Belajar dari Covid-19, Indonesia Siap Hadapi Super Flu?
Ilustrasi flu. Varian influenza A(H3N2) subclade K yang disebut super flu telah terdeteksi di Indonesia, namun Kemenkes menegaskan situasinya masih terkendali dengan gejala serupa flu musiman.(Freepik)
13:46
9 Januari 2026

Belajar dari Covid-19, Indonesia Siap Hadapi Super Flu?

Kekhawatiran publik terhadap potensi lonjakan pasien akibat penyakit yang dikenal sebagai “Super Flu” turut memunculkan pertanyaan soal kesiapan fasilitas kesehatan di Indonesia.

Namun, Ketua Dewan Penasihat Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Daeng M Faqih menilai, sistem kesehatan nasional saat ini jauh lebih siap, berkat pengalaman panjang menghadapi pandemi Covid-19.

Daeng mengatakan, pembelajaran selama pandemi membuat tenaga kesehatan dan fasilitas layanan kesehatan memiliki kesiapan yang lebih matang dalam menghadapi penyakit menular.

“Kalau belajar dari Covid kemarin, saya punya keyakinan kawan-kawan di lapangan nih, baik, baik Puskesmas, Klinik, maupun Rumah Sakit, siap ya,” kata Daeng kepada Kompas.com, Rabu (7/1/2026).

Menurut dia, kesiapan tersebut tidak hanya terlihat dari sisi sumber daya manusia, tetapi juga dari sistem pemantauan penyakit yang kini berjalan lebih baik.

“Dan sistem, ah sistem surveillance kita kan dari pengalaman Covid itu kan jauh lebih bagus nih sistem surveillance kita,” ujar Daeng.

Daeng menjelaskan, informasi mengenai Influenza A H3N2 subclade K yang dikenal sebagai Super Flu telah disampaikan secara luas oleh organisasi kesehatan dunia dan pemerintah.

Hal itu membuat jajaran kesehatan di daerah bergerak lebih cepat.

“Jadi kawan-kawan di lapangan ini dengan berita dari WHO, dari CDC, dari Kementerian Kesehatan lain, itu saya, saya mendengar di daerah-daerah, di masing-masing Dinas Kesehatan itu sudah ini, sudah melakukan surveillance intense itu untuk yang Super Flu ini,” kata dia.

Ia menilai, penguatan surveillance menjadi salah satu pelajaran paling penting dari pandemi Covid-19.

Dengan pemantauan yang lebih intensif, potensi lonjakan kasus dapat terdeteksi lebih awal.

Menurut Daeng, kondisi ini membuat respons terhadap penyakit menular seperti Super Flu tidak lagi bersifat reaktif, melainkan lebih antisipatif.

Antisipasi lonjakan kasus

Meski menegaskan bahwa Super Flu tidak memiliki tingkat keparawan melebihi influenza biasa, Daeng mengakui penyebarannya cukup cepat.

Oleh karena itu, skenario lonjakan kasus tetap menjadi perhatian.

Namun, ia menilai mekanisme penanganan sudah tersedia jika kondisi tersebut terjadi.

“Dan kalau terjadi lonjakan, ya, itu pasti tombol untuk mengatasi ini segera, ya apa namanya wabah lah ya kalau masyarakat bilang ya, itu akan pasti ditekan itu tombol itu,” ujar Daeng.

Ia meyakini, pengalaman menghadapi pandemi membuat langkah-langkah penanganan bisa dilakukan lebih cepat dan terkoordinasi.

“Dan di daerah itu dengan pengalaman Covid kemarin, itu masyarakat enggak usah khawatir. Insya Allah siap tuh kawan-kawan di lapangan itu,” kata dia.

Daeng menegaskan, kesiapan sistem kesehatan juga tidak lepas dari dedikasi tenaga medis selama pandemi Covid-19.

Menurutnya, dokter, perawat, dan tenaga kesehatan lainnya telah melalui fase yang sangat berat, sehingga memiliki kesiapan mental dan teknis yang lebih baik.

“Kalau, kalau kita melihat ini ya, melihat dedikasi tenaga kesehatan, fasilitas kesehatan selama pandemi Covid kemarin ya, dedikasi mereka itu, baik rumah sakit, Puskesmas, klinik, tenaga dokter, tenaga perawat, tenaga-tenaga yang lain ya, itu kawan-kawan itu eh sudah terlatih dan siap menghadapi yang seperti itu,” ujar Daeng.

Dengan kondisi tersebut, ia menilai Super Flu tidak akan menimbulkan tekanan luar biasa terhadap sistem kesehatan seperti yang terjadi saat awal pandemi Covid-19.

Tidak perlu khawatir

Daeng kembali menegaskan bahwa kesiapan fasilitas kesehatan seharusnya menjadi alasan bagi masyarakat untuk tidak khawatir berlebihan.

Menurutnya, kewaspadaan tetap diperlukan, tetapi tidak perlu disertai kepanikan.

