IHSG Berpotensi Rebound, Sentimen Moody’s Masih Batasi Ruang Gerak
- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan bergerak menguat terbatas pada perdagangan Rabu (25/2/2026), setelah terkoreksi 115 poin atau 1,37 persen ke level 8.280,83 pada Selasa kemarin.
Meski sentimen global mulai membaik, risiko eksternal dan ketidakpastian kebijakan dinilai masih membayangi pergerakan pasar domestik.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, memperkirakan IHSG berpotensi rebound dalam rentang terbatas dengan area support di 8.200 dan resistance di 8.330.
Baca juga: IHSG Ditutup Melemah 1,37 Persen ke Level 8.280,83
“Berdasarkan analisis teknikal, kami melihat IHSG berpotensi menguat terbatas dengan support dan resistance 8.200-8.330,” ujar Nico dalam analisis hariannya.
Menurutnya, sentimen positif datang dari Amerika Serikat.
Data US Conference Board Consumer Confidence menunjukkan kenaikan dari 89 menjadi 91,2, mencerminkan meningkatnya optimisme terhadap kondisi ekonomi, pasar tenaga kerja, dan prospek pendapatan.
Indeks ekspektasi juga naik dari 67,2 menjadi 72.
Meskipun peluang tetap optimis, kekhawatiran tetap ada terutama di tengah kehadiran pembatalan tarif, yang dianggap dapat mengurangi ketidakpastian global meskipun secara jangka pendek volatilitas mengalami kenaikan akibat Trump yang panik dan memaksa untuk terus memberikan tarif bagaimanapun caranya.
Hal ini yang membuat US Conf. Present Situation mengalami penurunan tipis dari sebelumnya 121.8 menjadi 120.
“Tapi itu hanya secara jangka pendek ya, karena secara jangka panjang pembatalan tarif tersebut terlihat positif adanya, dengan kehadiran data US Conf. Board Expectations yang mengalami kenaikan dari sebelumnya 67.2 menjadi 72. Indeks Conference Board umumnya berfokus pada kondisi pasar tenaga kerja, sedangkan metrik sentimen konsumen terpisah dari University of Michigan, yang di mana lebih menekankan pandangan tentang keuangan pribadi dan biaya hidup,” paparnya.
Meskipun demikian, keduanya sebagian besar saling mengikuti dalam beberapa tahun terakhir.
Indikator Michigan naik perlahan pada Februari karena optimisme di kalangan warga Amerika yang lebih kaya.
Sejalan dengan perbaikan sentimen tersebut, bursa saham AS kembali menguat.
Dow Jones ditutup naik 0,76 persen dan S&P 500 menguat 0,77 persen, ditopang pulihnya minat investor terhadap sektor kecerdasan buatan (AI). Kebangkitan Wall Street ini menjadi bekal positif bagi pergerakan pasar Asia, termasuk Indonesia.
Namun, pasar tetap mencermati perkembangan geopolitik di kawasan Asia.
Ketegangan antara China dan Jepang kembali meningkat setelah Tiongkok memasukkan 20 entitas perusahaan Jepang ke dalam daftar pantauan serta kontrol ekspor.
Langkah tersebut berpotensi memperketat izin ekspor untuk produk dengan aplikasi sipil dan militer.
Di sisi lain, Jepang masih sangat bergantung pada pasokan logam dan mineral penting dari China, yang menyumbang sekitar 70 persen kebutuhannya pada 2024.
Kondisi ini membuat pasar berharap respons Jepang tetap terukur agar tidak memicu eskalasi lebih lanjut.
Lebih jauh, dari dalam negeri, perhatian investor tertuju pada keputusan Moody’s Ratings yang menetapkan peringkat Baa2 (investment grade, risiko moderat) untuk obligasi yang akan diterbitkan oleh pemerintah Indonesia dalam denominasi CNH dan EUR yang diterbitkan melalui program global bond senilai 10 miliar dollar AS.
Obligasi tersebut merupakan kewajiban langsung, tanpa jaminan, dan bukan subordinasi dari pemerintah Indonesia, dengan dana hasil penerbitan digunakan untuk kebutuhan pembiayaan umum.
