10 Tradisi Ramadan Unik dari Berbagai Negara, Ada Indonesia
- Ramadan tidak hanya dimaknai sebagai bulan ibadah dan pengendalian diri, tetapi juga menjadi momentum hadirnya tradisi-tradisi khas yang mengakar kuat dalam budaya lokal.
Bagi wisatawan, momen ini dapat menjadi kesempatan untuk menyaksikan langsung kekayaan budaya yang jarang ditemui di bulan lain.
Setiap negara memiliki cara unik dalam menyambut dan menjalani bulan suci ini.
Berikut 10 tradisi Ramadan dari berbagai belahan dunia yang bisa menjadi referensi pengalaman perjalanan, sebagaimana dilansir Eastern Eye.
1. Fanous di Mesir
Di Mesir, suasana Ramadan identik dengan fanous, lentera tradisional yang menghiasi rumah, toko, hingga jalanan.
Lampu lentera yang memeriahkan kota saat bulan Ramadhan
Lentera warna-warni ini mulai dipasang menjelang Ramadan dan terus menyala sepanjang bulan suci.
Anak-anak biasanya membawa fanous sambil menyanyikan lagu-lagu khas Ramadan, menciptakan suasana hangat dan meriah pada malam hari.
Baca juga: Selain MotoGP, Intip Keseruan Tradisi Bau Nyale 2026 di Mandalika
Bagi wisatawan, kawasan-kawasan kota lama menjadi lokasi ideal untuk menikmati panorama lampu fanous yang mempercantik sudut kota.
Tradisi ini diyakini telah ada sejak era Kekhalifahan Fatimiyah dan kini menjadi simbol visual Ramadan yang kuat di Mesir.
2. Mahya di Turkiye
Masjid-masjid besar di Turkiye dihiasi lampu bertuliskan pesan religius yang direntangkan di antara dua menara.
Tradisi yang dikenal sebagai mahya ini menampilkan kalimat ajakan berbuat baik dan nilai spiritual lainnya.
Ilustrasi Mahya di menara masjid di Turki
Saat malam tiba, cahaya mahya memperindah langit kota, terutama di kawasan bersejarah.
Tradisi yang telah berlangsung sejak masa Kesultanan Ottoman ini menjadi daya tarik tersendiri bagi pelancong yang ingin merasakan atmosfer Ramadan yang khusyuk namun tetap memikat secara visual.
Baca juga: Tradisi Labuhan Sarangan Magetan jadi Warisan Budaya Takbenda
3. Penabuh drum sahur di Turkiye
Selain mahya, masyarakat Turkiye mempertahankan tradisi penabuh drum yang berkeliling menjelang waktu sahur.
Para penabuh, yang kerap mengenakan pakaian tradisional, berjalan dari satu lingkungan ke lingkungan lain untuk membangunkan warga.
Bagi wisatawan yang menginap di kawasan permukiman lokal, pengalaman ini menghadirkan nuansa autentik Ramadan yang berbeda dari rutinitas sehari-hari.
4. Nafar di Maroko
Di Maroko, sosok nafar berjalan menyusuri jalanan sebelum fajar sambil meniup alat musik tradisional atau melantunkan doa untuk membangunkan warga sahur. Tradisi ini telah diwariskan secara turun-temurun.
Wisatawan yang berkunjung ke kota-kota tua dapat menyaksikan langsung peran nafar sebagai bagian dari identitas budaya Ramadan di Maroko.
Baca juga: Uniknya Tradisi Nyadran di Kampung Mejing Magelang, Seperti Apa?
5. Meriam Iftar di Timur Tengah
Di sejumlah negara Timur Tengah, dentuman meriam menjadi penanda waktu berbuka puasa.
Ilustrasi meriam Ramadhan, salah satu tradisi unik dari Timur Tengah
Tradisi ini bermula sebagai cara praktis memberi tahu masyarakat bahwa matahari telah terbenam.
Kini, meriam iftar tetap ditembakkan di beberapa kota sebagai simbol dimulainya waktu berbuka sekaligus atraksi budaya yang dinantikan warga maupun wisatawan.
Baca juga: 6 Tempat Ngabuburit Favorit di Semarang Saat Ramadan
6. Padusan di Indonesia
Menjelang Ramadan, sebagian masyarakat Indonesia melakukan padusan, yakni mandi atau berendam di sumber mata air sebagai simbol pembersihan diri.
Masyarakat melaksanakan tradisi padusan di mata air Senjoyo Kabupaten Semarang
Tradisi ini tidak hanya bermakna spiritual, tetapi juga menjadi momen wisata budaya yang menarik, terutama di daerah yang memiliki sumber mata air alami dan sejarah panjang tradisi tersebut.
7. Dastarkhwan di Pakistan
Di Pakistan, tradisi Dastarkhwan-e-Ramadan menghadirkan meja panjang berisi aneka hidangan berbuka yang terbuka untuk siapa saja.
Bagi pelancong, ini menjadi kesempatan merasakan langsung semangat berbagi dan mencicipi kuliner lokal dalam suasana kebersamaan.
Baca juga: Sebulan Menuju Ramadan, Catat Jadwal Libur Sekolah dan Cuti Bersama Idul Fitri 2026
8. Gargee’an di negara-negara Teluk
Pertengahan Ramadan di beberapa negara Teluk dirayakan dengan Gargee’an.
Anak-anak mengenakan pakaian tradisional dan berkeliling untuk mengumpulkan permen atau makanan ringan.
Suasana penuh warna dan lagu-lagu khas menjadikan tradisi ini pengalaman budaya yang menarik bagi wisatawan yang datang bersama keluarga.
Baca juga: Djakarta Ramadan Fair 2024 Digelar Hingga 20 Maret 2024
9. Chaand Raat di Asia Selatan
Menjelang akhir Ramadan, masyarakat di Pakistan dan India merayakan Chaand Raat atau “malam bulan”.
Pasar-pasar dipenuhi pengunjung yang berbelanja pakaian baru dan perhiasan, sementara perempuan menghias tangan dengan henna.
Bagi wisatawan, momen ini menghadirkan suasana pasar malam yang semarak dan sarat tradisi, sekaligus menjadi bagian penting dari dinamika budaya Ramadan.
Baca juga: Sarkem Fest 2024 di Yogya Angkat Tradisi Apeman Jelang Ramadan
10. Pagmamano di Filipina
Di Filipina, Ramadan menjadi momentum mempererat hubungan keluarga melalui tradisi pagmamano, yakni mencium tangan orang yang lebih tua sebagai tanda hormat.
Tradisi ini menegaskan nilai kekeluargaan yang kental dan dapat menjadi pengalaman budaya yang memperkaya pemahaman wisatawan tentang praktik sosial selama bulan suci.
Beragam tradisi tersebut menunjukkan bahwa Ramadan dirayakan dengan cara berbeda di setiap negara.
Bagi wisatawan, bulan suci ini bukan hanya waktu untuk beribadah, tetapi juga kesempatan menyaksikan kekayaan budaya yang mempererat kebersamaan dan memperkaya pengalaman perjalanan.
Tag: #tradisi #ramadan #unik #dari #berbagai #negara #indonesia