Pengamat: Narasi Perubahan di Pilkada Sumbar Baru di Level Elite
Ilustrasi pilkada serentak Dok. JawaPos
15:16
6 Mei 2024

Pengamat: Narasi Perubahan di Pilkada Sumbar Baru di Level Elite

- Pesta demokrasi di Sumatera Barat (Sumbar) mulai menghangat. Baik untuk pemilihan gubernur, wali kota, maupun bupati. Di tingkat pemilihan gubernur (pilgub), calon petahana Mahyeldi Ansharullah kembali diusung oleh PKS. Sejauh ini, kompetitor ketua DPW PKS Sumbar itu baru terlihat dari Epyardi Asda yang saat ini menjabat sebagai bupati Solok.

Di sisi lain, pada Pilkada Sumbar 2024 ini, sudah mulai berkembang narasi perubahan. Umumnya itu dilontarkan dari kelompok-kelompok yang tidak puas dengan perkembangan Sumbar selama 15 tahun terakhir. Jika melihat kurun waktunya, Provinsi Sumbar memang dipimpin oleh gubernur dari PKS.

Di luar itu ada sejumlah elite politik dan kelompok masyarakat melontarkan narasi perubahan demi percepatan pembangunan di Ranah Minang. "Sejauh ini narasi perubahan di perpolitikan di Sumbar baru sebatas elite politik yang mengemukakan. Sedangkan dari kelompok masyarakat akar rumput belum terlalu kentara," ungkap Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Arifki Chaniago kepada JawaPos.com, Senin (6/5).

Dia menilai, sejauh ini dari sejumlah lembaga survei lembaga politik, di kontetasi Pilgub Sumbar nama Mahyeldi Ansharullah masih dominan. Sedangkan tokoh lain yang disebut-sebut bakal menjadi penantang ketua DPW PKS Sumbar itu belum terlihat peningkatan suaranya. Mulai dari Ketua DPD Partai Gerindra Sumbar Andre Rosiade, Ketua DPD Partai Demokrat Sumbar Mulyadi, Ketua DPW Partai Nasdem Fadly Amran, dan Bupati Solok Epyardi Asda.

Sementara itu, sosok yang terlihat serius untuk terjun di kontestasi Pilgub Sumbar baru Epyardi Asda. Hal itu terlihat dari upaya ketua DPP PAN itu dengan mendaftar ke sejumlah parpol yang membuka pendaftaran bakal calon kepala daerah di Sumbar. Mulai dari PAN, Demokrat, dan Nasdem. "Sosok lainnya belum terlihat progres pergerakan politiknya," ujar Arifki yang merupakan alumnus Universitas Andalas (Unand) Padang itu.

Sedangkan Andre Rosiade dan Mulyadi belu membuat pernyataan tegas di Pilkada Sumbar. Sikap mereka diperkirakan tergantung perintah partai, terutama di level DPP.

Arifki menyadari bahwa Sumbar membutuhkan lompatan lebih tinggi agar lepas dari kondisi tertinggal dibanding provinsi tetangga. Jika berkaca dari kiprah pemimpin selama 15 tahun terakhir, maka Sumbar membutuhkan figur yang tegas dan keras. "Sosok yang tegas itu kalau tidak memiliki nilai representasi surau agak sulit diterima masyarakat Minang," imbuhnya.

Alasannya, jika melihat hasil Pilpres 2024 sosok eksekutif yang disukai masyarakat Sumbar adalah orang yang memiliki representasi agama dan budaya. Sebab ketika Pilpres pasangan Anies-Muhaimin menjadi pasangan capres yang menang. "Artinya sisi akademis, humble, agamais menjadi pilihan utama di Sumbar," ungkapnya.

Meski narasi perubahan digaungkan terus menerus, tetapi tidak disertai dalam aksi konkret oleh politisi, maka hal itu sulit diterima masyarakat. Sebab, sosok surau yang diwakilkan dari Mahyeldi itu begitu melekat bagi masyarakat Sumbar. "Orang Sumbar memang butuh perubahan, tetapi kalau yang menggerakkan itu tidak membawa nilai-nilai surau, sosok itu akan ditinggalkan," terangnya.

Ke depan, sambungnya, pekerjaan besar bagi politisi di Sumbar jika ingin membuat perubahan. Yaitu, menjadikan narasi perubahan sebagai sebuah gerakan di tengah akar rumput. Bukan "nyanyian-nyanyian" segelintir politisi.

Editor: Ilham Safutra

Tag:  #pengamat #narasi #perubahan #pilkada #sumbar #baru #level #elite

KOMENTAR