FILONOMICS: Thomas Djiwandono, Akankah Menuju ''Pucuk'' Bank Indonesia?
Thomas Djiwandono resmi ditetapkan sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) periode 2026-2031, menggantikan posisi Juda Agung yang mengundurkan diri. Keputusan itu dilakukan setelah Thomas menjalani fit and proper test oleh Komisi XI, Senin (26/1/2025).
"Saya melewati fit and proper itu melalui dan mengikuti segala peraturan dan perundangan yang sudah ada," ujar Thomas di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (27/1/2026).
Jika dilihat ke belakang, sosok Thomas memiliki “darah” BI karena ayahnya, Soedradjad Djiwandono, pernah menjabat sebagai Gubernur BI Periode 1993-1998. Sementara ibunya adalah kakak kandung Presiden Prabowo Subianto.
Thomas juga merupakan Cicit R M Margono Djojohadikusumo, pendiri Bank BNI, yang sekaligus kakek Presiden Prabowo.
Baca juga: Thomas Djiwandono Jadi Deputi Gubernur BI, Ini Tantangan ke Depan
Dengan ditunjuknya Thomas sebagai deputi, dia akan bertugas membantu Gubernur BI dalam merumuskan serta melaksanakan kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran.
Kebijakan ini mencakup pengendalian inflasi, penetapan suku bunga acuan, pengelolaan likuiditas, serta kebijakan nilai tukar dan cadangan devisa.
Deputi Gubernur BI juga terlibat dalam perancangan kebijakan sistem pembayaran nasional. Peran tersebut mencakup pengembangan infrastruktur pembayaran digital, QRIS, RTGS, kliring, serta memastikan transaksi keuangan berjalan aman dan efisien.
Jika dilihat dari latar belakangnya, Thomas memulai karier profesionalnya bukan dari bidang ekonomi secara langsung, tetapi sebagai wartawan magang Majalah Tempo (1993) dan kemudian bekerja di Indonesia Business Weekly (1994).
Baca juga: Rupiah Menguat, Purbaya: Bukan karena Pak Thomas Saja, Langkah Bank Sentral Sudah Lebih Baik...
Thomas Djiwandono, Wakil Menteri Keuangan RI yang kini resmi terpilih sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) per Senin, 26 Januari 2026.
Karier Thomas dengan masuk ke dunia keuangan dengan bekerja sebagai analis keuangan di Whitlock NatWest Securities, Hong Kong (1996-1999), kemudian konsultan di Castle Asia (1999-2000).
Thomas bergabung dengan PT. Comexindo International, bagian dari Arsari Group, dan menempati berbagai posisi strategis termasuk Direktur Pengembangan Bisnis (2004-2008) sebagai awal langkahnya di dunia bisnis korporat.
Dalam politik, Thomas adalah anggota Partai Gerindra sejak 2008 dan pernah menjabat sebagai Bendahara Umum Partai Gerindra (2014-2025) sebelum akhirnya mengundurkan diri.
Baca juga: Beda Klaim BI dan DPR soal Thomas Djiwandono Effect Ke Rupiah
Ia mulai masuk ke pemerintahan saat ditunjuk sebagai Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) pada 18 Juli 2024. Jabatan Deputi Gubernur BI yang diraihnya saat ini jelas akan memperpanjang kariernya di bidang ekonomi.
Namun kini muncul berbagai pertanyaan di benak publi: apakah Thomas bisa menjaga independensi BI sebagai otoritas moneter? dan apakah ia berpotensi menjadi Gubernur BI seperti ayahnya dulu?
Simak pembahasan selengkapnya dalam Filonomics di kanal Youtube Kompas.com dengan judul: Thomas Djiwandono, Akankah Menuju "Pucuk" Bank Indonesia?
Tag: #filonomics #thomas #djiwandono #akankah #menuju #pucuk #bank #indonesia