Lapangan Migas Tua: Bor Ulang atau Tutup? Ini Pertimbangan Industri
Direktur Eksekutif IPA (Indonesian Petroleum Association), Marjolijn Wajong berpose setelah diwawancarai KOMPAS.com dalam program Naratama di Gedung Menara Kompas, Palmerah Selatan, Jakarta Pusat, Selasa (20/11/2025).(KOMPAS.com/M RIZKI FAUZAN)
20:56
7 Januari 2026

Lapangan Migas Tua: Bor Ulang atau Tutup? Ini Pertimbangan Industri

- Banyak lapangan minyak dan gas bumi (migas) di Indonesia kini memasuki usia tua dengan tingkat produksi yang terus menurun.

Dalam kondisi itu, industri pun dihadapkan pada pilihan mempertahankan lapangan dengan perawatan intensif, mengebor sumur baru di sekitarnya, atau menutup sumur yang sudah tidak lagi ekonomis.

Direktur Eksekutif Indonesian Petroleum Association (IPA) Marjolijn Wajong mengatakan, keputusan mengenai penanganan sumur tua tidak bisa diambil secara seragam dan sangat bergantung pada kondisi teknis serta keekonomian masing-masing lapangan.

"Tergantung daerahnya. Kalau masih punya potensi eksplorasi, jelas eksplorasi karena hasilnya besar. Kalau tidak, harus maintenance. Tapi kita harus hitung keekonomiannya," ujar Marjolijn dalam acara "Naratama by Amir Sodikin (AMR): Masihkah Migas Dibutuhkan di Era Renewable Energy?", dikutip Rabu (7/1/2025).

Teknologi pendorong produksi lapangan migas tua

Menurut dia, teknologi memang terus berkembang dan memungkinkan peningkatan produksi di lapangan tua, termasuk melalui metode pengeboran lanjutan atau enhanced oil recovery (EOR).

Namun, penerapan teknologi tersebut membutuhkan biaya besar yang harus sebanding dengan potensi tambahan produksi.

"Kalau masih ekonomis, kita usahakan. Kalau sudah tidak ekonomis, kadang kita tutup (suntik mati)," ungkapnya.

Penutupan atau shutdown sumur migas, lanjut dia, bukan semata-mata keputusan bisnis, tetapi juga menyangkut aspek keselamatan dan lingkungan. Lapangan yang sudah tidak layak dipertahankan justru berisiko jika terus dioperasikan.

Selain opsi perawatan dan penutupan, industri juga mempertimbangkan pengeboran sumur baru di sekitarnya sebagai alternatif yang lebih efisien. Cara ini dinilai bisa lebih murah ketimbang mempertahankan sumur tua yang terus menurun produktivitasnya.

"Bisa juga caranya dengan mengebor di sebelahnya yang lebih murah daripada mengurus yang tua," kata Marjolijn, yang memiliki pengalaman langsung mengelola lapangan migas sebagai production engineer.

Pengelolaan sumur migas tua berbasis data

Meski begitu, ia menekankan bahwa pengelolaan lapangan migas tua harus dilakukan secara hati-hati dan berbasis data.

Marjolijn juga menyoroti tantangan utama pemerintah dalam menciptakan iklim investasi yang mampu mendukung penerapan teknologi modern, sekaligus memberikan kepastian dan daya tarik ekonomi bagi investor.

"Teknologi berkembang dari tahun ke tahun. Untungnya dunia makin global, sehingga teknik-teknik baru di tempat lain mestinya bisa kita ambil dengan tidak terlalu lama. Hanya masalahnya kembali kepada keekonomian," ucapnya. 

Tag:  #lapangan #migas #ulang #atau #tutup #pertimbangan #industri

KOMENTAR