Sajak: [ke]-tiada-an
ILUSTRASI (BUDIONO/JAWA POS)
07:52
14 April 2024

Sajak: [ke]-tiada-an

[ke]-tiada-an

 

Sejak kecil, kau pandai menghafal

’’nama-nama baik’’

 

orang tuamu bangga,

lalu menyusun bata-bata

pura-pura yang kau sendiri

enggan menyebutnya

harap.

 

kau mahir mencipta wajah-wajah,

wajah ibu yang mengiba

menunggu pulang ayahmu.

 

dan kau akan mengenang,

di ambang pintu sebelum

subuh itu,

ibumu menangis

kehilangan air mata

 

air mata ibu selalu kaubawa

ke mana-mana,

ke kota ini,

ke arah jalan pulangmu,

yang kau sendiri tak

tahu alasannya

untuk apa.

 

Ponorogo, Maret 2024

---

Rahim Kemarau

 

Sebelum subuh mampet di ujung tidurmu,

seorang bocah berlarian di kegelapan

hutan dan jelaga nasibmu.

 

Kau kembali mendengar lengking tuanya,

menyuruhmu minum jamu.

Meski rahimmu telah kering digosok mantra-mantra.

 

Kau turut berdoa dalam senantiasa yang tak putus,

bahkan jika telah pupus harap lakimu,

kau akan tetap tidur,

dan tidurlah,

hingga usia mampet di ujung pelupuk matamu.

 

Ponorogo, Maret 2024

---

Pulang

 

Akhirnya, telah tiba saatnya pulang.

 

ayahmu tetap tiada kabar,

di jalan setapak yang

menghubungkan masa depanmu,

serupa kumbang

kembali pada bunga pertama.

 

Kau mencucup nasib,

mengelus perutmu

bergerak-gerak

 

’’kembalilah Nak,”

–ucap ibumu lembut

 

’’kembalilah–

kembalikan air mata Ibu”

 

Ponorogo, Maret 2024

---

SAPTA ARIF, Berkarya dari komunitas Sutejo Spektrum Center, Ponorogo

Editor: Ilham Safutra

Tag:  #sajak #tiada

KOMENTAR