KRL Kini Berhenti di Stasiun Jatake, Akses Tangerang–Jakarta Makin Singkat
Potret Stasiun Jatake di Kecamatan Pagedangan, Kabupaten Tangerang, Banten. (Dokumentasi PT Kereta Api Indonesia)
11:35
28 Januari 2026

KRL Kini Berhenti di Stasiun Jatake, Akses Tangerang–Jakarta Makin Singkat

Stasiun Jatake resmi beroperasi mulai hari ini, Rabu (28/1/2026).  Stasiun di lintas green line ini melayani penumpang KRL rute Stasiun Tanah Abang-Stasiun Rangkasbitung.

"Mulai 28 Januari 2026 Stasiun Jatake mulai dioperasikan untuk naik dan turun pengguna Commuter Line tujuan Rangkasbitung & Tanah Abang," dikutip dari unggahan instagaram resmi @commuterline, Rabu (28/1/2026). 

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba dalam siaran resmi, Kamis (22/1/2026) mengatakan bahwa Stasiun Jatake dirancang untuk mempermudah akses masyarakat Pagedangan dan sekitarnya menuju pusat aktivitas ekonomi dengan waktu tempuh yang lebih efisien dan biaya transportasi yang terjangkau.

Lantas, dimana lokasi Stasiun Jatake?

Baca juga: Stasiun Jatake Resmi Beroperasi, Jadi Pemberhentian KRL Tanah Abang-Rangkasbitung

Dimana lokasi Stasiun Jatake?

Stasiun Jatake berada di Kecamatan Pagedangan, Kabupaten Tangerang, tepatnya diapit antara Stasiun Parungpanjang dan Stasiun Cicayur.

Adapun rute perjalanan line commuter Tanah Abang-Rangkasbitung terbaru menjadi:  Tanah Abang (Titik Awal) - Palmerah – Kebayoran – Pondok Ranji – Jurang Mangu – Sudimara – Rawa Buntu – Serpong - Cisauk – Cicayur - Jatake - Parung Panjang – Cilejit – Daru – Tenjo – Tigaraksa – Cikoya – Maja – Citeras - Rangkasbitung (Titik Akhir).

KAI menilai Stasiun Jatake merupakan koridor utama pergerakan harian masyarakat, antara wilayah penyangga dan pusat aktivitas ekonomi Jakarta.

Baca juga: Permudah Akses Tangerang–Jakarta, Stasiun Jatake Siap Beroperasi Akhir Januari 2026

Berdasarkan data BPS Januari 2026, Kabupaten Tangerang dihuni sekitar 3,46 juta jiwa, dengan 67,82 persen penduduk berada pada usia produktif (15–59 tahun).

Komposisi demografi tersebut membentuk pola mobilitas harian yang tinggi. Khususnya bagi pekerja dan pelaku usaha yang beraktivitas lintas wilayah menuju Jakarta.

Pada 2025, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Tangerang tercatat 76,74 dan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 5,94 persen.

Baca juga: Sempat Dibatalkan, KRL Tanah Abang-Rangkasbitung Kembali Normal Hari Ini

Angka ini mencerminkan dinamika pasar kerja yang aktif dan kebutuhan akses transportasi yang efisien. 

Sementara itu dari sisi ekonomi, Kabupaten Tangerang merupakan salah satu mesin aktivitas kawasan metropolitan.

Struktur ekonomi daerah menunjukkan basis kegiatan yang erat dengan mobilitas komuter.

Pihak KAI memaparkan, industri Pengolahan menjadi kontributor terbesar perekonomian (33,74 persen), disusul Konstruksi (16,36 persen) dan Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor (11,35 persen) pada 2024.

Baca juga: Perjalanan KRL Tanjung Priok dan Cikarang Kembali Normal Pagi Ini

Potret Stasiun Jatake di Kecamatan Pagedangan, Kabupaten Tangerang, Banten. Dokumentasi PT Kereta Api Indonesia Potret Stasiun Jatake di Kecamatan Pagedangan, Kabupaten Tangerang, Banten.

Sejalan dengan itu, produk domestik regional bruto (PDRB) per kapita Kabupaten Tangerang pada 2024 tercatat Rp 54,73 juta.

Angka ini menandakan skala aktivitas ekonomi yang besar, serta kebutuhan konektivitas yang andal untuk menopang produktivitas harian.

Kondisi tersebut tercermin pada tren peningkatan jumlah pengguna Commuter Line Tanah Abang–Rangkasbitung dalam jangka panjang.

Baca juga: Mengapa KRL Tidak Berhenti di Stasiun Gambir?

Pada 2018, jumlah pengguna Commuter Line Tanah Abang–Rangkasbitung  tercatat sebesar 54,17 juta orang. Jumlah ini meningkat menjadi 55,63 juta orang pada 2019.

Pandemi COVID-19 menekan mobilitas hingga 26,83 juta orang pada 2020.

Lalu, sejak 2021, pergerakan masyarakat kembali meningkat secara konsisten dengan 42,11 juta pengguna pada 2021.

