Wayne Rooney Usai Derbi Manchester: Itu DNA Man United
- Legenda Manchester United, Wayne Rooney, menilai kemenangan 2-0 atas Manchester City di Old Trafford sebagai cerminan jelas dari “DNA Manchester United”.
Penilaian itu disampaikannya usai Derbi Manchester Man United vs Man City pada Sabtu (17/1/2026) yang menjadi awal sempurna bagi pelatih interim Michael Carrick.
Gol Bryan Mbeumo dan Patrick Dorgu memastikan kemenangan berkesan di Old Trafford atas tim asuhan Pep Guardiola.
Skor bahkan berpotensi lebih besar andai kiper City Gianluigi Donnarumma tidak tampil impresif, mistar gawang menjadi penyelamat, dan juga dua gol yang dianulir karena offside.
Rooney: Energi, Kerja Keras, dan Identitas Lama
Berbicara kepada BBC Sport, Rooney memuji performa tim dan atmosfer stadion.
“Jelas, saya sangat gembira. Saya pikir tim, semangat, etos kerja, energi—semuanya tentang tim ini luar biasa hari,” ujar pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Man United itu.
"Saya benar-benar senang untuk para pemain dan para suporter. Para fans sudah lama merindukan momen seperti ini dalam beberapa tahun terakhir.
Rooney menekankan bahwa meski baru satu pertandingan, tanda-tandanya terlihat jelas.
“Saya tahu ini baru satu penampilan, tetapi saya rasa semua orang bisa melihat betapa menariknya tim ini. Kita sering mendengar orang berbicara—terutama kami para mantan pemain—tentang ‘DNA United’.”
Bernardo Silva berdue udara dengan Diogo Dalot dalam pertandingan sepak bola Liga Inggris Manchester United vs Manchester City di Old Trafford di Manchester, barat laut Inggris, pada 17 Januari 2026. (Foto oleh Darren Staples / AFP)
“Hari ini ditunjukkan dengan jelas apa itu DNA tersebut: kerja keras tanpa bola, para winger turun membantu, menutup ruang, membantu full-back, lalu gol-gol dari umpan silang ke kotak penalti dan hasrat untuk menyambut bola,” lanjut Rooney.
Ia juga menyoroti gol pertama yang lahir dari serangan balik cepat.
“Gol pertama itu—bertahan lebih dulu lalu mematahkan serangan dengan cepat—itulah ‘DNA United’. Itulah yang selama ini kami rindukan dan, mudah-mudahan, ini bisa berlanjut,” katanya.
Carrick Pilih Fokus pada Performa
Menariknya, Carrick justru enggan larut dalam narasi “DNA Manchester United” usai laga—topik yang sebelumnya ramai dibahas di berbagai media.
Pelatih berusia 43 tahun itu memilih menekankan aspek performa menyeluruh tim.
“Ya, saya tidak ingin terlalu terbawa dengan urusan DNA semacam itu,” kata Carrick.
“Kami ingin bermain bagus hari ini. Kami ingin memasukkan hal-hal ke dalam laga yang kami rasa bisa membantu. Tentu kami ingin solid secara defensif sebagai sebuah tim.”
Carrick menilai United berbahaya dalam transisi maupun saat menguasai bola.
“Kami merasa punya ancaman saat transisi, tetapi ketika menguasai bola pun kami terlihat berbahaya. Jadi secara keseluruhan, kami tidak bisa meminta lebih dari ini,” ujarnya.
Ia juga menyoroti keterbatasan waktu persiapan. “Para pemain memberikan segalanya. Kami hanya punya tiga hari untuk menyiapkan sedikit informasi di sana-sini, dan mereka menyerap semuanya secara taktik.”
Soal aspek emosional dan atmosfer stadion, Carrick menutup dengan kesan mendalam.
“Secara emosional, kami bisa mengatasinya seperti yang kami harapkan. Menjelang akhir laga, seluruh stadion—saya bilang kemarin ini tempat yang magis—dan hari ini benar-benar terasa. Kami semua merasakannya.”