Atur Ulang Strategi Investasi di Tengah Sengkarut Aturan Tarif Trump
Masyarakat dapat mengatur ulang strategi investasi di awal tahun ini setelah terjadi perubahan dinamika pada penerapan tarif resiprokal atau tarif imbal balik yang diinisiasi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Chief Investment Officer PT Inovasi Finansial Teknologi (Makmur) Stefanus Dennis Winarto mengatakan, di tengah kondisi global yang masih diliputi ketidakpastian akibat tarif tinggi, pendekatan investasi yang disiplin dan berorientasi jangka menengah menjadi kunci untuk menavigasi pasar saat ini.
Kesepakatan dagang terbaru antara Indonesia dan AS memberikan fondasi awal yang positif, sekaligus menghadirkan kepastian hukum yang selama ini dibutuhkan para pelaku ekspor.
Baca juga: Atur Ulang Strategi Investasi Aset Kripto, Portofolio Tak Boleh Lebih dari 5 Persen?
Perbedaan orang kaya dan kelas menengah tidak hanya terletak pada besarnya penghasilan. Kebiasaan kecil yang dilakukan konsisten setiap hari menjadi faktor penentu akumulasi kekayaan jangka panjang.
Namun, Stefanus mengingatkan bahwa kepastian ini bersifat relatif, mengingat kebijakan tarif AS sewaktu-waktu dapat berubah seiring dinamika politik dan ekonomi global.
"Oleh karena itu, investor tetap perlu menjaga kewaspadaan dan tidak mengandalkan satu skenario terbaik saja dalam mengambil keputusan," kata dia dalam keterangan resmi, Rabu (25/2/2026).
Ia menambahkan, instrumen investasi yang dapat dipertimbangkan adalah instrumen pendapatan tetap, seperti reksa dana pendapatan tetap dan reksa dana campuran dengan dominasi obligasi.
"Reksa dana ini dapat menjadi pilihan untuk menjaga stabilitas portofolio sekaligus memanfaatkan potensi pertumbuhan meski kondisi pasar global bergejolak," ungkap dia.
Baca juga: Strategi Investasi Ray Dalio: Kunci Diversifikasi Portofolio Tahan Krisis
Menurut Stefanus, secara keseluruhan kesepakatan dagang ini membuka peluang bagi sektor-sektor tertentu, tetapi implementasi dan realisasi perdagangan dalam beberapa kuartal ke depan akan menjadi penentu utama dampaknya terhadap perekonomian.
Di tengah dinamika global yang terus berubah, disiplin pengelolaan risiko dan selektivitas tetap menjadi pendekatan yang relevan bagi investor.
Presiden Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump berbincang di sela-sela penandatanganan Perjanjian Tarif Resiprokal (Agreement on Reciprocal Trade/ART) di Washington DC, AS, Kamis (19/2/2026) waktu setempat.
Indonesia-AS sepakat soal kerangka kesepakatan dagang
Indonesia dan Amerika Serikat (AS) pada Kamis, 19 Februari 2026 menandatangani kesepakatan dagang final dalam kerangka Agreement on Reciprocal Trade (ART), sebagai kelanjutan dari kerangka kerja sama yang telah disepakati pada Juli 2025.
Dalam kesepakatan tersebut, Amerika Serikat menurunkan tarif untuk Indonesia dari sebelumnya 32 persen menjadi 19 persen.
Baca juga: Ada Risiko Fiskal AS, DBS Ungkap Strategi Investasi Paling Cuan 2026
Selain itu, AS memberikan tarif nol persen kepada 1.819 produk ekspor Indonesia, termasuk minyak sawit, kopi, kakao, karet, komponen elektronik, termasuk semikonduktor, serta komponen pesawat terbang.
Untuk produk tekstil dan pakaian tertentu, fasilitas diberikan melalui mekanisme tariff rate quota (TRQ), yakni skema kuota ekspor yang dikenakan tarif nol persen hingga batas volume tertentu dan kembali ke tarif normal apabila melampaui kuota tersebut.
Dengan tarif 19 persen, posisi Indonesia kini sejajar dengan beberapa negara Asia Tenggara seperti Thailand, Malaysia, dan Filipina, serta sedikit lebih rendah dibanding Vietnam yang berada di level 20 persen.
Komitmen timbal balik dan potensi dampak neraca perdagangan
Sebagai bagian dari kesepakatan timbal balik, Stefanus menjelaskan, Indonesia akan menghapus bea masuk atas lebih dari 99 persen serta berkomitmen mengimpor barang dan jasa dari AS hingga 33 miliar dollar AS.