Peringkat ini sejalan dengan peringkat jangka panjang Indonesia di level Baa2 dengan outlook negatif.
Moody’s menilai peringkat tersebut didukung oleh ketahanan ekonomi Indonesia, termasuk kekayaan sumber daya alam dan demografi yang kuat untuk pertumbuhan jangka menengah.
Namun, Moody’s juga menyoroti meningkatnya risiko terhadap kredibilitas kebijakan dan kelembagaan akibat menurunnya konsistensi dan efektivitas komunikasi kebijakan, yang memicu ketidakpastian investor.
Jika volatilitas pasar saham dan nilai tukar berlanjut, hal ini berpotensi menekan daya tarik investasi dan meningkatkan biaya pinjaman pemerintah.
“Kami menilai status investment grade ini menjaga akses pendanaan Indonesia di pasar global dan mempertahankan basis investor institusi yang mensyaratkan peringkat layak investasi,” paparnya.
Namun, outlook negatif mencerminkan meningkatnya perhatian terhadap kredibilitas kebijakan dan kualitas kelembagaan, sehingga berpotensi menahan sentimen investor dalam jangka menengah.
Dari sisi dampak, peringkat yang tetap berada di investment grade mendukung stabilitas pasar obligasi dan menjaga minat terhadap Surat Utang Negara (SUN), meskipun spread dan yield masih berpotensi bertahan di level tinggi seiring premi risiko yang meningkat.
Jika ketidakpastian kebijakan dan volatilitas pasar berlanjut, biaya pinjaman pemerintah dapat meningkat dan memberi tekanan pada rupiah melalui potensi perlambatan arus modal masuk.
Selain itu, rating sovereign menjadi acuan bagi korporasi domestik dalam mengakses pendanaan global, sehingga perubahan outlook ini turut menjadi sinyal kewaspadaan bagi sektor swasta.
Ke depan, konsistensi kebijakan fiskal, pengendalian defisit, dan komunikasi kebijakan yang kredibel akan menjadi faktor kunci untuk menjaga stabilitas rating dan kepercayaan pasar.
Saham apa saja yang dapat dicermati pada perdagangan hari ini di Bursa Efek Indonesia?
Berikut rekomendasi dari analis.
Pilarmas Investindo Sekuritas:
PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) tercatat pada harga terakhir Rp 3.790 per saham. Adapun level support di 3.680, sementara resistance di 4.300 dengan target terdekat di Rp 4.280.
PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) diperdagangkan pada harga Rp 102 per saham. Saham ini memiliki level support 100 dan resistance 108, dengan target penguatan di Rp 107.
PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) berada pada harga Rp 1.550 per saham. Level support di 1.525 dan resistance di 1.615, dengan target terdekat di Rp 1.600.
MNC Sekuritas:
PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) ditutup pada harga Rp 428 per saham dan direkomendasikan speculative buy. Secara teknikal, ERAA saat ini berada pada bagian dari wave [iv] dalam struktur wave 1, yang mengindikasikan fase koreksi minor sebelum berpotensi melanjutkan penguatan.
PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) berada di posisi Rp 880 per saham dengan rekomendasi buy on weakness. Pergerakan MBMA dinilai berada pada bagian wave 4 dari wave (A), yang merepresentasikan fase konsolidasi sebelum peluang penguatan lanjutan apabila struktur koreksi selesai terbentuk.
PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) ditutup pada harga Rp 4.670 per saham dan juga direkomendasikan buy on weakness. RAJA membentuk bagian dari wave [iv] dari wave 1, yang berarti saham ini tengah berada dalam fase korektif jangka pendek dalam tren naik awal.
PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) berada pada harga Rp 7.375 per saham dengan rekomendasi buy on weakness. Saham ini teridentifikasi berada pada bagian wave [iv] dari wave C dalam wave (B), yang mengindikasikan fase koreksi lanjutan sebelum menentukan arah pergerakan berikutnya.
Baca juga: Paramount Skydance Naikkan Tawaran Akuisisi Warner Bros. Discovery Jadi 31 Dollar AS Per Saham
Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Seluruh rekomendasi berasal dari analis sekuritas. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.
Tag: #ihsg #berpotensi #rebound #sentimen #moodys #masih #batasi #ruang #gerak