Saat Ikut Tren Berujung Rugi: Bahaya FOMO bagi Investor Pemula
Ilustrasi investor, investor saham, investor ritel.(FREEPIK/FREEPIK)
13:40
2 Januari 2026

Saat Ikut Tren Berujung Rugi: Bahaya FOMO bagi Investor Pemula

Gelombang investor ritel di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir membawa dua wajah sekaligus.

Di satu sisi, partisipasi publik di pasar modal makin luas, terutama dari generasi muda.

Di sisi lain, euforia itu kerap disertai FOMO (fear of missing out) atau rasa takut ketinggalan peluang, yang membuat sebagian investor pemula melompat masuk tanpa rencana, tanpa riset memadai, dan tanpa disiplin manajemen risiko.

Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik menggambarkan besarnya minat masyarakat di pasar modal yang tetap tinggi bahkan saat kondisi global tak menentu.

“Menariknya, meskipun kebijakan tarif impor mulai diberlakukan, minat masyarakat untuk berinvestasi di pasar modal Indonesia tetap tinggi,” ujarnya Jeffrey, dikutip dari Antara.

Data partisipasi yang terus menanjak itu penting sebagai konteks. Namun, pertumbuhan basis investor juga menuntut kesiapan literasi dan ketahanan psikologis.

Pasalnya, FOMO sering kali bukan sekadar ikut-ikutan, melainkan pola keputusan yang bisa berujung pada kerugian yang sebenarnya dapat dihindari.

Apa itu FOMO dalam investasi dan mengapa berbahaya?

Dalam praktik investasi, FOMO muncul ketika investor melihat harga aset melesat, melihat orang lain memamerkan cuan, atau mendengar narasi “kesempatan ini cuma sekali”.

Dorongan emosional yang muncul biasanya adalah beli sekarang, pikir belakangan.

Tahun 2026 diprediksi menjadi momen penting bagi Aries. Peluang karier terbuka lebar, sementara kondisi keuangan dinilai stabil dengan tetap berusaha.Shutterstock/A9 STUDIO Tahun 2026 diprediksi menjadi momen penting bagi Aries. Peluang karier terbuka lebar, sementara kondisi keuangan dinilai stabil dengan tetap berusaha.

FOMO sering memotong tahapan dasar yang semestinya dilakukan investor pemula, antara lain sebagai berikut.

  • Memahami instrumen dan risikonya
  • Menilai kesesuaian dengan tujuan dan profil risiko
  • Menyiapkan batas rugi (cut loss) dan rencana keluar (exit plan)
  • Mengelola ukuran posisi agar kerugian tidak membesar.

Saat tahapan ini dilewati, keputusan investasi lebih menyerupai reaksi spontan dibanding proses yang terukur.

Dari sisi perilaku pasar, euforia berbasis FOMO juga bisa memperbesar volatilitas, karena banyak orang masuk di harga yang sudah tinggi (late entry), lalu panik ketika harga berbalik.

Pada fase ini, investor pemula sering terjebak pada siklus klasik, yaitu beli karena takut ketinggalan, jual karena takut rugi.

Lingkungan yang “subur” bagi FOMO: investor tumbuh, arus informasi meledak

Pertumbuhan investor ritel adalah fakta yang tak bisa diabaikan.

PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) melaporkan jumlah investor pasar modal Indonesia mencapai 20,32 juta Single Investor Identification (SID) per 29 Desember 2025, tumbuh 37 persen secara tahunan atau year on year (yoy) dibandingkan 14,87 juta pada akhir 2024.

Jumlah itu merupakan SID terkonsolidasi yang terdiri dari investor saham, surat utang, reksa dana, surat berharga negara (SBN), serta efek lain yang tercatat di KSEI.

Dari jumlah itu, terdapat 8,59 juta investor yang memiliki saham dan efek lainnya, tumbuh 35 persen (yoy) dibandingkan 6,38 juta investor pada akhir tahun 2024.

Lalu, 19,17 juta investor memiliki aset reksa dana, tumbuh 37 persen(yoy) dibandingkan 14,03 juta investor pada akhir tahun 2024.

Kemudian, 1,41 juta investor memiliki SBN, tumbuh 18 persen (yoy) dibandingkan 1,2 juta investor pada akhir tahun 2024.