Baca juga: Danantara Beberkan Strategi Investasi di Pasar Keuangan
Ini terdiri dari pembelian energi senilai 15 miliar dollar AS, pengadaan barang dan jasa penerbangan sekitar 13,5 miliar dollar AS, serta produk pertanian lebih dari 4,5 miliar dollar AS.
Selain itu, pemerintah juga menyepakati penyesuaian sejumlah hambatan non-tarif, termasuk pembukaan akses produk pertanian AS dan perdagangan digital.
Kerja sama lanjutan turut diperkuat melalui 11 nota kesepahaman senilai 38,4 miliar dollar AS, mencakup sektor mineral, perpanjangan kemitraan Freeport, serta pengembangan industri semikonduktor.
Ilustrasi tarif impor Trump.
Menurut Stefanus, kesepakatan ini menghadirkan peluang sekaligus risiko bagi pasar.
Baca juga: Intip Strategi Investasi agar Tetap Cuan di Tengah Gejolak Pasar
“Penurunan tarif ke 19 persen dan pembebasan 1.819 pos tarif berpotensi meningkatkan daya saing harga serta membuka ruang ekspansi ekspor Indonesia ke AS, terutama pada komoditas unggulan Indonesia seperti CPO,” ujar dia.
Selain mendorong ekspor komoditas, Stefanus juga menekankan bahwa kesepakatan ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam menggerakkan kembali sektor padat karya.
"Hal ini diharapkan dapat menyerap lebih banyak tenaga kerja dan memperkuat aktivitas ekonomi di sektor riil," ucap dia.
Di sisi lain, Stefanus mengingatkan bahwa dampak kesepakatan ini tidak akan merata di semua sektor.
Baca juga: 4 Strategi Investasi Warren Buffett yang Patut Ditiru
Meski CPO mendapat tarif nol persen untuk masuk ke AS, pasar utama sawit Indonesia tetaplah India dan China, sehingga dampak langsung terhadap volume ekspor ke AS diperkirakan masih relatif terbatas.
Lebih jauh, jika laju pertumbuhan impor melampaui ekspor, surplus neraca perdagangan Indonesia berisiko tergerus.
Oleh karena itu, efektivitas kesepakatan ini baru dapat dinilai secara menyeluruh setelah melihat realisasi data perdagangan dalam beberapa kuartal ke depan.
Ketidakpastian kebijakan AS jadi faktor risiko eksternal
Di tengah optimisme kesepakatan dagang, Mahkamah Agung AS justru membatalkan dasar hukum kebijakan tarif global yang sebelumnya diterapkan pemerintahan Donald Trump.
Baca juga: Strategi Investasi di Tengah Gejolak Perang Dagang AS-China: Diversifikasi dan Jaga Likuiditas
Menyusul putusan tersebut, Trump menyatakan rencana untuk memberlakukan tarif global sementara sebesar 15 persen, naik dari 10 persen, selama 150 hari dengan dasar hukum berbeda.
Perkembangan ini memunculkan ketidakpastian baru terkait arah kebijakan perdagangan AS.
Ilustrasi tarif Trump.
Meski demikian, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa perjanjian Indonesia–AS tetap berjalan sesuai jadwal dan akan berlaku 60 hari setelah memperoleh persetujuan dari legislatif tiap-tiap negara.
Proyeksi kinerja investasi di pasar saham
Di tengah kondisi tersebut, investor pasar modal justru diminta untuk mengambil pendekatan yang lebih selektif dan defensif.
Baca juga: 6 Strategi Investasi Saham untuk Pemula Saat IHSG Anjlok
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan menjelaskan, hal tersebut artinya, fokus investor diarahkan pada saham-saham dengan fundamental kuat, kinerja keuangan solid, serta likuiditas tinggi.
“Untuk menghadapi pasar minggu depan, baik investor maupun trader sebaiknya bersikap selective and defensive dengan fokus pada emiten berfundamental kuat dan likuiditas tinggi di tengah rekor IHSG dan volatilitas global,” papar dia.
Selain itu, investor juga diimbau berani dan taat dalam menentukan besaran nilai kerugian investasi yang dapat ditanggung.
“Sementara trader perlu disiplin menerapkan setop loss serta sigap memanfaatkan rotasi sektor ke saham energi, jika tensi geopolitik AS-Iran terus mengerek harga minyak,” ujar David.
