CSIS Nilai Perjanjian Dagang RI-AS Bersifat Asimetris, Posisi Tawar Indonesia Melemah
Presiden Amerika Serikat Donald Trump (tengah) ditemani Menteri Luar Negeri Marco Rubio (kedua dari kiri) dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth (kanan) saat konferensi pers mengenai serangan AS di Venezuela, di Palm Beach, Florida, Sabtu (3/1/2026).(GETTY IMAGES NORTH AMERICA/JOE RAEDLE via AFP)
16:04
7 Januari 2026

CSIS Nilai Perjanjian Dagang RI-AS Bersifat Asimetris, Posisi Tawar Indonesia Melemah

– Center for Strategic and International Studies (CSIS) menilai posisi Indonesia dalam perjanjian dengan Amerika Serikat berada pada situasi kurang menguntungkan.

Penilaian ini muncul setelah Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan pemerintah telah merampungkan perundingan lanjutan, termasuk negosiasi tarif resiprokal dengan Amerika Serikat.

Airlangga menyebut Amerika Serikat meminta timbal balik berupa pembukaan akses terhadap mineral kritis Indonesia. Sebagai gantinya, Indonesia memperoleh pengecualian tarif khusus untuk sejumlah produk ekspor unggulan.

“AS memberikan pengecualian tarif untuk produk unggulan kita, seperti sawit, kopi, teh. Dan tentunya Amerika sangat berharap untuk mendapatkan akses terhadap critical mineral,” kata Airlangga saat konferensi pers dari Washington, Selasa (23/12/2025).

Peneliti Senior Departemen Ekonomi CSIS Deni Friawan menilai kesepakatan tersebut menyempitkan ruang gerak Indonesia. Situasi geopolitik global membuat posisi tawar Indonesia tidak lagi kuat.

Perjanjian Indonesia dan Amerika Serikat dinilai sudah berada dalam kondisi terkunci. Kondisi ini menyulitkan Indonesia untuk menegosiasikan ulang syarat yang lebih menguntungkan.

“Karena sudah sepakat, posisi tawar kita menjadi lemah. Apalagi negara-negara lain seperti Malaysia, Vietnam, dan Thailand sudah lebih dulu mencapai kesepakatan dengan Amerika Serikat,” ujar Deni dalam Media Briefing Outlook 2026 CSIS di Jakarta, Rabu (7/1/2026).

Menurut Deni, Indonesia mau tidak mau harus menerima hasil perundingan dengan kapasitas negosiasi terbatas. Kesepakatan yang terbentuk berisiko bersifat asimetris.

Indonesia dinilai menanggung konsekuensi lebih besar dibandingkan manfaat yang diterima. Risiko ini muncul karena struktur perjanjian tidak sepenuhnya seimbang.

“Kita lebih banyak berkorban, tetapi yang diterima relatif sedikit,” kata Deni.

Deni menekankan perjanjian ini tidak bisa dilepaskan dari rivalitas Amerika Serikat dan China. Setiap konsesi kepada Amerika Serikat berpotensi dibaca sebagai langkah yang merugikan China.

“Di sinilah tantangannya. Indonesia harus mampu menavigasi dan menyeimbangkan pengaruh Amerika Serikat dan China,” jelasnya.

Ia mengingatkan risiko jika Indonesia terlihat terlalu condong ke satu kubu. Respons balasan dari China bisa muncul dalam bentuk pengurangan dukungan ekonomi.

“China bisa saja mengurangi komitmen investasinya atau meninjau ulang kerja sama yang sudah berjalan,” kata Deni.

CSIS menilai keseimbangan hubungan dengan kedua kekuatan besar menjadi kunci. Stabilitas ekonomi dan politik nasional bergantung pada kemampuan Indonesia menjaga posisi tersebut.

Menurut Deni, arah kebijakan luar negeri dan ekonomi perlu disusun secara hati-hati. Tekanan geopolitik berisiko merugikan kepentingan nasional jika tidak dikelola dengan cermat.

Tag:  #csis #nilai #perjanjian #dagang #bersifat #asimetris #posisi #tawar #indonesia #melemah

KOMENTAR