Runtuhnya Panggung Dramaturgi Ridwan Kamil
Mantan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil berjalan menuju ruang pemeriksaan di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Selasa (2/12/2025). Penyidik KPK melakukan pemanggilan kepada Ridwan Kamil untuk diperiksa sebagai saksi dalam kapasitasnya semasa menjabat sebagai Gubernur Jawa Barat dalam kasus dugaan korupsi pengadaan iklan pada Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten atau Bank BJB periode 2021-2023 yang diperkirakan merugikan keuangan negara sekitar Rp222 miliar.
11:50
8 Januari 2026

Runtuhnya Panggung Dramaturgi Ridwan Kamil

BELAKANGAN ini, Ridwan kamil banyak disorot publik dengan dinamika perjalanan kariernya. Sejauh ini, publik mengenal Ridwan kamil sebagai pemimpin kreatif, humanis dan komunikatif.

Ia mampu membangun personal branding sebagai pemimpin yang dekat dengan rakyatnya.

Dalam demokrasi elektoral, penentu kemenangan dalam sistem kontestasi adalah suara mayoritas, tentu sangat relevan ketika seorang politisi membangun branding politik yang kuat.

Oleh karena itu, sosok pemimpin yang mampu membangun personal branding yang baik biasanya akan berkorelasi dengan tingginya popularitas dan elektabilitas.

Media sosial tidak hanya sekadar digunakan untuk menyampaikan pesan kepada publik. Melalui media sosial, seorang politisi bisa membangun citra dan reputasi di hati khalayak.

Ada 8 hukum personal branding yang diperkenalkan oleh Peter Montoya, berkorelasi dengan penguatan secara personal seorang aktor.

Penguatan secara personal itu, yakni spesialisasi, kepemimpinan, kepribadian, perbedaan, visibilitas, kesatuan, keteguhan dan nama baik.

Dari depalan hukum personal branding itu tentu tidak berdiri sendiri, melainkan saling berinteraksi dalam bentuk kekuatan personal yang utuh dan berkelanjutan.

Ridwan Kamil adalah sosok pemimpin yang memperoleh perhatian lebih dari khalayak, baik masyarakat umum maupun akademisi. Bahkan penelitian tentang personal branding Ridwan Kamil sudah banyak dilakukan oleh peneliti atau akademisi di berbagai kampus.

Jika dikorelasikan dengan konsep personal branding Peter Montoya, banyak hasil penelitian menilai sosok Ridwan Kamil memiliki spesialisasi sebagai seorang arsitek ternama, kepemimpinan kreatif dan inovatif, kepribadian interaktif dan komunikatif.

Selain itu, sosok yang berbeda dengan gaya kepemimpinan pada umumnya, memiliki visibilitas yang dibuktikan aktif membangun branding personal di media sosial, dan konsep kesatuan dibuktikan dengan memilliki integritas dan reputasi di mata khalayak.

Oleh karena itu, tidak heran kepemimpinan Ridwan Kamil pernah memperoleh pengakuan penghargaan nasional kota dan gubernur berprestasi.

Di sisi lain, Ridwan Kamil dan keluarga selalu menunjukkan citra keluarga harmonis. Citra keluarga harmonis dan kepemimpinan tentu sangat berkorelasi dan menguatkan citra personal branding.

Dalam komunikasi politik, citra keluarga akan memperkuat reputasi kepemimpinannya. Seorang pemimpin yang sukses dalam membangun bahtera rumah tangga, bisa menjadi titik pijak dalam membangun pemerintahan yang berintergritas.

Dramaturgi politik dan krisis kepercayaan

Dunia politik kerapkali dikaitkan dengan panggung dramaturgi. Seorang aktor politik memiliki sisi panggung depan (front stage) dan panggung belakang (back stage).

Panggung depan ketika sang aktor berhadapan secara langsung dengan rakyatnya. Sementara panggung belakang, ketika sang aktor berada dalam keadaan yang tidak tampak oleh publik.

Keduanya memiliki potensi tidak selaras, panggung depan dan panggung belakang bisa saja bertolak belakang.

Kajian dramaturgi ini memang kerap kali digunakan untuk mengidentifikasi seorang politisi atau pejabat publik.

Teori dramaturgi ini mulanya dikemukakan oleh Erving Goffman, seorang sosiolog dari University of Calivornia, Berkeley yang dijelaskan secara gamblang di dalam bukunya yang berjudul “ The Presentation of Self in Everyday Life".

Panggung dramaturgi merupakan panggung ruang sosial menyerupai pertunjukkan sandiwara. Panggung di mana seorang aktor mencitrakan perannya demi mendapatkan apresiasi dari khalayak.

Citra dan reputasi yang selama ini dibangun tidak selalu berkolerasi dengan realitas yang sebenarnya, melainkan hasil dari proses seleksi, pembingkaian, dan pengelolaan impresi diri yang terencana dengan baik.

Dalam bahasa komunikasi politik, panggung ini mempertunjukkan simbol, narasi, gestur yang diorganisir untuk menunjukkan sosok ideal di hadapan khalayak.

Saat realitas di balik panggung mulai terungkap dan memperlihatkan ketidaksesuaian dengan peran yang dimainkan dan ditampilkan di publik selama ini, maka citra dan reputasi kehilangan arah dan maknanya.

