Belanja Tanpa Plastik: Seberapa Efektif Tas Reusable Kurangi Sampah?
- Sebuah perusahaan ritel konsisten menekan penggunaan kantong plastik belanja sekali pakai secara signifikan sejak 2023.
- Penggunaan kantong plastik di Lawson Indonesia telah turun drastis menjadi hanya 0,007 persen pada tahun 2025.
- Perusahaan mendorong konsumen beralih menggunakan tas belanja guna ulang sebagai bagian strategi keberlanjutan.
Tumpukan sampah plastik masih menjadi pekerjaan rumah besar di Indonesia. Di tengah meningkatnya transaksi ritel modern, penggunaan kantong belanja sekali pakai kerap luput dari perhatian.
Memperingati Hari Sampah Nasional 21 Februari 2026, Lawson Indonesia kembali menegaskan komitmennya dalam mengurangi penggunaan kantong belanja plastik di seluruh gerainya. Langkah ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan bagian dari strategi keberlanjutan yang telah dijalankan secara konsisten dalam beberapa tahun terakhir.
Data internal perusahaan menunjukkan tren penurunan yang signifikan. Pada 2023, dari jutaan transaksi pelanggan, penggunaan kantong plastik berhasil ditekan hingga 0,4 persen. Angka itu kembali turun pada 2024 menjadi 0,065 persen, meskipun jumlah transaksi meningkat.
Sepanjang 2025, persentasenya semakin kecil, yakni hanya 0,007 persen dari total transaksi. Capaian tersebut menunjukkan bahwa perubahan perilaku konsumen bisa terjadi ketika didorong secara konsisten.
PerbesarBelanja dengan tas reusable. (Dok. Istimewa)Lawson Indonesia mendorong pelanggan untuk beralih ke tas belanja guna ulang sebagai alternatif yang lebih ramah lingkungan. Berbagai varian tas belanja serta kolaborasi tote bag disediakan di toko sebagai opsi pengganti kantong plastik sekali pakai. Upaya ini tidak hanya menyasar aspek operasional, tetapi juga membangun kebiasaan baru di tingkat konsumen.
Corporate Communication Lawson Indonesia, Firly Firlandi, menegaskan bahwa komitmen terhadap lingkungan bukan sekadar slogan. “Komitmen lingkungan bukan hanya slogan — ini adalah tanggung jawab kepada generasi mendatang. Langkah kecil seperti memilih tas belanja reusable atau menolak kantong plastik pada transaksi harian dapat memberikan kontribusi besar jika dilakukan bersama-sama,” ujarnya.
Pengurangan kantong plastik ini juga sejalan dengan target nasional dalam pengelolaan sampah, yang kini diarahkan pada pencegahan dan pengurangan, bukan sekadar pengumpulan dan pembuangan. Pergeseran menuju ekonomi sirkular menuntut pelaku usaha untuk mengambil peran lebih aktif dalam meminimalkan limbah dari hulu.
Di sektor ritel, kebijakan semacam ini menunjukkan bahwa perubahan bisa dimulai dari keputusan sederhana di meja kasir. Ketika konsumen memilih menolak kantong plastik, ada dampak kolektif yang tercipta. Konsistensi tersebut menjadi bagian dari ekosistem yang lebih luas dalam mengurangi beban lingkungan.
Melalui berbagai inisiatif berkelanjutan, mereka berharap dapat terus berkontribusi dalam menciptakan sistem ritel yang lebih bertanggung jawab. Tantangan pengelolaan sampah plastik memang belum selesai, tetapi penurunan angka penggunaan kantong plastik hingga mendekati nol persen menunjukkan bahwa kolaborasi antara pelaku usaha dan konsumen dapat menghasilkan perubahan nyata.
Tag: #belanja #tanpa #plastik #seberapa #efektif #reusable #kurangi #sampah