Laporan Ungkap Akal-akalan Induk Facebook Sembunyikan Iklan Penipuan
Ilustrasi tiga platform jejaring sosial Meta, yakni Threads, Instagram, dan Facebook. Meta hapus program cek fakta dan bebaskan pengguna baikan konten bernada kebencian(KOMPAS.com/ Galuh Putri Riyanto)
10:03
4 Januari 2026

Laporan Ungkap Akal-akalan Induk Facebook Sembunyikan Iklan Penipuan

- Perusahaan teknologi Meta, dilaporkan mengakali mekanisme publikasi iklan penipuan di Facebook dan Instagram. Trik tersebut dijalankan demi menghindari tekanan dari regulator.

Ketimbang menumpas iklan penipuan secera menyeluruh, Meta justru berupaya menyembunyikannya dari regulator.

Temuan itu terungkap dari laporan khusus yang diterbitkan Reuters baru-baru ini. Laporan ini mengutip sejumlah dokumen internal Meta, termasuk dari tim keuangan, hukum, kebijakan publik hingga tim keamanan Meta selama periode empat tahun.

Dokumen-dokumen itu merinci bagaimana induk Facebook menanggapi kebijakan pengawasan yang kian ketat terkait iklan penipuan dari pemerintah di seluruh dunia.

Menurut laporan itu, Meta disebut mengembangkan panduan internal agar terhindari dari tekanan regulator.

Salah satu trik yang digunakan, berkaitan dengan "Ad Library" (Perpustakaan Iklan), yaitu basis data yang ditujukan sebagai transparansi Meta terkait iklan mereka.

Ad Library kerap dimanfaatkan regulator untuk melacak iklan penipuan. Namun, Meta dilaporkan lebih dulu memetakan kata kunci yang biasa digunakan regulator saat menelusuri perpustakaan iklan tersebut.

Kata kunci itu kemudian dijalankan berulang kali untuk menghapus iklan yang terdeteksi sebagai penipuan.

Trik tersebut membuat jumlah iklan bermasalah yang muncul di hasil pencarian Ad Library berkurang signifikan. Walaupun menurut laporan Reuters, secara umum jumlah iklan penipuan di platform Meta sebenarnya nyaris tidak berkurang.

Sandeep Abraham, konsultan keamanan siber yang pernah menjadi penyelidik penipuan di Meta, mengungkapkan bahwa trik itu sebagai bentuk “sandiwara regulasi” karena dianggap menyimpang dari tujuan transparansi Ad Library.

Meski demikian, Meta membantah tudingan itu dan menyebut bahwa penghapusan iklan penipuan dari hasil pencarian, berkaitan dengan upaya penegakan yang sah oleh tim internal perusahaan yang bertugas mengatasi iklan penipuan.

Berawal di Jepang

Adapun trik itu awalnya diadopsi Meta di Jepang, khususnya ketika regulator setempat sedang mempertimbangkan penerapan aturan verifikasi pengiklan.

Pasalnya, saat itu negeri Sakura tersebut dihadapkan dengan lonjakan iklan skema investasi palsu. Iklan ini memanfaatkan wajah publik figur dengan teknologi kecerdasan buatan (AI).

Namun setelah Ad Library "dibersihkan", aturan verifikasi tersebut akhirnya tidak diberlakukan.

Pasca kejadian itu, Meta kemudian menyusun dokumen yang disebut “global playbook” untuk menyembunyikan iklan palsu. Strategi serupa lalu diterapkan di Amerika Serikat, Eropa, India, Australia, dan Brasil.

ilustrasi Facebooktime.com ilustrasi Facebook

Dokumen tersebut juga mengungkap alasan utama di balik langkah Meta. Berdasarkan analisis internal perusahaan, penerapan verifikasi pengiklan secara universal memang berpotensi menekan jumlah iklan penipuan secara signifikan.

Namun, kebijakan itu diperkirakan menelan biaya sekitar 2 miliar dolar AS (sekitar Rp 33,4 triliun) dan memangkas pendapatan hingga 4,8 persen.

Jadi, ketimbang mengambil risiko tersebut, Meta disebut memilih pendekatan reaktif, yakni menghapus iklan penipuan setelah muncul laporan. Verifikasi pengiklan hanya diterapkan di negara-negara yang mewajibkannya secara hukum, seperti Singapura dan Taiwan.

Menurut pejabat Taiwan yang dikutip Reuters, jumlah iklan penipuan di Facebook dan platform lain turun drastis setelah aturan verifikasi diberlakukan.

Reuters juga menyoroti temuan investigasi sebelumnya yang menyebut iklan berisiko tinggi, sesuai klasifikasi internal Meta, menyumbang pendapatan hingga 7 miliar dolar AS (sekitar Rp 117 triliun) per tahun. Hal ini seolah mengungkap mengapa Meta enggan memperketat verifikasi.

Dampak dari praktik tersebut mulai berujung masalah hukum. Meta saat ini digugat oleh Pemerintah Kepulauan Virgin AS, yang menuduh perusahaan memperoleh keuntungan dari iklan penipuan.

Sementara itu, regulator Uni Eropa juga meminta penjelasan lebih rinci mengenai penanganan iklan penipuan oleh Meta. Juru bicara Komisi Eropa mengatakan pihaknya ragu akan kepatuhan Meta terhadap aturan yang berlaku, dihimpun KompasTekno dari Silicon Angle.

Tag:  #laporan #ungkap #akal #akalan #induk #facebook #sembunyikan #iklan #penipuan

KOMENTAR