Ilustrasi investor, investasi saham, investor saham.FREEPIK/RAWPIXEL.COM Ilustrasi investor, investasi saham, investor saham.

Angka-angka itu menggambarkan ekosistem yang makin rama dan keramaian biasanya memperkuat “noise” informasi. Di era media sosial, investor pemula sering menerima banjir rekomendasi singkat, potongan grafik, narasi komunitas, hingga promosi terselubung.

Di titik tertentu, informasi yang terlalu banyak justru mengaburkan hal yang paling penting: mengukur risiko dan memverifikasi data.

Risiko FOMO bagi investor pemula

Berikut beberapa risiko yang menghantui investor pemula jika FOMO dalam berinvestasi.

1. Masuk tanpa memahami aset, akhirnya beli cerita, bukan fundamental

Dalam aset yang volatil, FOMO paling mudah terlihat. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pernah mengimbau investor muda agar tidak ikut tren, khususnya di kripto.

“Untuk anak muda, (sebaiknya) tidak ikut-ikutan FOMO, lihat teman kiri-kanan, lalu ikut buka akun dan sebagainya. Pahami dulu (sebelum) akan melakukan transaksi ini," kata Kepala Direktorat Pengawasan Aset Keuangan Digital dan Aset Kripto OJK Uli Agustina.

Pun Uli mengingatkan agar transaksi dilakukan melalui pedagang yang terdaftar di OJK.

Uli juga menekankan aspek yang sering luput ketika keputusan dipicu FOMO, yakni memahami aset yang dibeli, dokumen informasi/whitepaper, dan volatilitas.

Bahkan, ia mengungkap konsekuensi nyata yang ia temui dari perilaku “ikut-ikutan” itu.

“Saya beberapa kali dapat message (pesan) dari teman-teman yang menangis karena mereka pakai uang kuliahnya untuk membeli aset kripto yang tidak tahu asetnya itu seperti apa dan uangnya hilang (mengalami rugi),” ujarnya.

2. Salah ukuran posisi: modal “dibakar” di satu transaksi

Ilustrasi investasi.FREEPIK/FREEPIK Ilustrasi investasi.

FOMO sering datang bersama ilusi sekali ini saja atau “all in dulu”. Investor pemula yang belum punya kebiasaan mengukur ukuran posisi (position sizing) rentan menaruh porsi terlalu besar di satu aset.

Ketika harga turun, ruang untuk memperbaiki strategi hilang, karena modal sudah habis atau terlanjur terkunci.

Pada kondisi ini, keputusan yang muncul biasanya makin emosional, yaitu averaging tanpa rencana, menambah dana dadakan, atau justru panic sell.

3. Overtrading dan biaya tersembunyi: transaksi sering, hasil belum tentu membaik

FOMO bukan hanya soal beli "puncak”, tetapi juga mendorong investor terlalu sering bertransaksi (overtrading) demi mengejar momentum.

Akibatnya, biaya transaksi dan selisih harga (spread) perlahan menggerus hasil. Investor pemula sering menganggap kerugian kecil itu tidak terasa, padahal akumulatif.

4. Rentan manipulasi narasi, terutama di aset yang likuiditasnya tipis

Ketika banyak investor mengejar saham maupun kripto tertentu karena viral, ruang manipulasi narasi melebar, dari rumor, screenshot “cuan”, hingga ajakan komunal.

Investor pemula yang tidak memverifikasi keterbukaan informasi, laporan keuangan, atau profil risiko bisa menjadi pihak terakhir yang masuk, dan pihak pertama yang menanggung dampak koreksi.

5. Risiko keamanan data dan penipuan digital

FOMO kerap membuat investor buru-buru membuka akun, mengeklik tautan, atau mengikuti arahan yang tidak jelas. OJK mengingatkan soal kehati-hatian mengakses platform, termasuk risiko pencurian data saat menggunakan jaringan publik.

Dalam konteks investasi kripto, OJK juga memotret tantangan adopsi tanpa literasi.

Kepala Departemen Pengawasan Inovasi Aset Keuangan Digital dan Aset Kripto OJK Dino Milano Siregar menyebut risiko yang muncul antara lain volatilitas harga, potensi kejahatan siber, penipuan berkedok investasi, hingga literasi yang tidak seimbang dengan adopsi.

