Ekonomi Thailand Lesu, Pelaku Usaha Khawatirkan Resesi
Ekonomi Thailand diproyeksikan menghadapi ekspansi terlemah dalam hampir tiga dekade ke depan.
Komite Tetap Gabungan Bidang Perdagangan, Industri, dan Perbankan (JSCCIB) memperkirakan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Thailand pada 2026 hanya akan berada di bawah 2 persen.
Dikutip dari Bangkok Post, Kamis (8/1/2026), proyeksi tersebut menjadi yang terendah dalam 30 tahun terakhir, di luar periode krisis besar seperti pandemi Covid-19 yang membuat PDB Thailand terkontraksi 6,1 persen pada 2020.
Ilustrasi ekspor.
Lemahnya ekspansi ekonomi ini terutama dipicu oleh kinerja ekspor yang lesu, tingginya utang rumah tangga, serta menurunnya daya saing Thailand di pasar global.
JSCCIB memperkirakan pertumbuhan ekonomi Thailand pada 2026 berada di kisaran 1,6 persen hingga 2 persen. Pada saat yang sama, ekspor diproyeksikan menyusut antara 0,5 persen hingga 1,5 persen.
Sementara itu, inflasi diperkirakan tetap terkendali dalam rentang minus 0,2 persen hingga 0,7 persen.
“Kami khawatir akan resesi ekonomi,” ungkap Kriengkrai Thiennukul, Ketua Federasi Industri Thailand sekaligus anggota JSCCIB.
Ia menekankan pentingnya langkah cepat dari pemerintah baru untuk mengubah struktur ekonomi nasional.
“Pemerintah baru harus melakukan upaya serius untuk mentransformasikan industri lama menjadi industri baru,” ujar Kriengkrai.
Ilustrasi Thailand.
Menurut dia, transformasi teknologi menjadi kunci untuk menghidupkan kembali mesin pertumbuhan ekonomi Thailand. Tanpa pembaruan struktural, sektor industri dinilai akan semakin tertinggal di tengah persaingan global yang kian ketat.
Dari sisi eksternal, tekanan terhadap ekspor diperkirakan masih akan berlanjut.
Kriengkrai menilai tarif impor Amerika Serikat (AS) serta penguatan nilai tukar baht menjadi faktor utama yang menekan daya saing perdagangan Thailand.
Mata uang baht tercatat menguat lebih dari 8 persen terhadap dolar AS sepanjang tahun lalu. Penguatan tersebut, menurut Kriengkrai, telah menggerus daya saing Thailand di pasar internasional dan menekan kinerja sektor ekspor.
Pandangan senada disampaikan Poj Aramwattananont, Ketua Kamar Dagang Thailand dan anggota JSCCIB lainnya. Ia menilai apresiasi baht berpotensi memberi dampak signifikan terhadap sektor-sektor utama perekonomian.
“Apresiasi baht akan memberikan pukulan bagi sektor ekspor, yang mendorong perekonomian Thailand bersama dengan pariwisata,” terang Poj.
Ia juga mendorong pemerintah untuk lebih cermat memantau aktivitas perdagangan emas karena pergerakan komoditas tersebut dapat memengaruhi arus valuta asing.
“Mengamati perubahan nilai baht secara lebih saksama merupakan tugas mendesak bagi pemerintah,” ujarnya.
Di dalam negeri, tekanan terhadap ekonomi Thailand juga datang dari tingginya utang rumah tangga. Pada kuartal II 2025, rasio utang rumah tangga terhadap PDB tercatat mencapai 86,8 persen.
Kondisi ini membatasi kemampuan rumah tangga untuk mengambil kredit baru dan mendorong perbankan memperketat persyaratan pemberian pinjaman.
Selain persoalan domestik, ketidakpastian global turut membayangi prospek ekonomi Thailand.
Ilustrasi Thailand. Thailand akan meminta pelancong asing wajib menunjukkan bukti telah divaksinasi Covid-19 penuh sebelum terbang ke Thailand.
Peringatan JSCCIB muncul di tengah meningkatnya tensi geopolitik menyusul serangan militer mengejutkan AS terhadap Venezuela, yang memicu kekhawatiran akan stabilitas tatanan dunia.
JSCCIB mencatat, konflik tersebut berpotensi mengganggu rantai pasok global dan berdampak pada sektor manufaktur Thailand.
Namun, dampak langsungnya diperkirakan relatif terbatas karena nilai perdagangan antara Thailand dan Venezuela tergolong kecil, sekitar 500 juta dollar AS per tahun.
Meski demikian, pelaku usaha menilai efek geopolitik tidak bisa dipandang remeh. Ketua Asosiasi Perbankan Thailand sekaligus anggota JSCCIB, Payong Srivanich, mengatakan ketegangan global dapat memengaruhi arus investasi internasional.
“Thailand sangat perlu beradaptasi dengan perubahan dalam politik dan ekonomi global,” kata Payong.
Di tengah tantangan global dan domestik tersebut, para pembuat kebijakan dan pelaku usaha di Thailand menghadapi tekanan yang semakin besar untuk menjaga stabilitas ekonomi, memperkuat daya saing, serta merespons dinamika global yang terus berubah.
Pertumbuhan ekonomi Thailand diprediksi lesu
Dikutip dari Nation Thailand, konsensus proyeksi terbaru menunjukkan pertumbuhan ekonomi Thailand pada 2026 hanya berada di kisaran 1,5 sampai 1,8 persen.
Angka pertumbuhan ekonomi Thailand tersebut lebih rendah dibandingkan proyeksi pertumbuhan sekitar 2 persen pada 2025, dan menjadi yang terlemah dalam hampir tiga dekade di luar masa krisis.
Bank sentral Thailand, Bank of Thailand (BoT) memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan melambat menjadi 1,6 persen pada 2026, turun dari sekitar 2,2 persen pada 2025.
Ilustrasi uang baht Thailand.
Proyeksi ini mencerminkan lemahnya permintaan global, dampak lanjutan kebijakan perdagangan AS, serta penguatan nilai tukar baht.
Sementara itu, Pusat Intelijen Ekonomi SCB atau SCB EIC memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Thailand hanya mencapai 1,5 persen pada 2026, dari sekitar 2 persen pada 2025.
Proyeksi tersebut menandai tingkat pertumbuhan terendah dalam tiga dekade terakhir di luar periode krisis.
“Ekonomi Thailand pada tahun 2026 mungkin hanya tumbuh sekitar 1,5 persen, yang terlemah dalam tiga dekade di luar periode krisis,” ujar Thitima Chucherd, Direktur Riset Ekonomi dan Bisnis SCB EIC.
Sementara itu, Pusat Intelijen Ekonomi SCB atau SCB EIC memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Thailand hanya mencapai 1,5 persen pada 2026, dari sekitar 2 persen pada 2025.
Proyeksi tersebut menandai tingkat pertumbuhan terendah dalam tiga dekade terakhir di luar periode krisis.
“Ekonomi Thailand pada tahun 2026 mungkin hanya tumbuh sekitar 1,5 persen, yang terlemah dalam tiga dekade di luar periode krisis,” ujar Thitima Chucherd, Direktur Riset Ekonomi dan Bisnis SCB EIC.
Ia menekankan, dampak lanjutan tarif AS, fragmentasi perdagangan global, serta melemahnya momentum ekspor menjadi faktor utama yang menahan laju pertumbuhan.
Tag: #ekonomi #thailand #lesu #pelaku #usaha #khawatirkan #resesi