Masyarakat Diminta Tak Tercerai-berai karena Perbedaan Awal Puasa Ramadhan
Ketua Komisi VIII DPR RI Marwan Dasopang meminta masyarakat tidak menanggapi perbedaan awal puasa Ramadhan dengan permusuhan yang dapat membuat warga tercerai-berai.
Pesan ini disampaikan Marwan setelah pemerintah menetapkan awal Ramadhan 1447 H atau 2026 masehi jatuh pada Kamis (19/2/2026), sedangkan Muhammadiyah menetapkan awal Ramadhan pada Rabu (18/2/2026).
"Karena diksi untuk menetapkan beribadah ini berbagai cara memandang, masih memungkinkan terjadinya perbedaan. Oleh karena itu perbedaan ini tidak menjadikan kita tercerai-berai, mari kita saling menghargai," kata Marwan pasca konferensi pers hasil sidang isbat di Jakarta, Selasa (17/2/2026).
Baca juga: Hasil Sidang Isbat, Awal Puasa 2026 Jatuh pada Kamis 19 Februari
Politikus Partai Kebangkitan Bangsa pun mengimbau umat muslim Indonesia untuk beribadah dengan khusyuk dan memperbanyak amal ibadah.
Marwan berharap umat muslim di Indonesia menjadi makin baik, dengan berpuasa secara ikhlas dan jujur.
Cara-cara tersebut, kata Marwan, dapat menjadi pijakan untuk menata bangsa bersama-sama ke depan.
"Adapun masyarakat yang tidak menjalankan ibadah puasa, mari kita menghormati masyarakat yang berpuasa dan juga demikian sebaliknya," ucap Marwan.
Di sisi lain, ia mendukung langkah Kementerian Agama (Kemenag) untuk mempertemukan dan berdiskusi dari berbagai cara pandang terkait penetapan 1 Ramadhan.
Baca juga: Alasan Pemerintah Tetapkan 1 Ramadhan 1447 H Jatuh pada Kamis 19 Februari
Dengan begitu, seluruh umat muslim dapat melaksanakan ibadah secara bersama-sama, terutama saat berpuasa Ramadhan maupun saat merayakan Hari Kemenangan di bulan Syawal.
"Mudah-mudahan tugas ini menjadi amal ibadah bagi Kementerian Agama dan Bapak Menteri Agama, dan sekalipun amanah diberikan untuk penetapan, tapi masih melibatkan berbagai pihak, ormas-ormas Islam, para ahli, kemudian Majelis Ulama Indonesia," kata Marwan.
Sebelumnya diberitakan, pemerintah menetapkan 1 Ramadhan 1447 Hijriah atau awal Ramadhan 2026 masehi jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026, berdasarkan hasil sidang isbat penentuan awal Ramadhan 1447 Hijriah.
Baca juga: Awal Puasa 2026 Pemerintah-PBNU pada 19 Februari, Muhammadiyah 18 Februari
"Berdasarkan hasil hisab serta tidak adanya laporan hilal terlihat, disepakati bahwa 1 Ramadhan 1447 Hijriah jatuh pada hari Kamis 19 Februari 2026," ujar Menteri Agama (Menag) RI Nasaruddin Umar dalam konferensi pers di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Selasa (17/2/2026).
Nasaruddin menuturkan, keputusan ini diambil karena pemantauan hilal di sejumlah titik di Indonesia tidak memenuhi kriteria MABIMS yang dipedomani oleh pemerintah Indonesia.
Berdasarkan kriteria MABIMS, tinggi hilal minimum 3 dan elongasi minimum 6,4 derajat.
Sementara, hasil pemantauan hilal menunjukkan bahwa sudut elongasi yang ada masih sangat minim, yakni 0 derajat 56 menit 23 hingga 1 derajat 53 menit 36 detik.
"Jadi, secara hisab, data hilal pada hari ini tidak memenuhi kriteria visibilitas hilal MABIMS," kata Nasaruddin.
Baca juga: Link Download Jadwal Imsakiyah Ramadhan 2026 Setiap Daerah Resmi Muhammadiyah
Hasil sidang isbat yang dilakukan Kemenag ini sekaligus mengonfirmasi bahwa awal bulan Ramadhan 2026 yang ditetapkan pemerintah, berbeda dengan yang ditetapkan Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah.
Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah menetapkan 1 Ramadhan 1447 H jatuh pada 18 Februari 2026.
Penetapan ini menegaskan penggunaan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang kini sepenuhnya diadopsi organisasi tersebut.
Melalui pendekatan astronomi global, Muhammadiyah menerapkan prinsip satu hari satu tanggal di seluruh dunia sehingga awal bulan hijriah tidak lagi bergantung pada lokasi geografis masing-masing negara.
Tag: #masyarakat #diminta #tercerai #berai #karena #perbedaan #awal #puasa #ramadhan