Rekan Kerja Robot Humanoid Pertama di Dunia Kerja Global Kemungkinan Besar Akan Datang dari Tiongkok
Ilustrasi robot humanoid di World Artificial Intelligence Conference, Shanghai, Tiongkok. (Foto: Wired)
19:21
27 Januari 2026

Rekan Kerja Robot Humanoid Pertama di Dunia Kerja Global Kemungkinan Besar Akan Datang dari Tiongkok

 

— Gagasan bahwa robot humanoid akan menjadi rekan kerja manusia bukan lagi sekadar wacana futuristik. Perkembangan terbaru di Tiongkok menunjukkan bahwa transisi tersebut dapat terjadi lebih cepat dan dalam skala yang lebih besar dibandingkan negara lain, sehingga menandai pergeseran penting dalam peta persaingan teknologi dan tenaga kerja global.

Di ajang World Artificial Intelligence Conference (WAIC) di tepi Sungai Huangpu, ratusan robot humanoid dipamerkan dalam berbagai simulasi kerja dan atraksi fisik. Sebagian menari, mengangkat kotak, hingga bertinju, sementara sejumlah unit terlihat tidak beroperasi karena sedang menjalani pengisian ulang daya. Pameran ini mencerminkan ambisi Tiongkok untuk membawa robot humanoid keluar dari laboratorium dan masuk ke lingkungan kerja nyata.

Dilansir dari Wired, Selasa (27/1/2026), fenomena tersebut memperlihatkan perbedaan pendekatan mendasar antara Tiongkok dan Barat. Jika di Amerika Serikat pengembangan humanoid masih terfokus pada demonstrasi terbatas dan biaya tinggi, di Tiongkok robot diposisikan sebagai produk industri massal yang terintegrasi dengan ekosistem manufaktur nasional.

Meski kemampuan robot humanoid saat ini masih memiliki keterbatasan, terutama karena banyak unit masih dikendalikan manusia melalui pengendali jarak jauh dan belum memiliki ketangkasan tangan setara manusia, arah pengembangannya dinilai tidak terhambat. Para analis menilai keterbatasan tersebut bersifat sementara dan tidak mengurangi potensi dampak strukturalnya terhadap ekonomi global. 

Bank of America memperkirakan bahwa pada 2035 pengiriman robot humanoid dunia akan mencapai 10 juta unit per tahun, sementara Morgan Stanley memprediksi pada 2050 sebanyak satu miliar robot akan beroperasi secara global, dengan 302,3 juta unit di antaranya berada di Tiongkok.

Keunggulan Tiongkok paling jelas terlihat pada Unitree, perusahaan robotika berbasis Hangzhou. Saat robot Optimus milik Elon Musk masih terbatas pada demonstrasi berjalan, robot Unitree mampu melakukan sprint, tendangan kungfu, hingga salto akrobatik. Biayanya pun jauh lebih rendah. Humanoid G1 dijual sekitar USD 13.500 atau setara Rp 226,1 juta dengan kurs Rp 16.750 per dolar AS, sementara model R1 dibanderol 39.999 yuan atau sekitar Rp 96,3 juta dengan kurs Rp 2.409 per yuan.

Pendiri Unitree, Wang Xingxing, secara terbuka menyatakan optimismenya. Dalam pidatonya di WAIC, dia mengatakan, “Momen ‘ChatGPT’ bagi robot akan datang ketika robot bisa masuk ke ruangan yang asing, mengambilkan sebotol air untuk seseorang, atau merapikan ruangan secara mandiri hanya dari satu perintah sederhana.” Dia menambahkan, “Perkembangan tersebut berpotensi terjadi dalam satu hingga tiga tahun pada kondisi paling cepat, atau maksimal tiga hingga lima tahun.”

Namun, tidak semua pihak berbagi optimisme tersebut. Gavin Kenneally, CEO Ghost Robotics, menilai keunggulan Unitree terutama berasal dari kecepatan pengembangan produk dan kekuatan rantai pasok. “Apa yang mereka lakukan adalah memperbarui dan menyempurnakan produk dengan sangat cepat dengan memanfaatkan manufaktur dan rantai pasok Tiongkok,” ujarnya, seraya menekankan bahwa biaya komponen inti robot di negara tersebut jauh lebih rendah dibandingkan pesaing Barat.

Sementara itu, di Beijing, fokus pengembangan robot humanoid diarahkan pada penguatan kecerdasan dasar yang memungkinkan robot memahami ruang dan tindakan fisik. Beijing Academy of Artificial Intelligence (BAAI) mengembangkan Robobrain 2.0, model robotika sumber terbuka yang menggabungkan kemampuan bahasa dengan penalaran spasial. Presiden BAAI, Zhongyuan Wang, mengatakan, “Robot perlu memahami dunia fisik, bukan hanya bahasa,” seraya menekankan pentingnya data dalam jumlah besar untuk melatih kecerdasan robot.

Sebaliknya, kekhawatiran justru mengemuka dari pelaku industri di Amerika Serikat. Tony Zhao, CEO Sunday Robotics, mengakui tantangan yang dihadapi perusahaannya. “Kecepatan pengembangan—di situlah Amerika Serikat kalah,” ujarnya. Sementara Jonathan Hurst, Chief Robot Officer Agility, menilai keterlibatan pemerintah menjadi kunci. “Kita harus sangat cerdas dalam otomatisasi. Itu satu-satunya jalan,” katanya.

Meski demikian, dominasi robot humanoid belum sepenuhnya menggantikan manusia. Di hotel-hotel Beijing, layanan masih dilakukan staf manusia. Namun arah perubahannya semakin jelas: ketika robot humanoid benar-benar masuk ke dunia kerja global, besar kemungkinan rekan kerja pertama itu akan datang dari Tiongkok.

Editor: Setyo Adi Nugroho

Tag:  #rekan #kerja #robot #humanoid #pertama #dunia #kerja #global #kemungkinan #besar #akan #datang #dari #tiongkok

KOMENTAR