Baca juga: Simak Strategi Investasi Warren Buffett yang Bisa Ditiru
Sejumlah rekomendasi saham yang dapat disoroti investor misalnya adalah emiten PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR).
Saham ini direkomendasikan beli di harga Rp 3.070 dengan target harga Rp 3.300 dan setop loss di Rp 2.990.
Secara teknikal, SMGR dinilai keluar dari area konsolidasi.
Selain itu, volume penjualan semen tercatat tumbuh 11 persen pada Januari 2026.
Baca juga: Strategi Investasi untuk Pemula Menuju Financial Freedom
Ilustrasi pasar saham.
Sementara itu, rekomendasi lainnya adalah saham PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) dengan harga saat ini sekitar Rp 1.810, dengan target Rp 2.000 dan setop loss Rp 1.710.
Kenaikan harga emas yang kembali ke level Rp 5.100, serta pergerakan jangka pendek di atas rata-rata penutupan dalam 5 hari perdagangan (MA5) menjadi katalis positif bagi saham ini.
Perjanjian tarif resiprokal AS rugikan Indonesia
Secara umum, perjanjian tarif timbal balik atau tarif resiprokal Agreement on Reciprocal Trade (ART) dinilai memberikan banyak kerugian untuk Indonesia.
Oleh karena itu, keputusan Mahkamah Agung AS yang membatalkan kebijakan tarif resiprokal Trump menjadi kabar positif bagi Indonesia.
Baca juga: Strategi Investasi untuk Pemula: Tips Praktis
Ekonom sekaligus Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan, isi dari Agreement on Reciprocal Trade (ART) dengan Amerika Serikat (AS) merugikan kepentingan ekonomi nasional.
Celios mencatat ada tujuh poin yang bermasalah dalam perjanjian tersebut.
Pertama, poin yang dinilai bermasalah adalah banjir impor produk pangan, teknologi, dan migas menekan neraca perdagangan dan neraca pembayaran sekaligus.
"Rupiah bisa melemah terhadap dollar AS," ucap dia dalam keterangan tertulis, Sabtu (21/2/2026).
Baca juga: Ambil Peluang Kenaikan Harga Emas, Ini Strategi Investasi untuk Pemula pada Era Digital
Poin kedua yang merugikan Indonesia dalam ART adalah poison pill yang membuat Indonesia dibatasi melakukan kerja sama dengan negara lainnya.
"AS seolah menjadikan Indonesia blok eksklusif perdagangan," imbuh dia.
Selanjutnya, perjanjian tersebut juga berpotensi mematikan industrialisasi dalam negeri tanpa adanya transfer teknologi, dan penghapusan tingkat komponen dalam negeri (TKDN).
Bhima berpandangan, deindustrialisasi jadi konsekuensi kalau sampai ART pada akhirnya akan diratifikasi.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies, Bhima Yudhistira Adhinegara dalam diskusi Polemik Harga Beras dan Kebijakan Pangan di Tengah Krisis Iklim, Selasa (16/9/2025).
Baca juga: Mengenal Strategi Investasi Portofolio 60/40, Apa Fungsinya?
Lalu, ART juga akan merugikan Indonesia karena adanya kepemilikan absolut perusahaan asing dalam pertambangan tanpa ada divestasi.
Kelima, Indonesia harus menganggap musuh perdagangan AS adalah musuh Indonesia.
Artinya, Indonesia harus ikut memberikan sanksi ke negara yang berseberangan dengan AS.
Poin berikutnya, aturan perdagangan dengan AS tersebut membuat peluang transhipment Indonesia tertutup.
Baca juga: Simak Strategi Investasi Aset Kripto Saat Bitcoin dalam Tren Bearish
Transhipment merupakan pemindahan barang atau kargo dari satu alat transportasi ke alat transportasi lainnya, atau kapal ke truk di lokasi perantara seperti pelabuhan atau terminal.
Terakhir Bhima bilang, dalam perjanjian tersebut isu transfer data personal keluar negeri mengancam keamanan data dan ekosistem digital.
Dengan kata lain, keputusan Mahkamah Agung AS yang membatalkan sebagian besar kebijakan tarif resiprokal Trump menjadi angin segar untuk Indonesia.
Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Seluruh rekomendasi berasal dari analis sekuritas. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.
Tag: #atur #ulang #strategi #investasi #tengah #sengkarut #aturan #tarif #trump