Ia menekankan, pengalaman pandemi telah menjadi modal besar bagi Indonesia dalam menghadapi berbagai penyakit menular ke depan, termasuk Super Flu.

Dengan sistem surveillance yang lebih kuat, tenaga kesehatan yang terlatih, serta kesiapan fasilitas layanan kesehatan, Daeng menilai Indonesia berada dalam posisi yang jauh lebih siap dibandingkan sebelum pandemi Covid-19.

“Jadi masyarakat jangan khawatir,” kata Daeng.

Flu biasa

Penjelasan IDI tersebut sejalan dengan pernyataan Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin.

Budi menegaskan bahwa super flu bukanlah virus baru dan tidak memiliki tingkat keganasan seperti Covid-19 varian Delta yang pernah memicu krisis kesehatan global.

“Karena ini sama seperti flu biasa bukan seperti Covid-19 yang dulu-dulu yang varian Delta mematikan,” ujar Budi di Graha BNPB, Jakarta, Rabu.

Budi bilang, istilah super flu merujuk pada virus influenza tipe A dengan subclade K. Ia menekankan perbedaan karakteristik antara influenza dan Covid-19.

“Covid-19 itu nama virusnya. Tapi variannya kan ada yang Delta, Omicron, ada yang Beta, Alpha, segala macam. Jadi ini sebenarnya virus H3N2. Namanya, nama ininya, populernya Influenza A,” kata Budi.

Menurut Budi, influenza A (H3N2) sudah lama dikenal dan kerap muncul secara musiman, terutama di negara-negara dengan empat musim.

Meski penularannya cepat, tingkat kematian akibat virus ini sangat rendah.

“Ya dia penularannya cepat, tetapi kematiannya sangat rendah dan ini selalu terjadi biasanya di musim-musim dingin, di negara-negara maju tuh selalu terjadi kenaikan,” ujarnya.

Di Indonesia, Budi menyebutkan jumlah kasus masih terbatas dan mayoritas dapat ditangani dengan pengobatan standar. “Yang saya lihat laporan terakhir masih puluhan ya. Dan enggak parah sih. Artinya bisa dengan pengobatan biasa tetap sembuh,” kata Menkes.

Karena itu, ia meminta masyarakat tidak panik, meski tetap waspada. “Pesan saya ke masyarakat, nomor satu, kita harus hati-hati dan sadar ada ini, tapi tidak usah panik,” ujarnya.

Budi juga menekankan pentingnya menjaga imunitas tubuh sebagai benteng utama.

“Kalau imunitas, sistem imunitas kita bagus, makannya cukup, tidurnya cukup, olahraga cukup, insya Allah kalau ada virus masuk dan virusnya lemah seperti yang super flu ini, kita bisa sembuh,” paparnya.

Selain itu, ia mengingatkan masyarakat untuk menerapkan langkah pencegahan sederhana seperti mencuci tangan dan memakai masker dalam situasi tertentu.

“Nah, kalau ternyata di lingkungan kita banyak yang batuk-batuk, ya kita untuk precautions kita pakai masker lah, pakai masker dan rajin cuci tangan,” ucap Budi.

Dorong Antisipasi Dini

Di sisi lain, Anggota Komisi IX DPR RI Neng Eem Marhamah Zulfa meminta pemerintah tetap melakukan langkah antisipasi tanpa menunggu lonjakan kasus, mengingat influenza A (H3N2) subclade K telah terdeteksi di sejumlah negara seperti China, Korea Selatan, Jepang, hingga Singapura.

“Kami meminta pemerintah, khususnya Kementerian Kesehatan, melakukan langkah antisipasi sejak dini. Sosialisasi penggunaan masker di ruang publik sangat penting karena terbukti efektif menekan penularan virus pernapasan, termasuk influenza,” ujar Neng Eem dalam keterangannya, Rabu.

Ia menekankan bahwa pencegahan lebih efektif dan lebih murah dibandingkan penanganan ketika kasus sudah meluas.

“Pencegahan lebih murah dan lebih efektif dibanding penanganan ketika kasus sudah meluas. Koordinasi lintas sektor dan kesiapan layanan kesehatan tidak boleh ditunda,” kata Neng Eem.

Kasus super flu di Indonesia

Kementerian Kesehatan RI mencatat terdapat 62 kasus infeksi influenza A (H3N2) subclade K di Indonesia hingga akhir Desember 2025.

Direktur Penyakit Menular Kemenkes RI Prima Yosephine menyampaikan bahwa kasus tersebut tersebar di delapan provinsi.

“Hingga akhir Desember 2025, tercatat 62 kasus influenza A (H3N2) subclade K yang tersebar di delapan provinsi, dengan jumlah terbanyak di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat. Mayoritas kasus terjadi pada perempuan dan kelompok usia anak,” kata Prima dalam siaran pers, Senin (5/1/2026).

Tag:  #belajar #dari #covid #indonesia #siap #hadapi #super

KOMENTAR