Ilustrasi investasi PIXABAY/NATTANAN KANCHANAPRAT Ilustrasi investasi

“Diadopsi tanpa literasi, tanpa pemahaman, yang terjadi sesat, rugi,” ucap Dino, dikutip dari Antara.

Mengapa FOMO sering menjerat investor pemula?

Berikut beberapa alasan kenapa investor pemula sering terjerat dan terjebak FOMO.

1. Patokan sosial lebih kuat daripada rencana investasi

Pemula sering memakai benchmark sosial, seperti teman cuan, influencer pamer portofolio, komunitas ramai.

Ini berbeda dengan investor berpengalaman yang cenderung memakai benchmark sistem, yaitu rencana alokasi aset, batas risiko, dan disiplin eksekusi.

2. Salah paham antara momentum dan spekulasi

Momentum bukan selalu salah, tetapi tanpa parameter risiko, momentum berubah menjadi spekulasi reaktif. Dalam euforia, pemula sering masuk tanpa definisi jelas, yaitu kapan salah (cut loss), kapan benar (take profit), kapan harus diam (tidak melakukan apa-apa).

3. Kesenjangan literasi vs kecepatan adopsi

Data kripto memberi contoh ekstrem tentang cepatnya adopsi. OJK mencatat jumlah investor aset kripto Indonesia hingga Oktober 2025 mencapai 19,08 juta pengguna.

Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto OJK Hasan Fawzi menyampaikan, jumlah konsumen pedagang aset kripto masih berada dalam tren meningkat.

Angka tersebut naik 2,50 persen dibandingkan September 2025 yang tercatat sebanyak 18,61 juta konsumen.

Angka yang besar ini menunjukkan betapa cepatnya minat publik. Namun demikian, regulator juga berulang kali menekankan pentingnya literasi agar pertumbuhan berlangsung aman dan berkelanjutan.

Ilustrasi investasi. PIXABAY/TUMISU Ilustrasi investasi.

Cara melihat tanda-tanda FOMO pada diri sendiri dan apa risikonya

Untuk mengetahui apakah Anda FOMO dalam berinvestasi, tanda-tandanya sering sederhana:

  • Anda membeli karena “ramai” dan takut ketinggalan, bukan karena paham alasannya.
  • Anda tidak bisa menjelaskan mengapa beli, kapan jual, berapa batas rugi.
  • Anda mengganti strategi setiap beberapa jam atau hari mengikuti percakapan grup.
  • Anda memakai dana kebutuhan pokok atau utang untuk mengejar peluang.

OJK memberi contoh nyata soal penggunaan dana yang tidak semestinya dipakai. Uli mengingatkan investor muda agar tidak menggunakan uang yang dialokasikan untuk kebutuhan tertentu, seperti biaya kuliah.

“Rem” yang harus diperhatikan: pahami dulu, disiplin risiko, dan verifikasi

  • Pahami instrumen sebelum transaksi dan jangan ikut tren semata.
  • Waspadai volatilitas dan pahami dokumen informasi (khususnya pada aset digital)
  • Hindari praktik yang membuat risiko membesar, seperti memakai dana kebutuhan pokok.
  • Pastikan bertransaksi melalui pihak yang terdaftar/di bawah pengawasan otoritas terkait.

Dari sisi BEI, pertumbuhan investor memang terus didorong lewat edukasi dan akses informasi.

“BEI menyadari bahwa pertumbuhan jumlah investor harus diimbangi dengan penguatan infrastruktur informasi dan edukasi pasar modal," tutur Jeffrey.

Pasar ramai, keputusan tetap harus personal dan terukur

Lonjakan jumlah investor membuat pasar semakin inklusif. Namun, inklusi tanpa literasi bisa menjadi pintu masuk FOMO.

FOMO, pada akhirnya, lebih sering menghukum pemula yang masuk terlambat, masuk terlalu besar, atau masuk tanpa rencana.

Jangan bertransaksi hanya karena tren. Tanpa literasi dan pemahaman, ujungnya rugi.

Selamat berinvestasi!

Tag:  #saat #ikut #tren #berujung #rugi #bahaya #fomo #bagi #investor #pemula

KOMENTAR