Publik menuntut akuntabilitas moral kepada aktor politik yang selama ini menjadi teladan. Pada tahap inilah panggung dramaturgi mengalami keruntuhan, karena tingkat kepercayaan publik terhadap Ridwan Kamil semakin tergerus.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan panggung dramaturgi Ridwan Kamil runtuh.

Pertama, perselingkuhan yang menjadi konsumsi publik sehingga menyebabkan terjadinya erosi kepercayaan publik.

Kehidupan personal seorang tokoh atau pemimpin tidak sepenuhnya berada di ruang privat, karena segala sikap dan perilakunya akan memperoleh perhatian penting dari khalayak.

Dinamika masalah personal Ridwan kamil, terlepas dari upaya klarifikasi apapun, telah meruntuhkan citra dan reputasinya sebagai sosok pemimpin harmonis dalam mengelola keluarga yang selama ini menjadi bagian penting dari narasi diri seorang Ridwan Kamil.

Menurut penelitian Pittmen (1989), perselingkuhan (infidelity) bisa dipersepsikan sebagai bentuk pelanggaran terhadap kepercayaan, penghianatan terhadap ikatan hubungan, serta pembatalan atas kesepakatan yang telah disepakati bersama.

Kedua, keterkaitan dengan kasus dugaan korupsi Bank BJB yang mencuat dalam pemberitaan media massa.

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) saat ini sedang mendalami dugaan dana nonbudgeter yang dikelola Divisi Corporate Secretary bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten (Bank BJB) senilai 200 miliar mengalir ke mantan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil (Kompas.com).

Masalah ini tidak hanya sekadar persoalan privat, tetapi integritas seorang pemimpin yang terkait dengan tata kelola pemerintahan yang bersih dan akuntabel.

Praktik korupsi yang melibatkan pejabat selama ini selalu mendapatkan “kutukan” dari khalayak yang tidak akan pernah mendapatkan pengampunan dan toleransi dari rakyat.

Ketika seseorang terseret kasus dugaan korupsi, personal branding yang dibangun selama puluhan tahun langsung runtuh. Citra pemimpin bersih, kreatif dan bertanggung jawab mendadak dipertanyakan publik.

Pada tahap ini, panggung dramaturgi runtuh dan kehilangan kepercayaan publik yang menjadi fondasi utama dalam hubungan antara Ridwan Kamil dan masyarakat.

Oleh karena itu, ketika masalah ini hadir dalam waktu bersamaan, publik tidak akan memandang sebagai peristiwa yang berdiri sendiri, melainkan serangkaian persepsi yang selaras dengan realitas.

Pada titik ini panggung dramaturgi kehilangan arah, personal yang dikonstruksi melalui simbol, narasi dan performa komunikasi politik tidak mampu menahan retaknya reputasi dan kepercayaan publik.

Demokrasi dan etika kepemimpinan

Runtuhnya panggung dramaturgi seorang pemimpin tidak hanya berimplikasi pada individu saja, tetapi juga integritas dan kualitas demokrasi di mata publik.

Persoalan etika dan moral juga bisa memengaruhi Indek Demokrasi Indonesia yang selama ini variabel etika dan partisipasi khalayak menjadi tolok ukur dalam demokrasi di suatu negara.

Ketika ekspektasi publik tidak selaras dengan citra dan reputasi seorang pemimpin, maka akan terkikis kepercayaan kepada seorang aktor politik dan lembaga politik secara keseluruhan.

Kemudian politik dipersepsikan sebagai ruang drama yang selalu tidak selaras dengan apa yang ditampilkan di ruang publik.

Dalam jangka panjang, hal ini akan semakin menguatkan sinisme publik, menurunkan kepercayaan dan tingkat partisipasi publik.

Kasus Ridwan Kamil ini juga menegaskan bahwa seorang aktor politik tidak cukup hanya tampil di ruang formal dan media sosial saja. Kehidupan personal dan relasi sosial akan menjadi standar dari penilaian khalayak.

Melalui perkembangan media digital, sebenarnya panggung belakang sesungguhnya sulit disembunyikan.

Oleh karena itu, personal branding harus dilandasi dengan etika dan moral yang kokoh. Tanpa itu semua, strategi komunikasi politik melalui personal branding akan runtuh tinggal menunggu momentumnya.

Oleh karena itu, personal branding tidak lagi dimaknai sekadar pencitraan diri dalam jangka pendek, melainkan upaya konsistensi dalam membangun nilai, sikap, perilaku dan tanggung jawab moral.

Dalam demokrasi digital, reputasi di media sosial sangat dinamis dan bisa berubah kapanpun. Sekali tercoreng maka akan sulit, bahkan mustahil dipulihkan kembali.

Pelajaran penting dari kasus Ridwan Kamil bahwa demokrasi tidak hanya soal kecakapan komunikasi dalam membangun citra dan reputasi, tetapi juga konsistensi etika dan moral seorang aktor politik.

Ketika terjadi penyimpangan personal dan penyalahgunaan kekuasaan terjadi, maka kepercayaan publik akan runtuh dan legitimasi politik akan tergerus.

Tag:  #runtuhnya #panggung #dramaturgi #ridwan #kamil

KOMENTAR