1 Abad Nahdlatul Ulama, Bagaimana Sejarah dan Perannya?
Ilustrasi pesantren (canva.com)
06:18
31 Januari 2026

1 Abad Nahdlatul Ulama, Bagaimana Sejarah dan Perannya?

- Organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) merayakan hari jadi ke-100 pada hari ini, Sabtu (31/1/2026).

Ini adalah kali kedua NU merayakan satu abad usianya. Sebelumnya, pada 7 Februari 2023 NU jug pernah merayakan resepsi 1 abad Nahdlatul Ulama untuk tahun hijriah di Stadion Delta Sidoarjo, Jawa Timur.

Perayaan 1 abad NU saat itu mengambil tema "Mendigdayakan Nahdlatul Ulama, Menjemput Abad Kedua Menuju Kebangkitan Baru.

Kini, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama kembali menggelar hari lahir ke-100 versi tahun masehi.

Baca juga: 1 Abad Nahdlatul Ulama, Wapres Harap NU Berkembang Sesuai Zaman

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya mengatakan, tema yang akan digunakan adalah "Mengawal Indonesia Merdeka, Menuju Peradaban Mulia".

Dia bilang, tema tersebut merupakan kelanjutan dan menjadi visi besar yaitu Membangun Peradaban yang juga menjadi cita-cita berdirinya Jamiyyah NU. Tema itu juga berkesinambungan dengan Harlah 1 Abad NU versi Hijriah.

"Oleh sebab itu, PBNU memulai dengan tageline Merawat Jagat Membangun Peradaban karena kita memahami bahwa jamiyyah ini didirikan dengan visi untuk membangun peradaban. Itu berarti bukan hanya untuk bangsa Indonesia saja, bukan hanya untuk kaum mukminin, tapi juga untuk seluruh umat manusia," ucap dia.

Sejarah berdirinya NU

NU memiliki jumlah anggota berkisar 40 juta orang (2013) hingga lebih dari 95 juta orang (2021).

Nahdlatul Ulama didirikan pada 31 Januari 1926 atau 16 rajab 1344 H di Surabaya, Jawa Timur, oleh KH Hasyim Asy'ari, kakek dari mantan Presiden Indonesia keempat, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

Sejak awal berdiri hingga sekarang, NU cukup berperan aktif dalam berbagai bidang, termasuk agama dan politik.

Berdirinya organisasi NU bermula dari dibentuknya kelompok-kelompok diskusi yang terdiri atas sejumlah ulama.

Jauh sebelum NU berdiri, pada 1914, KH Wahab Chasbullah lebih dulu mendirikan kelompok diskusi bernama Tashwirul Afkar atau kawah candradimuka pemikiran atau yang disebut juga Nahdlatul Fikr atau Kebangkitan Pemikiran.

Tujuan didirikannya Nahdlatul Fikr adalah untuk memberikan pendidikan sosial-politik kepada kaum santri.

Baca juga: 8 Ulama Besar Akan Buka Resepsi 1 Abad Nahdlatul Ulama

Dua tahun berselang, pada 1916, para kiai pesantren mendirikan organisasi Nahdlatul Wathan atau Kebangkitan Tanah Air, yang bertujuan untuk melawan penjajahan Belanda.

Kemudian pada 1918, organisasi serupa juga turut didirikan yang disebut Nahdlatul Tujjar atau Kebangkitan Saudagar.

Setelah organisasi-organisasi tersebut dibentuk, muncul inisiatif untuk menggabungkan mereka menjadi satu-kesatuan.

Tujuannya agar organisasi ini menjadi lebih kuat dan memiliki cakupan yang luas. Selain itu, penggabungan ini juga untuk menanggapi berbagai masalah yang muncul pada masa tersebut, seperti masalah agama, sosial, dan kebangsaan.

Para kiai kemudian berdiskusi mengenai nama organisasi yang akan mereka gunakan dan menghasilkan nama Nuhudlul Ulama, yang berarti Kebangkitan Ulama.

Namun, KH Mas Alwi Abdul Aziz kemudian mengusulkan nama Nahdlatul Ulama.

Usulan nama tersebut pun disetujui oleh para kiai lain. Akhirnya, disepakati berdirinya Nahdlatul Ulama atau Kebangkitan Ulama pada 31 Januari 1926.

