Peringatan SBY Soal Perang Dunia III, Bagaimana RI Bisa Berperan Mencegahnya?
Orang-orang mengibarkan bendera Greenland saat mereka berpartisipasi dalam demonstrasi yang mengumpulkan hampir sepertiga penduduk kota untuk memprotes rencana Presiden AS untuk mengambil alih Greenland, pada 17 Januari 2026 di Nuuk, Greenland. Presiden AS Donald Trump meningkatkan upayanya untuk mengakuisisi Greenland, mengancam beberapa negara Eropa dengan tarif hingga 25 persen sampai pembelian wilayah Denmark tersebut tercapai. (ALESSANDRO RAMPAZZO)
10:10
20 Januari 2026

Peringatan SBY Soal Perang Dunia III, Bagaimana RI Bisa Berperan Mencegahnya?

- Presiden Keenam RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengingatkan kepada semua pihak, baik pihak dalam negeri maupun luar negeri, bahwa tanda-tanda terjadinya Perang Dunia Ketiga sudah bermunculan.

"Sangat mungkin Perang Dunia Ketiga terjadi. Meskipun, saya tetap percaya hal yang sangat mengerikan ini bisa dicegah. Tapi, day by day, ruang dan waktu untuk mencegahnya menjadi semakin sempit," kata SBY dalam sebuah cuitan di akun X-nya @SBYudhoyono, Senin (19/1/2026).

Dia mengelaborasi situasi terkini terkait dengan penyebab terjadinya Perang Dunia Pertama (1914-1918) dan Perang Dunia Kedua (1939-1945). Kesamaannya adalah bermunculan pemimpin-pemimpin kuat negara-negara besar yang haus akan peperangan.

Mereka membangun kekuatan sekutu dan saling berhadapan dengan kekuatan militer yang besar.

Belakangan ini santer terdengar hal yang sama, sosok para pemimpin negara yang saling menggertak, khususnya Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang tindakannya kini semakin menjadi-jadi.

Pada awal tahun ini, Trump telah menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro.

Kemudian mencoba mengintervensi urusan dalam negeri Iran terkait aksi demonstrasi besar-besaran, dan mencoba menganeksasi wilayah Denmark, Greenland.

Perang juga dilakukan oleh Rusia yang dipimpin Vladimir Putin, kemudian ancaman China terhadap kedaulatan Jepang dan perebutan wilayah Taiwan.

SBY mengatakan, situasi dunia yang semakin memanas tak hanya karena global warming tetapi juga karena geopolitik, seperti tak dipedulikan oleh para pemimpin dunia.

Dia hanya bisa berdoa, dan memberikan saran kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) agar ada inisiatif sidang darurat untuk mencegah Perang Dunia Ketiga terjadi.

Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono di Puri Cikeas, Bogor, Jawa Barat, Jumat (5/3/2021). ANTARA FOTO/ASPRILLA DWI ADHA Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono di Puri Cikeas, Bogor, Jawa Barat, Jumat (5/3/2021).

"Saya tahu, boleh dikata saat ini PBB tidak berdaya dan tidak berkuasa. Tetapi, janganlah sejarah mencatat PBB melakukan pembiaran dan juga doing nothing," katanya.

Bisakah Indonesia Mengambil Peran?

Indonesia memiliki reputasi historis sebagai negara non-blok dan dipercaya di beberapa forum sebagai pendorong gerakan perdamaian di tataran global.

Director of Paramadina Graduate School of Diplomacy (PGSD) Ahmad Khoirul Umam mengatakan, Indonesia tak bisa bergerak sendiri.

Indonesia belum memiliki nama besar yang bisa membuat mulut pemimpin-pemimpin negara digdaya terdiam.

Namun bukan berarti Indonesia tak bisa mempersempit peluang terjadinya Perang Dunia Ketiga.

"Dalam konteks tersebut, Indonesia harus bersikap tegas secara prinsip namun cerdas secara strategi," kata Umam kepada Kompas.com, Senin.

Dia mengatakan, Indonesia bisa tegas dalam mendorong de-eskalasi, perlindungan warga sipil, dan penghormatan hukum internasional.

Indonesia bisa menjual preseden “kekuatan mengalahkan aturan” akan selalu merugikan negara menengah dan berkembang.

"Namun pada saat yang sama, Indonesia harus berhati-hati agar tidak terjebak dalam retorika blok yang justru menyempitkan ruang manuver diplomatik," imbuhnya.

Indonesia juga tidak boleh pasif agar tidak menjadi obyek guncangan dalam krisis global dengan cara aktif dalam diplomasi pencegahan.

"Peran paling realistis bagi Indonesia sebagai middle power adalah mendorong komunikasi, mengurangi salah persepsi, dan membuka ruang de-escalation melalui forum-forum yang relevan," ucapnya.

Bergantung pada Rakyat Amerika Serikat

Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana melihat dengan sudut pandang yang berbeda, yakni dari sisi penyebab eskalasi konflik ini terus memanas.

Tak lain adalah pongah Donald Trump yang membuat berbagai kebijakan aneksasi agar mewujudkan slogan "Make America Great Again".

Dia mengatakan, keinginan Trump mewujudkan slogan ini tak terbendung oleh apapun.

"Tidak oleh hukum internasional, tidak oleh organisasi internasional seperti PBB, tidak juga oleh negara-negara yang memiliki kekuatan seperti AS," kata Hikmahanto.

"Hanya satu yang dapat membendung ambisi Trump: rakyat AS," ujarnya lagi.

Hikmahanto mengatakan, dalam waktu dekat di AS akan melakukan pemilihan anggota kongres (mid-term election).

Forum inilah yang ditakuti oleh Trump, mengingat Trump juga pernah dimakzulkan pada 2019 lewat kongres serupa.

"Di depan para anggota kongres Partai Republik, Trump mengatakan, “You gotta win the midterms' atau 'I'll get impeached' (Anda harus menangkan pemilihan midterm atau saya akan dimakzulkan)”," kata Hikmahanto.

Hikmahanto menilai, Trump secara sadar, bila kongres dikuasai oleh Partai Demokrat maka ia akan menghadap pemakzulan.

Hal ini semakin diperkuat dengan peristiwa penembakan Renee Good di Minessota oleh agen ICE yang membuat approval rating rakyat AS atas Trump menurun drastis.

"Kekuasaan absolut tidak mungkin bertahan dan dipertahankan. Kekuasaan absolut akan runtuh dengan suara mayoritas, apakah rakyat ataupun masyarakat internasional. Bila itu pun masih gagal, Tuhan dengan caranya akan menghentikan pemegang kekuasaan absolut," kata Hikmahanto.

Tag:  #peringatan #soal #perang #dunia #bagaimana #bisa #berperan #mencegahnya

KOMENTAR