepada program yang dengan leverage effect yang tinggi seperti Danantara dan MBG agar belanja fiskal tidak hanya bersifat konsumtif tetapi juga bisa menghasilkan dampak ekonomi sosial yang terukur,” kata Eka dalam diskusi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) secara daring, Kamis (8/1/2026).

Eka menjelaskan, Danantara berfungsi sebagai instrumen pembiayaan strategis untuk mendorong investasi di sektor prioritas. Investasi tersebut diharapkan memiliki multiplier dan spillover yang tinggi.

Lembaga pengelola BUMN itu berperan meningkatkan efektivitas kebijakan fiskal melalui pendekatan investasi produktif.

MBG diposisikan sebagai investasi pemerintah pada pembangunan sumber daya manusia lintas generasi.

Program tersebut menyasar kebutuhan gizi anak dan dinilai berdampak pada perekonomian jangka menengah hingga panjang.

“Melalui peningkatan kemampuan belajar, peningkatan produktivitas, dan juga bagaimana kita meningkatkan pendapatan sepanjang siklus hidup tersebut,” ujar Eka.

Danantara menjalankan perannya melalui penghimpunan dan pengelolaan investasi. MBG menggunakan mekanisme realokasi anggaran.

Keberlanjutan realokasi tersebut, menurut Eka, memerlukan penerapan Overlapping Generation Model atau OG untuk konteks Indonesia.

Model ini membantu menilai dampak peningkatan belanja gizi saat ini terhadap kualitas SDM, produktivitas, dan penguatan basis ekonomi jangka panjang.

Pendekatan serupa juga digunakan untuk Danantara. Model OG menilai bagaimana investasi strategis saat ini memengaruhi akumulasi modal, pertumbuhan, serta keseimbangan antargenerasi, termasuk risiko dan manfaatnya.

“Berdasarkan kerangka OG, optimisasi Danantara perlu diarahkan pada investasi yang meningkatkan produktivitas faktor produksi jangka panjang, memperluas kapasitas ekonomi generasi mendatang, serta menghasilkan return yang dapat menopang keberlanjutan fiskal tersebut,” tutur Eka.

Forum yang sama juga menghadirkan Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M. Rizal Taufikurrahman.

Rizal menyebut pembangunan nasional masih dihadapkan pada tingginya angka stunting di daerah, yang melampaui rata-rata nasional.

Kondisi pembangunan gizi juga menunjukkan tren perlambatan dan masih berada di atas ambang batas rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO.

“Ini memang menjadi problem ya secara struktural pembangunan nasional,” kata Rizal.

Rizal menilai anggaran MBG memang besar, tetapi bersifat netral terhadap defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.

Program MBG tidak menambah total belanja negara karena dilaksanakan melalui realokasi anggaran.

Kebijakan tersebut lebih mengubah komposisi belanja dibandingkan memberi stimulus fiskal baru.

“Defisit APBN tetap netral ya,” ujar Rizal.

Tag:  #bappenas #sebut #danantara #jadi #belanja #fiskal #yang #berdampak #ekonomi

KOMENTAR