KA Cikuray Terus Tumbuh, Hubungkan Garut dan Jakarta dengan Tarif Terjangkau
- Udara pagi di Garut selalu menghadirkan suasana khas. Hamparan sawah, kebun sayur, dan pegunungan menjadi bagian dari keseharian masyarakat di wilayah tersebut.
Dari daerah yang dikenal subur itu, berbagai aktivitas dimulai sejak dini hari. Petani memanen hasil kebun, pedagang bersiap membawa barang dagangan, sementara sebagian warga memulai perjalanan menuju kota lain.
Di tengah mobilitas tersebut, KA Cikuray hadir sebagai salah satu pilihan transportasi masyarakat.
Kereta api ekonomi bersubsidi public service obligation (PSO) dari pemerintah melalui Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan RI ini membuka akses perjalanan yang lebih terjangkau.
Baca juga: KAI Beri Diskon Tiket 20 Persen untuk Lansia saat HLUN, Catat Cara Daftarnya
Dengan tarif relasi terjauh Garut-Pasar Senen sebesar Rp 45.000, KA Cikuray banyak dimanfaatkan pelajar, pekerja, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), pedagang, wisatawan, serta masyarakat yang melakukan perjalanan antarkota untuk berbagai keperluan.
Minat masyarakat terhadap KA Cikuray juga terus menunjukkan pertumbuhan positif.
Pada relasi Garut-Pasar Senen atau KA 299, jumlah pelanggan meningkat dari 157.735 pada 2022 menjadi 272.648 pelanggan pada 2023. Angka itu naik 72,85 persen.
Baca juga: Transaksi Tiket KAI Tembus 7,2 Juta, Pelanggan Makin Andalkan Aplikasi
Jumlah tersebut kembali meningkat menjadi 305.959 pelanggan pada 2024 atau naik 12,22 persen. Pada 2025, jumlah pelanggan mencapai 313.926 orang atau bertambah 2,60 persen.
Pertumbuhan juga terjadi pada relasi sebaliknya, yakni Pasar Senen-Garut atau KA 300. Jumlah pelanggan naik dari 135.530 orang pada 2022 menjadi 242.119 orang pada 2023 atau meningkat 78,65 persen.
Pada 2024, jumlah pelanggan kembali bertambah menjadi 285.130 orang atau naik 17,77 persen. Sementara itu, pada 2025, jumlah pelanggan mencapai 301.797 orang atau meningkat 5,85 persen. Secara kumulatif, KA Cikuray telah melayani 2.014.844 pelanggan sepanjang 2022 hingga 2025.
Baca juga: KAI: 911.176 Tiket Ludes Terjual Saat Libur Idul Adha dan Hari Pancasila
Adapun selama Januari hingga April 2026, KA Cikuray melayani 211.498 pelanggan. Jumlah itu terdiri dari 107.459 pelanggan pada relasi Garut-Pasar Senen dan 104.039 pelanggan pada relasi Pasar Senen-Garut.
Dengan demikian, sejak 2022 hingga April 2026, KA Cikuray telah melayani 2.226.342 pelanggan.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa KA Cikuray semakin menjadi bagian dari mobilitas masyarakat di wilayah yang dilaluinya.
“KA Cikuray menghubungkan banyak cerita dalam satu perjalanan. Ada pelajar yang berangkat menuntut ilmu ke kota besar seperti Jakarta, pekerja yang menuju tempat aktivitasnya, wisatawan yang ingin menikmati keindahan Garut dengan tarif terjangkau, serta masyarakat yang melakukan perjalanan untuk bertemu keluarga dan kerabat,” ujar Anne dalam siaran tertulis yang diterima Kompas.com, Sabtu (30/5/2026).
Dalam perjalanannya, KA Cikuray melayani 12 stasiun pemberhentian. Stasiun tersebut meliputi Garut, Cibatu, Leles, Kiaracondong, Bandung, Cimahi, Purwakarta, Cikampek, Karawang, Cikarang, Bekasi, serta Pasar Senen.
Setiap stasiun memiliki karakter dan peran berbeda dalam menggerakkan kehidupan masyarakat.
Garut, Cibatu, dan Leles dikenal dengan aktivitas pertanian dan perdagangan yang tumbuh di tengah udara pegunungan yang sejuk.
Memasuki Bandung Raya, perjalanan berlanjut menuju Kiaracondong, Bandung, dan Cimahi yang menjadi pusat pendidikan, jasa, perdagangan, serta ekonomi kreatif.
Setelah itu, KA Cikuray melayani Purwakarta yang berkembang sebagai daerah wisata dan perdagangan.
Perjalanan kemudian berlanjut menuju Cikampek, Karawang, dan Cikarang yang dikenal sebagai salah satu pusat industri terbesar di Indonesia.
Menjelang akhir perjalanan, KA Cikuray berhenti di Bekasi sebagai kota penyangga Jakarta dengan mobilitas masyarakat yang tinggi. Rute tersebut kemudian berakhir di Pasar Senen. Kawasan ini sejak lama dikenal sebagai salah satu pusat perdagangan dan aktivitas masyarakat di ibu kota.
Tawarkan pengalaman menarik
Bagi pelanggan, perjalanan menggunakan KA Cikuray juga menghadirkan pengalaman tersendiri.
Dari balik jendela kereta, pelanggan dapat menikmati pemandangan perbukitan, lahan pertanian, serta hamparan kebun sayur yang menjadi ciri khas Garut.
Kondisi alam yang sejuk dan tanah yang subur menjadikan Garut sebagai salah satu daerah penghasil komoditas hortikultura di Jawa Barat.
Berbagai hasil bumi, seperti kentang, wortel, kubis, tomat, cabai, bawang daun, jeruk, alpukat, dan aneka sayuran dataran tinggi tumbuh di wilayah tersebut.
KA Cikuray.
Hasil panen itu setiap hari bergerak menuju berbagai kota untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Anne menuturkan, hubungan antara daerah penghasil hasil bumi dan kota-kota tujuan akan semakin penting seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat dan aktivitas ekonomi.
“Ketika hasil bumi dari daerah dapat menjangkau lebih banyak wilayah, manfaatnya dapat dirasakan lebih banyak masyarakat. Petani memiliki akses pasar yang semakin luas, pedagang memiliki lebih banyak pilihan, dan masyarakat dapat memperoleh produk segar dari berbagai daerah penghasil,” ujar Anne.
Perjalanan KA Cikuray memperlihatkan bagaimana satu jalur kereta api dapat menghubungkan daerah dengan karakter yang berbeda.
Dari wilayah pertanian yang sejuk di Garut, pusat pendidikan dan perdagangan di Bandung Raya, kawasan industri di Karawang dan Cikarang, hingga pusat aktivitas masyarakat di Jakarta, semuanya terhubung dalam satu perjalanan.
“Kereta api selalu tumbuh bersama kebutuhan masyarakat. Seiring berkembangnya aktivitas masyarakat dan perekonomian di berbagai daerah, peluang untuk menghadirkan manfaat yang lebih besar juga akan terus terbuka,” tuturnya.
Tag: #cikuray #terus #tumbuh #hubungkan #garut #jakarta #dengan #tarif #terjangkau