Puasa Melatih Kesabaran, Psikiater Jelaskan Cara Otak Mengendalikan Emosi
Ilustrasi puasa. Puasa ternyata melatih bagian otak yang berfungsi sebagai pengendali emosi sehingga respons menjadi lebih tenang dan terarah.(Freepik)
11:10
22 Februari 2026

Puasa Melatih Kesabaran, Psikiater Jelaskan Cara Otak Mengendalikan Emosi

Puasa tidak hanya berdampak pada tubuh, tetapi juga membantu melatih kemampuan seseorang dalam mengendalikan emosi.

Psikiater Bidang Pengabdian Masyarakat PP-PDSKJI, dr. Lahargo Kembaren, SpKJ, menjelaskan bahwa puasa merupakan latihan pengendalian diri yang berpengaruh pada kestabilan emosi.

Dalam keterangan yang diterima Kompas.com pada Kamis (19/2/2025), ia menyampaikan bahwa kebiasaan menahan lapar dan berbagai dorongan selama puasa melatih otak agar tidak bereaksi secara spontan.

Baca juga: Puasa Bisa Bantu Detoks Jiwa, Psikiater Ungkap Dampaknya bagi Mental

Apa itu regulasi emosi?

Regulasi emosi adalah kemampuan untuk mengelola perasaan dengan baik tanpa kehilangan kendali.

Setiap orang bisa merasa marah, kecewa, cemas, atau lelah. Masalah muncul ketika emosi tersebut langsung dilampiaskan tanpa dipikirkan terlebih dahulu.

Puasa mengajarkan seseorang untuk menahan dorongan, termasuk dorongan emosional. Rasa lapar dan tidak nyaman tetap dirasakan, tetapi tidak langsung dituruti. Proses inilah yang melatih pengendalian diri secara bertahap.

“Puasa melatih hati untuk merespons dengan sadar, bukan sekadar bereaksi,” ujar dr. Lahargo.

Baca juga: Puasa Bisa Bikin Gula Darah Naik, Ini Peringatan Dokter Diabetesi

Peran otak dalam mengendalikan emosi

Ilustrasi otak. Puasa ternyata melatih bagian otak yang berfungsi sebagai pengendali emosi sehingga respons menjadi lebih tenang dan terarah.Freepik Ilustrasi otak. Puasa ternyata melatih bagian otak yang berfungsi sebagai pengendali emosi sehingga respons menjadi lebih tenang dan terarah.

Lahargo menjelaskan bahwa kemampuan menahan dorongan berkaitan dengan bagian otak yang disebut prefrontal cortex.

Bagian otak ini berfungsi sebagai pengendali atau “rem” emosi. Ketika seseorang menahan diri, bagian otak tersebut bekerja lebih aktif.

Kondisi ini membantu seseorang berpikir lebih dulu sebelum bertindak. Reaksi yang biasanya spontan menjadi lebih terkontrol dan terarah.

Latihan ini tidak hanya berlaku saat menahan lapar, tetapi juga saat menghadapi konflik atau situasi yang memancing emosi.

Baca juga: Dokter Ingatkan Bahaya Olahraga Terlalu Berat Saat Puasa, Bisa Picu Dehidrasi dan Cedera

Menunda reaksi, bukan memendam perasaan

Menahan diri saat puasa bukan berarti menyimpan emosi tanpa penyelesaian. Regulasi emosi berarti memberi waktu sejenak sebelum merespons.

Seseorang tetap dapat menyadari bahwa dirinya sedang marah atau lelah, tetapi memilih cara yang lebih tepat untuk menyampaikannya.

Langkah sederhana seperti menarik napas perlahan atau menunda membalas pesan ketika sedang kesal dapat membantu mengurangi konflik.

Jeda singkat tersebut memberi kesempatan bagi pikiran untuk lebih tenang.

Dampak positif bagi kesehatan mental

Kemampuan mengendalikan emosi sangat penting bagi kesehatan mental.

Orang yang mampu mengatur reaksi cenderung lebih stabil dalam mengambil keputusan. Kontrol diri yang baik juga membantu menjaga hubungan sosial tetap harmonis. Puasa menjadi latihan nyata untuk membangun kebiasaan tersebut.

Menahan dorongan setiap hari selama puasa membantu memperkuat disiplin dan kesadaran diri.

Kemampuan mengatakan “cukup” pada dorongan sesaat menjadi dasar penting dalam menjaga keseimbangan emosi.

Lahargo menegaskan bahwa manfaat ini akan terasa jika puasa dijalani dengan kesadaran dan pemahaman.

Puasa dapat menjadi momen untuk melatih emosi agar lebih stabil dan respons menjadi lebih bijak dalam kehidupan sehari-hari.

Baca juga: Jangan Langsung Olahraga Setelah Berbuka Puasa, Ini Aturan Amannya Menurut Dokter

Tag:  #puasa #melatih #kesabaran #psikiater #jelaskan #cara #otak #mengendalikan #emosi

KOMENTAR