Bongkar Muat di Pelabuhan Melambat, Biaya Logistik Terancam Naik
Sejumlah kapal yang tiba di beberapa pelabuhan harus menunggu lima hingga enam hari sebelum bisa bersandar dan melakukan bongkar muat. Kondisi ini muncul akibat lonjakan aktivitas logistik pada akhir 2025 dan awal 2026.
Ketua Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia Jawa Timur Sebastian Wibisono mengatakan waktu tunggu kapal di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya meningkat tajam. Proses sandar dan bongkar muat berlangsung lebih lama dibanding periode normal.
“Jika sebelumnya waktu tunggu maksimal sekitar tiga hari, saat ini dapat mencapai hingga enam hari, sehingga memicu terjadinya shortage container atau kekurangan kontainer,” kata Sebastian dalam keterangan resmi, Jumat (30/1/2026).
Baca juga: Sempat Ada Kendala Teknis, Alat Bongkar Muat di Terminal Peti Kemas Tarakan Kembali Berfungsi
Sebastian menyebut keterlambatan terjadi akibat keterbatasan alat bongkar muat. Sejumlah crane dinilai sudah tua. Kondisi ini terlihat di Terminal Peti Kemas Nilam dan Terminal Peti Kemas Mirah di Pelabuhan Tanjung Perak.
Menurut Sebastian, PT Pelindo perlu melakukan peremajaan alat bongkar muat di berbagai terminal. Usia alat yang tidak lagi ideal membuat proses bongkar muat berjalan lambat.
Kapasitas ideal Container Processing Area berkisar 30 hingga 40 kontainer per jam. Realisasi di lapangan saat ini hanya sekitar 10 kontainer per jam. Produktivitas dinilai turun signifikan.
Keterlambatan bongkar muat berdampak langsung pada pengiriman barang. Kelangkaan kontainer muncul di sejumlah pelabuhan. Jadwal pengiriman forwarder ikut terganggu.
“Saya mengirim bahan baku pupuk ke Sampit, sejak Desember sudah sulit dapatkan kontainer kosong. Pengiriman baru bisa dilakukan Januari 2026, itupun hanya sebagian,” ujar Sebastian.
Baca juga: Menhub: Ciwandan dan Patimban Bisa Jadi Alternatif Bongkar Muat selain Priok
Ia menjelaskan, sebelumnya pasokan kontainer mencapai 20 hingga 40 unit per hari. Angka tersebut kini turun menjadi sekitar 10 kontainer per hari. Kapasitas pengiriman ikut terpangkas.
Dengan 40 kontainer, pengiriman bisa mencapai 1.000 ton per hari. Saat hanya tersedia 10 kontainer, volume pengiriman turun menjadi sekitar 250 ton per hari.
Ketua DPC Indonesian National Shipowners Association Surabaya Steven H. Lesawengen juga melaporkan keterlambatan serupa. Kondisi ini terjadi di Terminal Peti Kemas Berlian, Tanjung Perak.
“Keterlambatan penanganan bongkar muat kapal di TPK Berlian Pelabuhan Tanjung Perak karena alat belum siap,” ungkap Steven.
Perwakilan Terminal Petikemas Semarang Komang menyampaikan penilaian berbeda. Keterlambatan sandar dan bongkar muat masih berada dalam batas kewajaran.
“Keterlambatan ini wajar terjadi karena faktor cuaca yang tidak menentu. Sebelumnya kami juga sudah melakukan sosialisasi kepada para pengguna jasa agar kondisi ini dapat diantisipasi,” ujar Komang.
Komang menjelaskan trafik kapal dan bongkar muat meningkat tajam pada Desember hingga Januari. Lonjakan ini berkaitan dengan aktivitas distribusi barang akhir dan awal tahun. Faktor cuaca ikut memperlambat pelayanan.
“Traffic di bulan Desember sampai Januari memang naik. Ditambah lagi faktor cuaca yang kurang bersahabat, sehingga proses pelayanan menjadi terhambat,” katanya.
Terminal Petikemas Semarang menyiapkan langkah antisipasi dalam waktu dekat. Upaya ini ditujukan untuk menekan dampak keterlambatan dan menjaga kelancaran arus barang.
Komang mengatakan terminal berencana menambah empat unit container crane. Pengelola juga menyiapkan penambahan dermaga sepanjang 275 meter serta perluasan area penumpukan.
Langkah tersebut ditujukan untuk meningkatkan produktivitas terminal dan memangkas waktu tunggu kapal. Kelancaran pasokan kontainer diharapkan kembali terjaga. Biaya operasional pelayaran ikut ditekan.
Sebastian menilai kualitas layanan pelabuhan memegang peran strategis dalam rantai pasok nasional. Pelabuhan menjadi simpul utama distribusi barang ke berbagai wilayah.
“Pelabuhan adalah kunci sistem logistik yang efisien ke banyak wilayah di Indonesia. Jika layanan pelabuhan buruk, daya saing akan menurun, biaya menjadi tinggi dan harga barang-barang ke konsumen menjadi semakin mahal,” tegas Sebastian.
Tag: #bongkar #muat #pelabuhan #melambat #biaya #logistik #terancam #naik