''Broken Chair'' di Depan Kantor Dewan HAM PBB, Simbol Kerapuhan Sekaligus Kebrutalan Manusia
Monumen Broken Chair di depan Kantor Dewan HAM PBB, di Jenewa, Swiss, Selasa (24/2/2026).(KOMPAS.com/SINGGIH WIRYONO)
08:38
25 Februari 2026

''Broken Chair'' di Depan Kantor Dewan HAM PBB, Simbol Kerapuhan Sekaligus Kebrutalan Manusia

Sebuah kursi raksasa berdiri tegak tepat di Alun Bangsa-Bangsa atau Place des Nations di depan kompleks Markas Dewan Hak Asasi Manusia (HAM) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), di Jenewa, Swiss.

Kursi raksasa setinggi 12 meter ini tidak sempurna, sengaja dibuat dengan satu kaki rusak dan tiga kaki masih utuh menopang.

"Kursi yang patah adalah simbol dari kerapuhan dan kekuatan, ketidakpastian dan stabilitas, kebrutalan dan martabat,".

Itu merupakan sepenggal tulisan keterangan yang berada di bawah monumen Broken Chair yang dikutip Kompas.com pada Selasa (24/2/2026) di lokasi monumen.

Monumen ini merupakan suara atas korban senjata peledak khususnya ranjau sisa perang dingin yang masih terus terjadi hingga saat ini.

Baca juga: Keindahan Danau Jenewa Jadi Saksi Penikaman Ratu Austria

Monumen ini dibuat oleh Handicap Internasional dengan seniman Daniel Berset pada 1997.

Digagas sebagai aksi desakan kepada negara-negara seluruh dunia untuk melarang dan membersihkan ranjau yang tersisa pada era perang dingin.

Setelah perang, ranjau ini tidak pernah diangkut lagi oleh negara yang menaruhnya, salah satunya adalah Amerika Serikat dalam perang Vietnam.

Mereka menjadi penanam ranjau terbanyak, bukan hanya di wilayah Vietnam, tetapi juga di Kamboja yang saat itu merupakan medan tempur mereka.

Perang berakhir, ranjau masih tertanam.

Akibatnya, warga sipil yang beraktivitas khususnya di bidang pertanian sering menjadi korban.

Kecacatan adalah kerusakan paling kecil, tidak sedikit korban langsung meninggal dunia.

Tidak hanya Kamboja, dilansir dari National Geographic Indonesia, jutaan ranjau di hampir 80 negara masih tertanam dan aktif.

Baca juga: Air Mancur di Jenewa yang Jadi Objek Wisata: Berawal dari Ulah Tukang Ledeng

Tercatat pada tahun 2002 hampir 12.000 orang di seluruh dunia dilaporkan tewas atau cacat karena ranjau darat.

Perjanjian Ottawa, Kanada pada 1997 menjadi titik balik persetujuan internasional untuk menghancurkan ranjau yang ada.

Sebanyak 157 negara menjadi pihak dalam kesepakatan tersebut, termasuk Afghanistan, Liberia, Nikaragua, dan Rwanda.

Ironisnya, negara seperti Amerika Serikat yang paling banyak menjadi pelaku penanaman ranjau khususnya di Vietnam dan Kamboja menolak perjanjian Ottawa.

Posisi Amerika rumit.

Amerika Serikat tidak menggunakan ranjau darat antipersonel sejak 1991, tidak mengekspornya sejak 1992, dan tidak memproduksinya sejak 1997.

Baca juga: Keindahan Jenewa dari Puncak Gunung Saleve, The Balcony of Geneva...

Penghentian ranjau ini dilakukan setelah krisis ranjau dan peledak pada 1990.

Negara itu juga memiliki stok sekitar 10 juta ranjau darat, dan sebelum 1990-an, Amerika telah mengekspor 4,4 juta ranjau darat antipersonel, jumlah ranjau darat yang ada di dalam tanah tidak diketahui.

Kehadiran Broken Chair di depan Markas PBB menjadi pengingat bagi negara-negara di seluruh dunia untuk melindungi dan membantu korban sipil.

"Karya ini mengajak kita semua untuk mengecam hal-hal yang tidak dapat diterima, untuk membela hak-hak individu dan komunitas, serta menyerukan kompensasi yang layak bagi mereka (para korban)," isi tulisan di monumen Broken Chair.

Perjalanan monumen Broken Chair dari masa ke masa

Dilansir dari laman handicap-international.ch, Broken Chair didirikan pada 18 Agustus 1997 untuk menggalang dukungan negara-negara di seluruh dunia.

Baca juga: Dari Jakarta ke Jenewa, Tantangan Indonesia Pimpin Dewan HAM PBB

Dukungan ini diperlukan untuk mengakhiri krisis kemanusiaan yang disebabkan oleh ranjau antipersonel yang berubah menjadi ranjau antisipil setelah perang berakhir.

Dalam perjalanan waktu, keberadaan Broken Chair terancam hilang pada 2005, saat renovasi Place des Nations dilakukan.

Kursi itu hilang, kemudian dikembalikan pada tahun 2007 atas gelombang aspirasi publik yang besar.

Tampilan berbeda Broken Chair sempat terlihat pada 2008.

Pada sandaran kursi tertulis "Ban Cluster Bombs For Ever".

Tampilan baru ini sebagai bentuk dukungan penandatanganan Konvensi Oslo pada Desember 2008 sebagai larangan produksi, transfer, dan penimbunan amunisi tandan atau bom klaster.

Pada 2016, monumen Broken Chair juga dijadikan tempat kampanye menolak pengeboman warga sipil.

Baca juga: Kirim Pasukan ke Gaza, Menlu RI Tegaskan untuk Lindungi Warga Sipil Palestina

Kampanye ini berkaitan dengan penggunaan senjata peledak di daerah padat penduduk.

Aksi gencatan senjata di Jalur Gaza juga diperingati di kolong kursi Broken Chair pada 21 November 2023.

Desakan gencatan senjata bertuliskan "Cease Fire Now" berada di sisi bawah kursi.

Krisis kemanusiaan dan hilangnya nyawa secara besar-besaran di Jalur Gaza dan Israel menjadi latar belakang aksi tersebut.

Meski terletak di kota dengan julukan "Ibu Kota Perdamaian", monumen Broken Chair tidak bebas dari aksi vandalisme.

Pada 2024, satu pilarnya sempat dirusak hingga terlihat baret-baret.

Kerusakan ini segera direstorasi pada 2025.

Tag:  #broken #chair #depan #kantor #dewan #simbol #kerapuhan #sekaligus #kebrutalan #manusia

KOMENTAR