Peran besar dalam Kemerdekaan

Peran terbesar Nahdlatul Ulama yang masih sering dikenang hingga saat ini adalah perjuangan merebut kemerdekaan dari penjajah.

Salah satu tokoh pendiri NU, KH Hasyim Asy'ari dikenal dengan resolusi jihad melawan penjajah dengan menyebut "hubbul wathan minal iman", mempertahankan tanah air adalah sebagian dari keimanan.

Foto KH Hasyim Asyari, Pahlawan Nasional pendiri Nahdlatul Ulama dan Pesantren Tebu IrengKompas.com/Tebuireng Online Foto KH Hasyim Asyari, Pahlawan Nasional pendiri Nahdlatul Ulama dan Pesantren Tebu Ireng

NU digunakan sebagai wadah perjuangan untuk menentang segala bentuk penjajahan dan melakukan dakwah agar kesatuan bangsa senantiasa terjaga.

Hasilnya, lahir laskar-laskar perjuangan fisik yang terdiri dari para ulama NU, santri, dan umat Islam, yang siap berjuang menegakkan agama dan bangsa.

Bentuk perjuangan NU juga tampak pada upayanya menentang semua kebijakan pemerintah kolonial yang menyengsarakan rakyat.

Salah satu contohnya ketika Belanda melakukan ketidakadilan dalam hal administrasi sekolah yang mengintimidasi dan mengancam eksistensi sekolah, pesantren, guru sekolah dan pesantren.

KH Hasyim Asy'ari mendirikan Pesantren Tebuireng, sebagai lembaga pendidikan serta bentuk perlawanan atas modernisasi dan industrialisasi penjajah untuk memeras rakyat.

Baca juga: Kenang Gus Dur Saat Temui Mahasiswa RI di Al Azhar Mesir, Prabowo: Dari Keluarga Tebu Ireng tetapi Pemikirannya Luas

Menjelang kemerdekaan Indonesia, putra KH Hasyim Asy'ari sekaligus tokoh NU, KH Abdul Wachid Hasyim menjadi anggota BPUPKI dan PPKI, yang bertugas mempersiapkan kemerdekaan Indonesia.

Peran dari tingkat lokal hingga internasional

Akademisi Universitas Brawijaya Rachmat Kriyantono mengatakan, PBNU memiliki pondasi penting dalam pembangunan dan kesejahteraan masyarakat.

Karena NU dinilai memiliki struktur organisasi yang kompleks hingga ke akar rumput.

Namun kini peran NU tak hanya sebatas lokal atau nasional. Peran NU sendiri memiliki dampak yang lebih besar lagi hingga ke forum internasional.

Pada 2022, PBNU mengggelar Religion of Twenty atau R20 sebagai pencapaian pengaruh di tingkat global.

Ketua PBNU, Savic Ali, di Jakarta, Selasa (18/10/2022), mengatakan, sejak didirikan pada 31 Januari 1926, NU sudah memiliki visi internasional.

Bahkan, dalam konteks geopolitik global, pendirian NU bukan semata reaksi atas kekuasaan Ibnu Saud di Hijaz, melainkan karena ada kekosongan peran politik dan keagamaan akibat runtuhnya Turki Utsmani.

”Selama ini umum diyakini pendirian NU karena penguasaan Ibnu Saud atas Haramain (Mekkah dan Madinah). Gus Yahya menarik benang merah historis lebih jauh bahwa pendirian NU berkaitan dengan keruntuhan Turki Utsmani, bukan hanya karena perubahan di Haramain. Sebab, runtuhnya Turki Utsmani menciptakan kevakuman politik dan keagamaan,” katanya di Kompas.id.

Baca juga: Sejarah Nahdlatul Wathan

Perjuangan di kancah internasional itu, lanjut Savic, bukan kali pertama digelar, tetapi merupakan kelanjutan dari pemimpin sebelumnya.

Pada era Reformasi, NU pada masa kepemimpinan KH Hasyim Muzadi (1999-2010) menggelar International Conference of Islamic Scholar (ICIS).

Adapun di periode kepemimpinan KH Said Aqil Siroj (2010-2021), NU menggelar International Summit of the Moderate Islamic Leaders (ISOMIL).

Tag:  #abad #nahdlatul #ulama #bagaimana #sejarah #perannya

KOMENTAR