Kado Megawati Soekarnoputri
Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri menyampaikan pidato penutupan Rakernas I PDI Perjuangan di Jakarta, Selasa (12/1/2016). PDI Perjuangan secara tegas akan terus berjuang untuk memastikan, mengawal, mengarahkan dan mengamankan kebijakan-kebijakan politik Pemerintah secara nasional agar tetap berpijak dalam nilai-nilai Pancasila. TRIBUNNEWS/HERUDIN(TRIBUNNEWS/HERUDIN)
06:02
25 Januari 2024

Kado Megawati Soekarnoputri

HAKIM Agung Amerika Serikat yang amat terkenal itu, Oliver Wendell Holmes, pada 7 Maret 1931, berusia 90 tahun. Ia menjadi hakim selama 30 tahun dan mengambil putusan sebanyak 173 kasus.

Rakyat Amerika Serikat memberinya pujian selangit. Orang mengagumi sikap dan integritasnya, menjaga Konstitusi.

Ia merespons kekaguman orang dengan pernyataan singkat: “To live is to function.” Fungsikanlah dirimu agar hidupmu berarti. Begitu prinsip Holmes yang dipegangnya erat-erat.

Megawati Soekarnoputri, memperingati ulang tahunnya yang ke-77, tanggal 23 Januari 2024. Peringatan ulang tahun Presiden RI yang ke 5 tersebut, tidak disertai dengan kado ulang tahun yang menggunung.

Ia justru memberi kado kepada anak-anak bangsa ini: kado tentang perangai dalam berdemokrasi.

Megawati mempersembahkan kado kepada anak-anak bangsa tentang daya tahan dalam merawat Konstitusi. Bukan mempreteli Konstitusi.

Daya tahannya dalam berjuang untuk demokrasi dan Konstitusi, adalah refleksi dari tekadnya yang membatu, memfungsikan (to function) dirinya buat bangsanya.

Jejak-jejak Megawati dalam mewujudkan demokrasi, sangat jelas. Ia merangkak dari bawah, penuh nestapa. Merangkak dengan peluh dan derita batin.

Bersama kader-kader yang masih loyal pada perjuangan demokrasi, Megawati bertahan dengan sisa-sisa tenaga dan suara yang mungkin sudah serak, berjuang melumpuhkan tirani kekuasaan Orde Baru. Ia sukses.

Kado yang diberikan Megawati buat bangsanya, adalah pelajaran bahwa memperjuangkan dan merawat demokrasi tidak segampang yang dikira. Butuh daya tahan luar biasa (endurance).

Di sinilah Megawati jadi jagoan. Daya tahannya dalam berdemokrasi sangat teruji. Pelbagai cuaca dan iklim telah ia lewati.

Dengan daya tahan dalam memperjuangkan demokrasi, Megawati membobol daya tahan benteng pertahanan Orde Baru yang begitu kokoh dan perkasa. Ia menjebol keangkuhan kekuasaan Orde Baru yang mempreteli demokrasi.

Daya tahan Megawati lahir dari keyakinannya. Bukan digelitik oleh syahwat kekuasaan tanpa mata dan hati. Itulah sebabnya, Megawati mampu melintasi terowongan waktu yang begitu panjang dalam memperjuangkan keyakinannya. Ia tahan banting.

Dengan prinsip daya tahan membatu itulah yang sangat memengaruhi penampakan silaturahim Megawati. Dalam pelbagai ikhwal, Megawati sulit untuk berubah, pelik untuk bergeser. Karena itu, ia acapkali dilebel sebagai orang kaku. Penyimpan rasa.

Yang terjadi sesungguhnya, Megawati menjalani hidupnya dalam politik, sungguh-sungguh dalam atmosfer serba awas yang mengharuskan kehati-hatian ekstra.

Itulah sebabnya Megawati tak gampang mengubah posisi dan sikap. Ia memang cenderung “kepala batu.”

Namun justru di situlah kekuatannya, karena dengan sikap seperti itu, ia merawat konsistensinya terhadap apa yang dinilai benar.

Ia menjaga sikap dan posisi dengan prinsip, menolak didesak dan dikibuli, tetapi di saat yang berbarengan, ia juga menampik untuk mendesakkan kehendak dan mengibuli.

Kini, Megawati memasuki fase berikutnya dalam kehidupan demokrasi. Hari-hari belakangan ini, Megawati meradang, berpekik dengan suara lantang. Tidak samar dan saru.

Ia terang-terangan mengekspresikan diri dan keyakinannya bahwa demokrasi yang diperjuangkan dan dirawatnya, hendak dikubur. Demokrasi dalam status penenggelaman.

Dalam pemilihan umum, terutama pemilihan presiden pada tahun ini, Megawati merasa terusik dengan pemaksaan kehendak untuk memenangkan seseorang atau pasangan tertentu. Pelbagai kejadian di lapangan yang mendukung perasaan dan keyakinannya itu.

Pengalaman empirik yang dilewatinya dalam kehidupan berdemokrasi, mengasah nalurinya bahwa ada ancaman serius bagi demokrasi.

Pengalaman buram dalam berdemokrasi yang mengitarinya kini, justru jauh lebih menindih dan menyakitkan dibanding di era Orde Baru.

Pemaksaan kehendak politik telah mempreteli Konstitusi dengan cara mendiktekan keinginan pada Mahkamah Konstitusi.

Dalam konteks ini, Megawati masih sukses merawat Konstitusi ketika ada upaya memperpanjang kekuasaan Jokowi. Megawati menolak menambah masa kekuasaan Jokowi.

Namun, Megawati tidak sukses mencegah Mahkamah Konstitusi menjadi kuda tunggangan dan alat pembenar keputusan politik menjadikan putra Jokowi, Gibran Rakabuming, sebagai calon wakil presiden.

Megawati menyaksikan betul, bagaimana penekanan pada figur-figur politik tertentu untuk mengurungkan niat menjadi pemimpin bangsa dan mencalonkan putra Jokowi, adalah skenario kejam terhadap kelangsungan demokrasi.

Megawati juga mencium aroma tidak sedap bagi penggunaan kedaulatan rakyat karena mobilisasi aparat dan organ negara untuk memenangkan pasangan tertentu.

Semua itu membuat Megawati kembali meradang dan berpekik keras. Pekiknya adalah ikhtiar untuk memfungsikan diri bagi rakyat Indonesia.

Dalam usianya yang memasuki bilangan 77 tahun, justru membuatnya kian energik untuk merawat demokrasi.

Mungkin inilah yang disebut “The old soldier never dies.” Semua itu lantaran keyakinan dan idealismenya mengenai kedaulatan rakyat.

Demi keyakinannya, ia tidak menawar, tetapi melawan siapa pun, termasuk kawan seiring.

Dalam hari ulang tahunnya sekarang ini, kita tidak memberi kado, tetapi diberi kado oleh Megawati.

Kado tentang belajar memiliki daya tahan untuk membela dan merawat demokrasi. Siapa pun yang berniat dan berihtiar menerjang demokrasi, ia berhak untuk dilawan.

Justice Holmes sangat benar: “For live is to function. That is all there is to living.”

Selamat ulang tahun, 23 Januari 2024, Megawati Soekarnoputri.

Tag:  #kado #megawati #soekarnoputri

KOMENTAR