Kemudian, sebanyak 43,32 juta pengguna pada 2022, meningkat menjadi 62,09 juta pada 2023, naik menjadi 70,00 juta pada 2024, dan mencapai 77,55 juta pengguna sepanjang 2025.

Stasiun Jatake di Kawasan Bumi Serpong Damai (BSD) yang ditargetkan beroperasi Januari 2026.KOMPAS.COM/ACEP NAZMUDIN Stasiun Jatake di Kawasan Bumi Serpong Damai (BSD) yang ditargetkan beroperasi Januari 2026.

Pola tersebut, menegaskan Commuter Line sebagai moda utama mobilitas ekonomi harian masyarakat penyangga Jakarta.

Di antaranya, seperti: pekerja sektor industri, jasa, logistik, hingga pelaku UMKM dan perdagangan, yang membutuhkan akses cepat, terjangkau, dan terjadwal.

Kata Anne, peningkatan kebutuhan transportasi massal berkorelasi erat dengan karakter demografi dan struktur aktivitas ekonomi Kabupaten Tangerang.

Kawasan Tanah Abang, sebagai pusat perdagangan tekstil dan grosir nasional memiliki keterkaitan ekonomi yang kuat dengan wilayah penyangga.

Baca juga: Ada Tambahan Jadwal KRL Tanah Abang - Parung Panjang Mulai 13 Desember, Catat Jamnya!

Pedagang, pekerja sektor perdagangan, serta pelaku UMKM dari Kabupaten Tangerang melakukan perjalanan rutin menuju kawasan tersebut.

Kehadiran Stasiun Jatake, dinilai memperpendek akses dari kantong-kantong permukiman dan kegiatan di Pagedangan dan sekitarnya.

Sehingga, mendukung kelancaran aktivitas perdagangan dan produktivitas ekonomi harian.

Sementara itu, bagi pekerja formal, Stasiun Jatake memperkuat pilihan tinggal di kawasan hunian penyangga yang lebih terjangkau, dibandingkan pusat kota Jakarta, tanpa mengorbankan kepastian perjalanan.

Stasiun Jatake di Kawasan Bumi Serpong Damai (BSD) yang ditargetkan beroperasi Januari 2026.KOMPAS.COM/ACEP NAZMUDIN Stasiun Jatake di Kawasan Bumi Serpong Damai (BSD) yang ditargetkan beroperasi Januari 2026.

Hal ini relevan dengan karakter Kabupaten Tangerang yang memiliki luas wilayah 959,61 kilometer persegi dan terbagi dalam 29 kecamatan.

Sehingga, membutuhkan simpul transportasi yang mampu mengonsolidasikan pergerakan masyarakat dari berbagai kawasan permukiman menuju koridor layanan massal.

Untuk diketahui, Stasiun Jatake dibangun melalui skema creative financing antara KAI dan PT Bumi Serpong Damai Tbk (Sinar Mas Land) dengan konsep Transit Oriented Development (TOD).

Baca juga: Cara ke Stasiun Gambir Naik KRL, Bisa Turun di 3 Stasiun Ini

Stasiun ini berdiri di atas lahan seluas 2.435 meter persegi, memiliki bangunan tiga lantai, dan dirancang melayani hingga 20.000 penumpang per hari.

Area parkir kendaraan roda dua, roda empat, dan sepeda telah disiapkan, serta tersedia lahan pengembangan lanjutan seluas sekitar 4.000 meter persegi untuk mendukung integrasi antarmoda.

Dari sisi desain, Stasiun Jatake mengusung konsep modern tropis dengan sirkulasi udara alami di area publik, serta pemanfaatan panel surya untuk mendukung efisiensi energi.

Stasiun Jatake di Kawasan Bumi Serpong Damai (BSD) yang ditargetkan beroperasi Januari 2026.KOMPAS.COM/ACEP NAZMUDIN Stasiun Jatake di Kawasan Bumi Serpong Damai (BSD) yang ditargetkan beroperasi Januari 2026.

Pendekatan ini sejalan dengan kebutuhan stasiun yang tidak hanya fungsional, namun juga adaptif terhadap kenyamanan pelanggan.

Saat ini, Stasiun Jatake memasuki tahap uji fungsi dan simulasi operasional bersama Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan.

Tahap ini dilakukan untuk memastikan seluruh aspek keselamatan, keamanan, dan kesiapan layanan memenuhi standar sebelum stasiun mulai beroperasi.

“Stasiun Jatake memperkuat jaringan layanan Commuter Line dan mendukung pergerakan ekonomi masyarakat Kabupaten Tangerang sebagai wilayah penyangga Jakarta. Kami optimistis kehadiran stasiun ini meningkatkan efisiensi mobilitas dan produktivitas masyarakat secara berkelanjutan,” ujar Anne.

Tag:  #kini #berhenti #stasiun #jatake #akses #tangerangjakarta #makin #singkat

KOMENTAR