Ditanya soal ''Reshuffle'' Kabinet, Mahfud: Prabowo Presiden Unik, Tak Mau Ditebak
- Mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD menilai, Presiden Prabowo Subianto merupakan sosok yang unik dan sulit ditebak, terutama mengenai isu perombakan kabinet atau reshuffle.
Ia menyebut, Prabowo termasuk presiden yang tidak ingin langkah-langkah politiknya ditebak oleh publik maupun media.
“Jadi, begini menurut saya, Pak Prabowo itu satu presiden yang termasuk unik menurut saya. Dia tidak mau ditebak-tebak namanya. Makanya semua ramalan perombakan kabinet kacau," kata Mahfud, dalam podcast Youtube “Terus Terang Mahfud MD” bertajuk “Hakim Ditangkap, Polisi Terseret Narkoba, Ada Apa dengan Negara Ini?” dikutip pada Rabu (18/2/2026).
Kompas.com telah mendapatkan izin untuk mengutip YouTube tersebut dari tim Mahfud MD.
Baca juga: Prabowo Tiba di AS, Bakal Bertemu Presiden Donald Trump
Mahfud merespons pertanyaan warganet mengenai kabar pejabat yang akan dicopot, sebagaimana sempat disinggung oleh Hashim Djojohadikusumo.
Isu tersebut semakin ramai setelah Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi membantah adanya rencana reshuffle.
Menurut Mahfud, spekulasi soal pergantian pejabat, khususnya di level menteri, kerap muncul dan dipanaskan oleh berbagai pihak, termasuk pengamat dan podcaster yang mengeklaim memiliki informasi akurat.
“Bukan hanya Pak Hashim ya, sering berspekulasi akan ada penggantian Menteri, akan ada reshuffle gitu. Jadi, ramai Pak, bikin hangat situasi ya. Bahkan juga kalau Pak Prabowo bertemu siapa, Pak Prabowo dalam seminggu ke depan, para pengamat, para podcaster gitu, seminggu ke depan akan ada pergantian kabinet. Ini A1, ngaku A1 semualah," ujar dia.
"Pak Prabowo sudah melakukan langkah-langkah tapi dirahasiakan. Setelah itu ditunggu-tunggu, enggak ada apa-apa reshuffle," tambah dia.
Mahfud bahkan membandingkan gaya kepemimpinan Prabowo dengan Presiden ke-2 RI, Soeharto, yang menurut dia juga tidak mudah ditebak dalam mengambil keputusan.
Baca juga: Dahnil Sebut Prabowo Punya Visi Bentuk Kementerian Haji dan Umrah Sejak 2014
Menurut dia, jika terlalu banyak spekulasi yang berkembang di media, bukan tidak mungkin keputusan yang diambil justru berbelok dari prediksi yang beredar.
“Jadi, ya sudah lah, jangan mengaku-ngaku A1, A2 kalau dapat informasi," imbuh dia.
Terkait kriteria pencopotan pejabat, Mahfud menjelaskan bahwa untuk jabatan struktural seperti direktur jenderal (Dirjen) atau pejabat eselon, mekanismenya sudah diatur dalam ketentuan kepegawaian dan berada di bawah kewenangan atasan langsung.
Namun, berbeda halnya dengan jabatan menteri yang akan ditentukan oleh Presiden lewat hak prerogatif.
“Kalau tingkat pejabat Menteri itu hak prerogatif. Enggak ada kriterianya pejabat dicopot," tutur dia.
Ia menegaskan, tidak ada celah hukum untuk menggugat keputusan Presiden dalam mengangkat atau memberhentikan menteri, karena hal tersebut sepenuhnya merupakan kewenangan konstitusional kepala negara.
Mahfud menilai, spekulasi mengenai reshuffle kerap menjadi hiburan politik di tengah masyarakat.
Baca juga: Prabowo Terbang ke AS Bawa Harapan soal Palestina hingga Tarif Trump
Namun, ia mengingatkan agar publik tidak terlalu terjebak dalam prediksi yang belum tentu benar.
Menurut dia, meskipun belakangan Prabowo dinilai mulai lebih terbuka mendengar masukan dari berbagai kalangan, keputusan akhir tetap berada di tangan Presiden.
Mahfud pun menyarankan agar publik lebih fokus pada upaya memperbaiki kondisi negara ketimbang sibuk menebak-nebak langkah politik Presiden.
“Kita harus fokus bagaimana memperbaiki negara ini. Soal cara-cara Presiden dan sebagainya itu. Kita serahkan aja lah ke Pak Prabowo. Tapi, sekali-kali baiknya enggak usah menebak-nebak Pak Prabowo," pungkas dia.
Tag: #ditanya #soal #reshuffle #kabinet #mahfud #prabowo #presiden #unik #ditebak