Mengapa Banyak Orang Tak Putus Kontak dengan Mantan Setelah Putus?
– Putus cinta kerap dibayangkan sebagai akhir hubungan pertemanan, lalu diikuti dengan berhenti berkomunikasi, menghapus nomor, dan melanjutkan hidup. Namun, realitasnya jauh lebih rumit.
Banyak orang justru tetap berhubungan dengan mantan, meski hubungan asmara telah berakhir.
Survei terbaru dari The Matchmaking Company yang menunjukkan bahwa 66 persen responden mengaku masih berkomunikasi dengan beberapa mantan mereka.
Bahkan di kalangan Gen Z, 28 persen menyatakan masih berhubungan dengan sebagian besar atau semua mantan.
Angka ini menandakan bahwa memutus kontak sepenuhnya setelah putus bukanlah hal yang mudah.
Baca juga: Mengapa Putus Cinta Bisa Membuat Orang Kehilangan Percaya Diri? Psikolog Jelaskan
Ada berbagai alasan emosional, kebiasaan, hingga faktor teknologi yang membuat hubungan dengan mantan tetap terjalin, meski status sudah berubah.
Mengapa tak langsung putus kontak dengan mantan setelah putus?
Putus cinta tak selalu menghapus keterikatan emosional
Salah satu alasan utama orang sulit memutus kontak dengan mantan adalah karena ikatan emosional tidak serta-merta hilang saat hubungan berakhir.
Perasaan nyaman, kedekatan, dan kebiasaan berbagi cerita telah terbentuk selama bertahun-tahun.
“Terdapat banyak alasan mengapa seseorang tetap berbicara dengan mantannya, terutama tepat setelah putus,” ujar Nari Jeter, terapis pasangan berlisensi di Florida, dikutip SELF Magazine, Sabtu (21/2/2026).
Baca juga: 10 Cara Cepat Move On Setelah Putus Cinta, Salah Satunya Lost Contact
Ilustrasi putus cinta.
Menurut Jeter, sebagian orang berharap tetap bisa berteman, sebagian lain terjebak dalam kebiasaan lama, dan tidak sedikit yang diam-diam masih menyimpan harapan untuk rujuk.
Masalahnya, keterhubungan emosional ini justru bisa membuat seseorang terjebak di masa lalu.
Tetap berkomunikasi dengan mantan dapat menunda proses penerimaan dan membuat seseorang sulit sepenuhnya hadir dalam hubungan baru.
Survei yang sama menunjukkan bahwa lebih dari dua pertiga responden merasa tidak nyaman jika pasangannya masih dekat dengan mantan, dan 57 persen mengaku pernah membandingkan pasangan saat ini dengan mantan.
Baca juga: 7 Tips Melupakan Mantan Tanpa Drama
Budaya digital membuat mantan sulit benar-benar hilang
Faktor lain yang membuat no contact semakin sulit adalah kehadiran media sosial. Di masa lalu, putus cinta berarti benar-benar terputus dari kehidupan mantan. Kini, batas itu menjadi kabur.
“Dulu, kamu bisa putus secara bersih, kamu tidak tahu lokasi mereka, tidak tahu dengan siapa mereka berinteraksi,” jelas Jeter.
“Sekarang, meskipun tidak saling mengirim pesan, kehidupan mantan tetap terasa hadir lewat Instagram Story teman, pembaruan di aplikasi pembayaran, atau pengingat digital lainnya,” lanjutnya.
Paparan tidak langsung ini membuat otak tetap terhubung secara emosional.
Setiap unggahan, komentar, atau foto baru dapat memicu rasa penasaran, cemburu, atau nostalgia, yang pada akhirnya mendorong seseorang untuk kembali membuka komunikasi.
Tanpa disadari, proses move on pun menjadi lebih lambat karena luka lama terus tersentuh.
Baca juga: Bisakah Balikan dengan Mantan Setelah Lost Contact?
No contact dibutuhkan tapi terasa terlalu ekstrem
Meski terasa menyakitkan, banyak ahli sepakat bahwa no contact adalah salah satu cara paling efektif untuk pulih setelah putus cinta.
Bagi orang yang lebih mudah move on, tak melakukan kontak sama sekali membantu menetapkan batasan yang jelas.
“Bagi mereka yang lebih cepat melanjutkan hidup, no contact adalah bentuk penegasan batas yang tegas, terutama jika merasa terbebani untuk terus mendukung atau mengecek kondisi mantan,” ujar Jeter.
Sementara bagi pihak yang masih berjuang menerima perpisahan, no contact berfungsi sebagai masa detoks emosional.
Tanpa komunikasi yang naik-turun, seseorang bisa benar-benar menerima bahwa hubungan tersebut telah berakhir.
Namun, gagasan bahwa tidak akan pernah berbicara lagi sering kali terasa terlalu ekstrem. Banyak orang merasa takut kehilangan sepenuhnya seseorang yang pernah sangat berarti dalam hidup mereka.
Baca juga: Perasaan Rindu Setelah Putus Ternyata Bukan Buat Mantan, Ini Penjelasan Psikolog
Mengapa banyak orang menunda jarak?
Jeter menyarankan pendekatan yang lebih realistis. Alih-alih berpikir jangka panjang, ia menganjurkan komitmen jangka pendek.
“Cobalah satu bulan tanpa komunikasi langsung, sambil memblokir atau membisukan mereka di media sosial,” katanya.
“Tiga puluh hari adalah waktu yang cukup signifikan untuk memungkinkan pelepasan emosional dan perubahan kebiasaan,” tambah dia.
Ketika dorongan untuk mengecek media sosial mantan muncul, yang hampir pasti akan terjadi, alih-alih menyerah, alihkan perhatian dengan aktivitas lain, seperti berjalan kaki atau menelepon teman.
Namun, menjalani proses ini hari demi hari membuat perasaannya lebih bisa dikelola dan membuka ruang penyembuhan yang tidak mungkin terjadi jika kamu masih terus berhubungan.
Tetap berhubungan dengan mantan bukanlah tanda kelemahan, melainkan cerminan betapa kompleksnya keterikatan emosional manusia.
Meski begitu, tanpa jarak yang sehat, proses penyembuhan bisa terhambat. Menyadari alasan di balik keengganan memutus kontak menjadi langkah awal untuk benar-benar melangkah maju.
Baca juga: Ingin Menikah Lagi Setelah Cerai? Kenali Karakter Pasangan lewat 5 Hal Ini
Tag: #mengapa #banyak #orang #putus #kontak #dengan #mantan #setelah #putus