Psikolog: Pura-pura Miskin Bisa Picu Kecemasan dan Hambat Empati
Ilustrasi kebiasaan sederhana orang kaya.(Freepik/Siraphol s)
10:05
25 Februari 2026

Psikolog: Pura-pura Miskin Bisa Picu Kecemasan dan Hambat Empati

- Fenomena orang yang sebenarnya hidup mapan sejak lahir tapi mengubah kisah hidup agar tampak lebih “berjuang”, tak hanya berdampak pada cara seseorang dipandang publik, tetapi juga pada kondisi psikologisnya sendiri.

Kebiasaan merekayasa latar belakang demi citra tertentu dapat membawa konsekuensi emosional yang tidak sederhana.

Pendiri layanan kesehatan mental Cup of Stories, psikolog Fitri Jayanthi, M.Psi., menjelaskan bahwa kebiasaan tersebut dapat menimbulkan dampak psikologis jangka panjang.

Baca juga: Seperti Film Materialists, Salahkah jika Perempuan Ingin Memilih Pasangan Kaya?

Dampak psikologis berbohong tentang privilese

1. Rentan cemas

Salah satu dampak psikologis jangka panjang dari kebiasaan mengubah kisah hidup tersebut adalah rentan cemas.

“Secara psikologis, kebiasaan ini cenderung dapat menimbulkan kecemasan jangka panjang,” ungkap psikolog klinis ini saat dihubungi pada Selasa (24/2/2026).

Menurut Fitri, ketika seseorang terus-menerus menjaga konsistensi cerita yang direkayasa, muncul tekanan internal agar tidak “terbongkar”. Tekanan inilah yang berpotensi berkembang menjadi kecemasan.

Baca juga: Mengapa Cerita Orang Sukses yang Dulunya Hidup Susah Lebih Disukai?

2. Pengaruhi kualitas hubungan sosial

Selain itu, kecenderungan ini juga disebut dapat memengaruhi kualitas hubungan sosial karena hubungannya tidak dibangun atas dasar kejujuran.

Relasi sosial yang dibangun di atas narasi yang tidak autentik berisiko kehilangan kedalaman. Kepercayaan dan keterbukaan menjadi sulit tercapai jika fondasinya bukan kejujuran.

3. Mengalami penurunan rasa percaya diri

Psikolog Shierlen Octavia, M.Psi., menambahkan bahwa dalam jangka panjang, individu tersebut bisa mengalami penurunan rasa percaya diri terhadap hal-hal baik yang sebenarnya ia miliki, di samping kecemasan karena takut ketahuan atau merasa menampilkan diri yang otentik.

Baca juga: Pura-pura Jujur demi FYP

4. Menghambat empati

Psikolog klinis di NALA Mindspace ini melanjutkan, kebiasaan mengubah kisah hidup dari berprivilese menjadi pura-pura miskin, dapat menghambat pengembangan empati yang sehat.

“Pola ini bs menghambat empati yang sehat karena bukannya belajar memahami penderitaan orang lain, seseorang malah jadi ‘mengklaim’ penderitaan yang sebenarnya bukan pengalaman pribadi,” kata Shierlen saat dihubungi pada Selasa.

Lantas, apakah kebiasaan merekayasa latar belakang dapat membuat seseorang cenderung berbohong dalam aspek lain kehidupannya?

Fitri menilai, hal tersebut tidak serta-merta terjadi. Menurutnya, kebohongan biasanya dipicu oleh rasa takut tertentu.

“Misalnya takut tidak diterima oleh orang lain. Jika berhadapan dengan situasi yang mirip, yang mana ia takut tidak diterima oleh orang tertentu, maka ia cenderung akan melakukan hal yang sama,” jelas dia.

Baca juga: Takut Dicap Sombong, Orang Mapan Pura-pura Pernah Hidup Susah

Namun, ketika situasi tersebut tidak lagi memicu rasa takut, kecenderungan untuk berbohong pun dapat berkurang.

Shierlen juga menekankan bahwa kebiasaan ini tidak otomatis mengubah karakter seseorang menjadi pembohong dalam segala hal.

“Bisa saja dia terpaksa bohong untuk menutupi latar belakangnya supaya sesuai sama narasi dari keluarga kurang mampu, tapi enggak serta-merta membuat dia jadi berbohong untuk hal-hal lainnya,” jelas dia.

Menurut Shierlen, kebohongan yang muncul lebih bersifat situasional, sebagai upaya untuk merasionalisasi cerita yang sudah terlanjur dibangun.

“Jadi mungkin akan berbohong untuk merasionalisasi cerita, tapi bukan karena perubahan karakter melainkan karena takut, malu, atau butuh diterima,” pungkas dia.

Baca juga: Mengapa Orang yang Punya Privilage Suka Mengaku Pernah Hidup Susah?

Tag:  #psikolog #pura #pura #miskin #bisa #picu #kecemasan #hambat #empati

KOMENTAR